Metro

Kisah Hajrah, Alumni FKG Unhas yang Kuliah S2 di Luar Negeri Berkat Beasiswa


Drg Hajrah saat berada di Taiwan melanjutkan pendidikan master.

NAMANYA adalah Andi Sitti Hajrah Yusuf. Wanita berdarah Bugis Bone yang berusia 27 tahun itu mengaku sejak kecil tidak pernah berpikir untuk menjadi seorang dokter gigi.

Awalanya ia memiliki cita-cita menjadi seorang dokter hewan. Namun takdir berkata lain. Pada tahun 2010, ia akhirnya lulus dan memilih bergabung di Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Hasanuddin.

“Saya tidak menyesal telah memilih FKG Unhas, bahkan saya merasa sangat bangga bisa diterima di sini. Terlebih saya tahu bahwa fakultas dan kampus ini adalah salah satu universitas terbaik yang telah mencetak banyak alumni yang berkualitas,” kata Hajrah.

Semasa duduk di bangku S1 (preklinik), ia mengaku tidak banyak hal yang bisa diceritakan. Sebab pada saat itu, ia sama halnya dengan mahasiswa lain yang tidak menonjol baik dari segi organisasi maupun akademik.

Bahkan dulu tujuan utamanya hanyalah menyelesaikan pendidikan tepat waktu, bekerja dan memperoleh penghasilan sendiri untuk membahagiakan dan membanggakan kedua orang tua. “Klasik,” katanya singkat.

Perlahan persepsinya dalam bidang kedokteran gigi berubah sejak memasuki dunia “koas” dan bergabung menjadi asisten dokter gigi di salah satu klinik swasta.

Meskipun dengan jadwal aktivitas yang padat,  dengan perjuangan dan semangat optimisme yang tinggi, wanita yang akrab disapa Hajrah ini akhirnya berhasil menyelesaikan studi dan masuk ke dalam 7 besar mahasiswa pertama yang meraih gelar dokter gigi di masanya.

Ketika orang lain memilih untuk fokus pada dunia kerja setelah menyandang gelar “drg”, Hajrah memilih jalan yang berbeda. Ia kemudian menerima tawaran dari salah satu dosennya untuk bergabung menjadi seorang research assistant di departemen bedah mulut dan maksilofasial FKG Unhas.

Status Hajrah sebagai research assistant kemudian menuntut ia untuk memiliki pengetahuan yang lebih terkait current advancement dan penerapan tekhnik-teknik terbaru dalam bidang bedah mulut. Dimana hal ini menurutnya jelas harus didukung oleh pemahaman akan teori-teori dasar.

Tidak berhenti sampai disitu, selain berpraktik sebagai dokter gigi di klinik swasta, ia juga bergabung menjadi assistant editor di Journal of Dentomaxillofacial Science, salah satu jurnal yang diterbitkan Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Hasanuddin.

“Setiap orang memiliki passion yang berbeda, dan saya merasa terpanggil untuk menekuni passion sebagai scientist di bidang kedokteran gigi,” ungkapnya.

Hingga saat ini Hajrah telah memiliki 4 publikasi dalam jurnal internasional terindeks scopus Q2 dan Q3, dan 1 lainnya telah berstatus accepted for publication.

Tidak hanya itu, publikasinya dalam data base scopus juga telah berhasil meraih H-index 1. Selain publikasi scopus, ia juga telah menyumbangkan 2 publikasi di jurnal internasional yang digawangi oleh FKG Unhas.

“Sejak menjadi research assistant di departemen bedah mulut FKG Unhas, saya sering terlibat sebagai tim dalam beberapa proyek penelitian serta dalam penulisan manuskrip-manuskrip ilmiah yang dibawahi oleh dosen saya. Hal ini menjadi alasan saya untuk akhirnya memutuskan melanjutkan pendidikan S2 ke luar negeri, yang tentu saja dengan bantuan beasiswa,” katanya.

“Saya yakin sebagain besar orang telah mengetahui bahwa perjuangan untuk mendapatkan beasiswa kuliah ke luar negeri tidaklah semudah membalikkan telapak tangan di mana tiap orang memiliki kisah perjuangan yang berbeda. Begitu pula dengan diri saya, masa ini saya rasakan sebagai masa-masa terberat dan dilematis,” ujar Hajrah.

