Headline

Keluarga Korban: Kami tak Terima


Dosen yang Bunuh ASN UNM Dituntut 14 Tahun

GOWA, BKM — Sidang kasus pembunuhan Siti Sulaeha Jafar memasuki tahap tuntutan, Selasa (8/10). Oleh majelis hakim, terdakwa Wahyu Jayadi dituntut 14 tahun karena perbuatannya yang telah menghabisi nyawa aparatur sipil negara (ASN) Universitas Negeri Makassar (UNM) itu.
Seperti sebelumnya, persidangan kali ini tetap mendapat antusias masyarakat dan keluarga korban. Mereka beramai-ramai memenuhi ruang sidang Pengadilan Negeri (PN) Sungguminasa, Gowa.
Hingga memasuki persidangan tuntutan, belum terkuak jelas apa motif pasti sehingga dosen olahraga UNM itu nekat membunuh rekan kerja, teman, sekaligus tetangganya tersebut. Pihak keluara almarhumah belum yakin sepenuhnya, jika terdakwa tega menghabisi nyawa ibu tiga itu tanpa unsur lain, kecuali ketersinggungan semata. Mereka masih berharap kebenaran akan terkuak.
Dalam sidang yang dipimpin Muh Asri sebagai ketua majelis hakim, JPU Arifuddin Achmad mengajukan tuntutan 14 tahun penjara bagi Wahyu. JPU menyatakan terdakwa Wahyu Jayadi terbukti melakukan pembunuhan, sehingga menjeratnya dengan pasal 338 KUHP tentang pembunuhan. Dosen nonaktif UNM ini disebutkan tidak terbukti melakukan pembunuhan berencana.
Tuntutan yang dibacakan JPU didengar langsung oleh keluarga korban. Dibeberkan JPU bahwa terdakwa tersinggung dan emosi berlebihan, karena korban selalu mencampuri urusannya. Terdakwa mencekik korban, yang dilakukan secara spontanitas usai mendengar perkataan kasar dari korban.
“Dengan demikian, unsur direncanakan terlebih dahulu tidak terpenuhi secara sah menurut hukum. Maka dari itu, terdakwa dituntut oleh JPU hukuman 14 tahun penjara,” ujar Arifuddin Achmad.
Usai mendengarkan tuntutan dari JPU, hakim ketua memutuskan sidang telah selesai yang diakhiri dengan ketuk palu. Keluarga korban pun langsung histeris dalam ruang persidangan. Dua orang sanak keluarga mendiang Sitti Zulaeha Jafar menangis histeris.
Salah satu keluarga korban juga sempat berteriak di dalam ruang sidang. Ia mempertanyakan tuntutan yang dijatuhkan kepada terdakwa. Menurutnya, tuntutan tersebut terlalu ringan dan tidak sebanding dengan perbuatan terdakwa yang telah menghilangkan nyawa seorang ibu yang punya tiga orang anak.
“Kenapa hanya 14 tahun, Pak Jaksa? Kami tidak terima,” teriak salah satu keluarga almarhumah Zulaeha.
Tidak hanya di dalam ruang sidang, teriakan histeris keluarga korban berlanjut hingga ke luar ruang persidangan. Lagi-lagi mereka meneriakkan dan melampiaskan kekecewaannya kepada jaksa yang hanya menuntut 14 tahun penjara.
“Sudah ibu, ini kan masih tuntutan. Jadi belum pasti. Nanti saat putusan baru kita tahu hukuman yang diterima terdakwa,” kata seorang petugas yang berusaha menenangkan keluarga korban.
Tuntutan 14 tahun mendapat reaksi dari kuasa hukum terdakwa M Syafril Hamzah. Ia berdalih, semestinya kliennya hanya dikenakan pasal 351 ayat 3 tentang penganiayaan yang mengakibatkan kematian.
“Jadi yang wajarnya pasal 351 ayat 3 tentang penganiayaan yangmenyebabkan meninggal dunia,” kata Syahfril usai sidang.
Menurutnya, tuntutan tersebut masih sangat berat. Sebab, tindakan kliennya menghabisi korban bukanlah tergolong perencanaan. Melainkan sangat insidentil dan spontanitas. Kala itu terdakwa berada dalam kondisi emosi tinggi.
“Klien saya melakukan kekerasan atas dasar spontanitas. Hal ini disesuaikan fakta persidangan yang berlangsung. Saya menilai tuntutan JPU masih berat. Karena kalau kita amati fakta persidangan, pembunuhan ini terjadi secara spontanitas,” kata Syahfril. (sar/rus)


www.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa PPOB dll
Comments

Social Media

Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top