Event

Didukung Astra Grup, Empat Pilar di KBA Rappocini Terus Berkembang


KBA BURASA -- Sultan Daeng Liwang (kiri) salah seorang tokoh pendorong lahirnya KBA Burasa bersama Yusuf, salah seorang tokoh masyarakat setempat.

MAKASSAR, BKM — Kampung berseri Astra (KBA) Budaya Rappocini Sehat dan Aman (Burasa), Kelurahan Rappocini, Kecamatan Rappocini, Kota Makassar, yang digagas Astra Grup sejak tahun 2015 telah memberi multiefek kepada masyarakat. Tidak saja kepada 1.500-an kepala keluarga yang bermukim di RW 01 dan ORW 4, tapi juga warga di RW-RW sekitarnya.
Empat pilar yang menjadi modal bagi ORW 01 dan ORW 04, Kelurahan Rappocini, didapuk menjadi kampung berseri oleh Astra, masing-masing pilar Pendidikan, Kewirausahaan, Lingkungan, dan Kesehatan, hingga kini tetap eksis.
Bahkan, cenderung memperlihatkan suatu peningkatan. Tidak saja pada jumlah kepesertaan atau keterlibatan masyarakat setempat. Juga pada unit kegiatan yang dikerjakan.
Pilar kesehatan misalnya. Kehadiran Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu), telah memberi manfaat besar. Terutama kepada ibu dan anak balitanya. Apalagi dengan adanya bantuan perlengkapan kesehatan dari Astra, telah membantu pengelola Posyandu dalam memaksimalkan pelayanannya kepada masyarakat, tidak saja kepada ibu hamil, bayi, dan balita, juga masyarakat yang ingin mengetahui kadar gula darahnya, kolesterol, dan tensinya.
”Bantuan dari Astra untuk Posyandu ini sudah cukup banyak. Di antaranya alat
pengukur tensi, alat pengukur gula darah, alat pengukur kolesterol, dan timbangan,”
kata ibu Dani, didampingi sejumlah ibu-ibu pengurus Posyandu dan Ketua LPM
Kelurahan Rappocini, Sultan Daeng Liwang, saat menerima rombongan pewarta Astra dan para blogger di KBA Burasa, Jalan Rappocini, Kelurahan Rappocini, Kecamatan Rappocini, beberapa hari lalu.
Begitu pula pilar pendidikan, telah mendapat tempat di hati warga. Keberadaan tempat pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Babul Jannah di lorong 3. PAUD yang dulunya berbentuk Taman Kanak-kanak (TK) ini, didirikan sepasang suami isteri, Haryadi Tuwo dan Najmiah. Namun setelah keduanya meninggal dunia, pengelolaan PAUD ini diteruskan anaknya,Raodah. Meski anak-anak yang datang belajar ke tempat ini hanya sekitar sepuluhan orang, tapi itu tidak menyurutkan semangat pengabdian Raodah. Apalagi, mayoritas anaka-anak yang datang ke tempat PAUD Babul Jannah berasal dari keluarga kurang mampu.
Raodah mengakui, semangat belajar dari anak-anak asuhnya telah menjadi
penyemangatnya untuk menjaga eksistensi dari PAUD ini. Apalagi setelah adanya bantuan dan dukungan dari Astra Grup. Bantuan yang diterima dari Astra tidak saja berupa sarana buku bacaan. Juga, tenaga pengajarnya senantiasa ditingkatkan kemampuannya. Sehingga kualitas para anak didiknya dapat pula meningkat dan mengikuti perkembangan yang ada.
Di Pilar Lingkungan, Astra Grup bersama warga setempat mengembangkan dua perbankan. Yakni bank sampah dan bank minyak jelantah. Bank sampah sendiri hadir hampir ditiap RW di Kota Makassar. Sedangkan bank minyak jelantah atau minyak goreng bekas penggorengan hanya dapat ditemukan di KBA Burasa.
Hadirnya bank minyak jelantah ini juga tidak terlepas dari dukungan yang diberikan Astra Grup. Di antaranya bantuan jerigen penampungan di tempat bank minyak jelantah yang terletak di Posyandu KBA Burasa. Juga jerigen penampungan yang dititip di rumah warga yang notabene adalah anggota bank minyak jelantah ini.
