Headline

NA Kerap ke Luar Negeri, Apa Hasilnya?


MAKASSAR, BKM — Gubernur Sulsel HM Nurdin Abdullah kini tengah berada di luar negeri. Ia terbang ke Australia sejak Minggu (6/10).
Informasi yang diperoleh BKM, orang nomor satu Sulsel itu berangkat ke Australia atas undangan Kementerian Luar Negeri Australia dan Duta Besar Australia untuk membicarakan rencana beberapa kerja sama. Salah satunya, terkait bidang peternakan.
Berbeda dengan sebelumnya, NA tidak memboyong pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD). Yang menyertainya hanyalah orang-orang dekatnya. Di antaranya salah satu staf khusus bidang media Bunyamin Arsyad, dan asisten pribadinya Rayson.
Selama setahun lebih menjabat sebagai gubernur, mantan bupati Bantaeng dua periode itu sudah beberapa kali ke luar negeri. Di awal dirinya memimpin Sulsel, Jepang menjadi tujuan kunjungan perdananya. Ia bersama Rektor Unhas Prof Dwia Ariestina Pulubuhu.
Selanjutnya, pada Desember 2018, Nurdin kembali berkunjung ke Negeri Matahari Terbit itu. Kali ini yang didatanginya adalah Provinsi Ehime. Keberangkatan ini diklaim sebagai tindak lanjut dari kerja sama sister province yang digagas kedua belah pihak.
NA saat itu didampingi dua kepala dinas dari Pemprov Sulsel. Yakni Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulsel Sulkaf Latief, dan Kepala Dinas Peternakan Abd Azis, dan memboyong sejumlah kepala daerah.
Selanjutnya, Nurdin melakukan kunjungan ke dua negara sekaligus, yakni Belanda dan Jerman. Rombongan bertolak pada Senin 10 Juni 2019. Kunjungan tersebut untuk menghadiri MoU dengan sejumlah perusahaan terkait penyediaan air bersih.
Tak berselang lama, tepatnya pada pekan terakhir Juni, Nurdin kembali terbang ke luar negeri. Kali ini negara tujuan adalah Thailand. Nurdin ikut menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asean mendampingi Presiden RI Joko Widodo.
Di sana, orang nomor satu Sulsel tersebut mengklaim mempromosikan berbagai kelebihan Sulsel saat ini. Salah satunya, bisa melakukan ekspor langsung dari Makassar menuju negara tujuan, dengan biaya yang lebih rendah dibanding melalui Surabaya.
Kegiatan KTT XXXIV Asean di Bangkok, Thailand, selain membahas mengenai ekonomi, juga mengenai kerja sama kelautan atau maritim.
Seperti yang disampaikannya sebelum berangkat ke Thailand, usai melakukan lawatan ke negeri gajah putih, Nurdin langsung terbang ke Jepang. Ia menginstruksikan tiga kepala dinasnya untuk menyusul ke sana. Di antaranya Kepala Dinas Perindustrian Ahmadi Akil, dan Kepala Dinas Pariwisata Denny Irawan.
Bunyamin yang dikonfirmasi, membenarkan keberangkatan tersebut.
“Yang berangkat saya (Bunyamin), Pak Gub, dan Raysen. Paling dua tiga hari di Australia,” katanya kala itu.
Namun informasi yang dihimpun BKM, Nurdin Abdullah mengajukan izin perjalanan ke luar negeri selama 11 hari.
Berbeda dengan gubernur, Wakil Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman baru sekali melakukan kunjungan ke luar negeri, yakni ke Swiss.
Pengamat Pemerintahan Andi Luhur Priyanto Nurdin menilai, Nurdin terlihat lebih asyik melakukan perjalanan keluar negeri dibanding mengurus pembangunan. Serapan anggaran bahkan dipersoalkan dewan lewat hak angket.
“Bahkan roda perekonomian dan keuangan pemprov tak terarah, karena gubernurnya lebih sering ke luar negeri. Kondisi seperti itulah yang juga diharapkan masyarakat dapat berubah usai digulirnya hak angket DPRD Sulsel,” ujarnya belum lama ini.
Publik, kata Luhur, menginginkan agar gubernur dan wakilnya tidak menutup mata terkait kondisi daerah. Sebab kepala daerah yang amanah tak hanya akuntabel dan transparan. Tapi juga responsif dan respek.
“Kita tahu persis bagaimana dampaknya terhadap efektivitas pembangunan dan pemerintahan ketika kepala daerah jarang di tempat. Kurang koordinasi dengan dinasnya dan kurang mendengar keluhan masyarakatnya. Tentu tidak akan berjalan. Gubernur jarang turun langsung ke masyarakat,” tambahnya.
Seharusnya, kata Luhur, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) memperketat izin kepala daerah meninggalkan daerahnya untuk urusan di luar negeri. Kepala daerah harus berada di wilayahnya guna memantau program-program dan proyek-proyek pembangunan. Apabila mereka terlalu sering keluar daerah, program pembangunan dikhawatirkan tidak berjalan dengan optimal.
Kemendagri juga harus mengkaji sanksi bagi kepala daerah yang ketahuan terlalu sering meninggalkan daerahnya untuk urusan di luar pemerintahan atau kedinasan. “Sebaiknya seruan ini dijadikan sentilan bagi gubernur yang acuh terhadap kewenangannya,” tandasnya.
Legislator Partai Demokrat Sulsel Selle KS Dalle juga ikut bertanya-tanya dengan seringnya NA ke luar negeri. Ia menilai, di tahun pertama kepemimpinan selaku gubernur, frekwensi perjalanan Nurdin ke luar negeri cukup tinggi.
“Akan tetapi karena ini masih awal-awal perjalanan pemerintahan, kita berprasangka baik perihal kunjungan luar negeri tersebut,” ujar Selle, kemarin.
Ia berharap akan ada hasil yang konkrit dan nyata, yang bisa memberi manfaat sebesar-besarnya bagi kemajuan Sulsel, khususnya tata kelola perintahan dan percepatan pembangunan.
Legislator Partai Gerindra Sulsel Rusdin Tabi berpendapat lain soal kunjungan NA ke luar negeri. ”Mungkin juga beliau (NA) ke luar negeri untuk kontrol kesehatannya,” ucapnya.
Srikandi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di DPRD Sulsel Sri Rahmi memberi tanggapan datar. Ketua Fraksi PKS ini menegaskan, kunjungan NA ke luar negeri tidak terlepas dari konsep pembangunan untuk daerah. (rhm-rif/rus)


www.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa PPOB dll
Comments

Social Media

Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top