Headline

Psikolog: Film Joker tak Layak Ditonton Anak-anak


MAKASSAR, BKM — Kontroversi Film Joker yang banyak mengandung unsur kekerasan, aksi buruk, hingga bahasa tak baik mendapat perhatian serius dari kalangan psikolog. Salah satunya dosen psikologi Universitas Negeri Makassar (UNM) Dr Widyastuti. Ia menilai, film tersebut tidak layak ditonton karena akan berdampak dan berpengaruh bagi kalangan anak-anak dan remaja.
“Saya sudah baca sinopsisnya. Film ini mengandung unsur kekerasan, tindakan keji dan bahasa yang tidak sopan. Pasti berpengaruhlah. Apalagi jika yang menonton adalah anak-anak dan remaja. Jadi saya pribadi tidak suka filmnya dan tidak tertarik. Remaja pun saya tidak anjurkan nonton film seperti itu,” ujarnya ketika dihubungi, Senin (7/10).
Sebab, menurutnya, kondisi psikis anak remaja sedang mencari jatidiri. Jika dalam kondisi lemah, maka perilaku remaja tersebut akan mencontoh karakter dari figur yang ia lihat dan kagumi untuk diterapkan dalam dunia nyata. Lain halnya jika remaja dalam kondisi stabil yang bisa menilai tontonan yang dilihatnya.
“Karena masa anak dan remaja adalah saat mereka mengidentifikasikan dirinya. Jika mereka mengidentifikasikan dirinya pada tokoh yang salah, maka itu akan berpengaruh pada perilakunya. Karena mereka akan mencontoh perilaku orang yang menjadi figur yang diidentifikasinya. Jadi bisa dibayangkan jika anak remaja menonton film yang penuh dengan adegan kekerasan, akan seperti apa jadinya,” jelasnya.
Apalagi, saat ini remaja sudah disugguhkan dengan tontonan di televisi yang kurang mengedukasi. Film Joker ini juga bisa mendoktrin dan memengaruhi alam berpikir dan alam bawah sadar anak remaja. Terutama mereka yang tidak stabil emosi dan pikirannya untuk bertindak hal yang sama.
“Di film ini juga terselip kata-kata yang kurang pantas, dan kata motivasi yang justru melemahkan mental yang menjadi benalu bagi yang menerapkannya. Parahnya, ketika yang menonton film ini mengalami permasalahan yang sama, maka ingatan tentang profil Joker akan muncul dan dipraktikkan dalam kesehariannya,” bebernya.
Olehnya itu, Widya berharap anak remaja pintar-pintar dalam memilah tontonan yang sehat dan beralih menonton film yang memberikan motivasi. “Itu kembali ke person masing-masing. Tapi di sini saya menekankan kepada anak remaja untuk lebih mengggunakan nalarnya dalam menonton film. Kisah hidup yang menginspirasi jauh lebih bagus ditonton agar menjadi motivasi dalam berkarya,” tandasnya.
Di tengah kontroversi itu, sejumlah penonton bioskop di sebuah mall Jalan Urip Sumohardjo memberi apresiasi. ”Filmnya bagus. Kita dapat melihat kehidupan, yang memang sedikit banyak adalah fakta di kehidupan sehari-hari, di mana orang yang baik sedikit. Orang-orang tunagrahita terkadang dilecehkan. Namun kejamnya dalam film Joker membunuh ibunya yang sakit,” kata Indah, salah satu penonton Joker, kemarin.
Sebaliknya, ada pula yang berpendapat bahwa film Joker menggambarkan dan dianggap mendukung kekerasan. Karakter awal Joker yang merupakan tokoh protagonis lalu kemudian berubah menjadi antagonis, dinilai membuat penonton dapat memaklumi mereka yang berbuat kriminal.
“Pendapat orang tentu berbeda-beda. Saya pribadi merasa senang setelah menonton ini. Keren. Apalagi pemeran utama Joaquin Phoenix sangat menjiwai karakter Arthur Fleck (Joker). Walaupun kita tahu bahwa Joker merupakan musuh utama Batman, tapi karakter Batman tidak dimunculkan di sini,” terang Acca setelah menonton. (ita-jun/rus)


www.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa PPOB dll
Comments

Social Media

Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top