”Jerigen penampungan ini adalah bantuan dari Astra. Untuk jerigen besar digunakan menampung minyak jelantah dari para anggota kami yang juga adalah warga di RW 01 dan RW 04. Begitu pula dengan jerigen penampungan yang dipinjamkan kepada para anggota adalah bantuan dari Astra. Untuk satu kilogram minyak jelantah kami nilai seharga Rp2.500. Di sini, pembayaran tidak lakukan secara tunai berbentuk uang. Tapi minyak jelantah ini bisa ditukarkan dengan minyak goreng murni. Misal kalau minyak jelantahnya sudah mencapai nilai Rp9.000, maka bisa ditukarkan dengan minyak goreng murni ukuran gelas seperti ini. Tapi jika belum, maka bisa disimpan dan selanjutnya dicatat dalam buku tabungan anggota. Minyak jelantah yang sudah terkumpul banyak, akan diambil GEN Oil, sebuah perusahaan yang memang bergerak dibidang pengolahan minyak jelantah,” jelas ibu Deni seraya menunjukkan minyak goreng kemasan gelas isi 250 mililiter yang dapat ditukar warga dari minyak jelantahnya.
Keberadaan bank minyak jelantah ini sendiri, secara tidak langsung telah membantu pemerintah dalam tetap menjaga kebersihan lingkungan. ”Terus terang, sebelum adanya bank minyak jelantah ini, banyak warga membuang minyak jelantahnya di saluran air. Sehingga menimbulkan aroma tak sedap. Apalagi saat matahari bersinar terik. Dengan adanya bank minyak jelantah ini, secara tidak langsung bisa mengedukasi warga agar dalam menggunakan minyak goreng tidak sampai berkali-kali. Karena itu bisa berdampak terjadinya gangguan kesehatan tidak saja kepada diri sendiri tapi juga keluarga dan orang-orang yang mencicipi makanan dari hasil penggorengan minyak jelantah,” kata Sultan Daeng Liwang menambahkan.
Selain sukses mengembangkan tiga pilarnya, Astra Grup juga sukses memajukan dan mengembangkan pilar keempatnya, yaitu pilar kewirausahaan. Salah satu wirausaha yang sangat berkembang di KBA Burasa dan menjadi binaan dari Astra Grup adalah kerajinan rotan milik Alex.
Selain memproduksi kursi rotan yang kini sudah punya pangsa tersendiri, Alex juga memproduksi keranjang parcel. Untuk satu kursi rotan dipatok seharga Rp200 ribu hingga Rp250 ribu. Kursi rotan buatan Alex ini telah digunakan di sejumlah tempat di Kota Makassar. Salah satunya adalah di kafe.
Alex mengakui, sebelum mendapat bantuan dari Astra, usahanya ini tidak terlalu bergeliat. ”Tapi setelah mendapat bantuan permodalan dari Astra, usaha kami mulai menunjukkan peningkatan. Selain melayani sejumlah permintaan dari Makassar, kami juga kini telah mendapatkan permintaan dari Jakarta,” ujar Alex.
Berkembangnya empat pilar di KBA Burasa, menurut Suhardi selaku Koordinator Astra Grup Makassar, tidak terlepas dari semangat ‘Satu Indonesia’ yang terus digelorakan para pengurus dan pengelola dari empat pilar di KBA Burasa.
”KBA ini merupakan program CSR (Corporate Social Responsibility) Astra yang diimplementasikan kepada masyarakat. Dalam KBA ini mengembangkan empat pilar yang menjadi program CSR Astra itu sendiri. Yaitu pilar kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan kewirausahaan. Dengan program KBA ini, masyarakat bersama Astra berkolaborasi mewujudkan lingkungan yang sehat, cerdas, bersih, dan produktif,” beber Suhardi saat mendampingi media dan blogger mengunjungi KBA Burasa Rappocini
Terjadinya perubahan sangat signifikan pada tata kehidupan sosial dan juga perputaran roda perekonomian masyarakat di KBA Burasa ini, menjadi bukti betapa Astra Grup berkomitmen kuat untuk mendorong kemajuan dan perubahan kehidupan masyarakat di Kelurahan Rappocini, khususnya di lingkungan RW 01 dan RW 04 yang menjadi tempat KBA Burasa.
Seperti disampaikan Sultan Daeng Liwang, program CSR yang dilakukan Astra Grup di KBA Burasa sangat jauh berbeda dengan program CSR dari perusahaan atau BUMN lainnya. Dimana, Astra tidak sekadar memberi bantuan permodalan. Tapi juga secara intens memberi support dan motivasi.
”Bahkan, ketika kami punya program baru untuk diterapkan di KBA ini, pihak Astra langsung mensupportnya. Astra langsung menurunkan tim konsultannya. Jika program yang kami sampaikan dipandang berpotensi untuk dikembangkan, maka Astra langsung memberi tanggapan. Begitu pula sebaliknya. Tapi pihak konsultan ini tetap memberi kami masukan agar program ini bisa berjalan baik dan maksimal. Tenaga konsultan ini disiapkan pihak Astra secara cuma-cuma,” kata Daeng Liwang, panggilan akrab lelaki peramah ini.
Daeng Liwang menuturkan, pihaknya sangat bersyukur dan berterimakasih kepada Astra Grup dengan ditunjuknya RW 01 dan RW 04, Kelurahan Rappocini sebagai lokasi pengembangan KBA. Bahkan, KBA ini sendiri merupakan satu-satunya yang ada di Kota Makassar khususnya dan Sulawesi Selatan pada umumnya.
”Saya tidak bisa membayangkan kondisi di wilayah ini jika pada tahun 2015 lalu, Astra Grup menunjuk kelurahan lain menjadi tempat KBA. Pasalnya, ada sekitar 70 kelurahan di Kota Makassar yang waktu itu diusulkan pihak Pemerintah Kota Makassar. Karena sudah menjadi rahasia umum, kawasan Rappocini dikenal sebagai salah satu kawasan tawuran atau perang kelompok di Makassar,” ujar Daeng Liwang.
Dikatakan, ketika Kampung Berseri Astra baru akan diterapkan, tidaklah terlalu mulus. Tentangan dari berbagai elemen masyarakat termasuk kalangan anak muda di Rappocini ini, cukup besar. Bahkan, ada di antara mereka menentang keras. Karena menganggap kalau dengan Kampung Berseri Astra ini sama seperti menjual tanah mereka kepada Astra.
”Sejak kapan Astra membeli tanah di Rappocini ini untuk dijadikan kampung berseri. Kami tidak setuju menjual tanah kami untuk dijadikan perkampungan baru,” ujar Daeng Liwang menirukan ucapan beberapa warga ketika itu.
Kuatnya penolakan warga juga dilampiaskan dengan mencoret-coret palang papan nama jalan atau lorong di sekitar wilayah Kampung Berseri Astra ini. Karena nama-nama yang tertulis di papan itu diambil dari sejumlah merek kendaraan Astra Honda dan juga perusahaan yang tergabung dalam Astra Grup.
”Kuatnya penolakan warga hingga mencoret-coret papan nama jalan atau lorong yang terpasang, membuat saya sempat putus asa dan nyaris emosi. Jiwa nakal saya sudah memuncak bahkan nyaris meledak. Beruntung masih ada warga lain yang sudah faham mengingatkan saya untuk menahan emosi. Apalagi, saat pertemuan dengan para ketua RT dan RW yang masuk dalam kawasan Kampung Berseri Astra, saya sudah menyampaikan kepada mereka tentang bagaimana keuntungan atau nilai positif yang mereka akan rasakan jika Kampung Berseri Astra ini diterapkan pada saat ini maupun masa akan datang,” tutur Daeng Liwang penuh semangat di sela perjalanan menuju ke
lokasi tempat usaha kerajinan rotan milik Alex.
Sementara itu, Ketua Perhimpunan Hubungan Masyarakat (Perhumas) Sulsel, Devo Kaddafi, sangat mengapresiasi langkah Astra Grup menjadikan Rappocini sebagai kawasan KBA. Pasalnya, selama bertahun-tahun Rappocini dikenal sebagai salah satu ruas jalan yang sering perang kelompok dan tawuran. Sehingga siapapun yang lewat di Jalan Rappocini akan selalu dihantui perasaan takut dan was-was.
”Terimakasih kepada Astra Grup yang telah berhasil mengubah imej tentang Jalan Rappocini dari jalan yang sering terjadi perang kelompok menjadi jalan yang sering dikunjungi pejabat. Khususnya pejabat dari Astra Grup,” kata Ketua Pengprov PBSI Sulsel ini di hadapan sejumlah petinggi Astra Grup, media, dan blogger di Restoran Ratu Gurih. (amiruddin nur)


www.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa PPOB dll
Comments
To Top