“Di sini saya sering kali merasa jenuh, tertekan sampai ingin menyerah dan kembali fokus hanya pada peran saya sebagai seorang praktisi dokter gigi. Namun saya sadar, bahwasanya dunia kedokteran gigi tidaklah sesempit itu. Banyak sekali hal lain yang bisa kita eksplore disamping hanya menjadi seorang klinisi,” ujar Hajrah melanjutkan ceritanya.

“Alhamdulillah akhirnya dengan perjuangan yang sangat panjang, atas izin Allah SWT dan doa dari kedua orang tua, saya berhasil lolos dan mendapatkan beasiswa Master di Taipei Medical University (TMU),” kisahnya.

Hajrah mengaku latar belakang aktivitasnya yang sangat akrab dengan scientific field dan didukung oleh pengalaman publikasi internasional, sangat memudahkannya untuk meraih beasiswa di salah satu universitas dengan reputasi yang tinggi di kawasan Asia itu.

Tidak banyak yang tahu bahwa TMU adalah salah satu universitas terbaik di Asia dengan list publikasi yang sangat tinggi tiap tahunnya. Kampus ini mengadaptasi sistem perkuliahan “American Style” dimana para pengajarnya adalah professor-professor lulusan berbagai universitas terbaik dunia. Selain itu, kampus ini juga didukung oleh suasana belajar-mengajar yang sangat kondusif, serta fasilitasi kelas, perpustakaan dan laboratorium yang canggih.

“Kampus ini menerapkan standar yang sangat tinggi bagi mahasiswa untuk meraih gelar Master ataupun Ph.D. Untuk master, kami wajib mensubmit satu publikasi di jurnal internasional yang terdaftar dalam Scientific Scitation Index (SCI), kemudian untuk Ph.D diwajibkan untuk menghasilkan publikasi dengan standar minimum total impact factor adalah 5, yang artinya calon Ph.D kemungkinan harus menuliskan 2 hingga 3 publikasi SCI,” paparnya.

“Dalam program Master ini, fokus saya adalah di bidang basic research, saya terlibat dalam 2 proyek penelitian yang sama sekali berbeda dengan latar beakang saya sebagai klinisi. Pertama adalah proyek organ regeneration di mana saya melakukan primary culture dari sel tubuh manusia dan kemudian memodifikasi signal serta environment dari sel tersebut hingga dapat menghasilkan organ baru yang identik dengan organ tubuh manusia yang nantinya dapat ditransplantasikan sebagai pengganti organ tubuh yang rusak/hilang. Kedua adalah proyek biomaterial yang baru-baru ini saya tekuni, penelitian ini berfokus pada bleaching material yang sebagaimana kita ketahui saat ini sedang banyak diminati oleh pasien dan dokter gigi,” kata dia lagi.

Menjalani program magister di bidang basic research, menurut Hajrah adalah challenge yang sangat luar biasa,. Terlebih ia harus menyelesaikan 2 proyek penelitian yang berbeda.

Namun hal tersebut tidak lantas membuat Hajrah mundur. Ia justru menganggap hal ini sebagai kesempatan emas untuk dapat menimba ilmu dan keterampilan sebanyak-banyaknya. Kesempatan ini juga dianggapnya sebagai momen pembuktian diri untuk bersaing diantara para mahasiswa TMU dari negara lain.

“Sulit bukan berarti tidak mungkin.” tuturnya.

Tekadnya untuk membuktikan bahwa alumni FKG Unhas mampu bersaing di dunia pendidikan internasional nampaknya mulai terjawab. Selama menjalani program magister, Hajrah telah berhasil memenangkan berbagai kompetisi oral dan poster di bidang basic science. Baru-baru ini ia berhasil meraih posisi pertama dalam presentasi poster di acara International Symposium of Taiwan Society and Blood Biomaterials yang diselenggarakan di kota Taipei. Selain itu, ia juga berhasil menduduki posisi ketiga kategori presentasi oral dalam kompetisi lain yang diikuti oleh peserta dari berbagai Negara. Dengan prestasi-prestasi yang telah ia capai, saat ini Hajrah telah menerima beberapa tawaran untuk melanjutkan studi s3 di Eropa dan Asia. Bahkan ia mengaku telah mendapatkan tawaran beasiswa untuk dual Ph.D degree.

“Saya benar-benar tidak pernah menyangka bisa melangkah sampai sejauh ini. Bagi saya yang awalnya hanyalah mahasiswa “kupu-kupu (kuliah-pulang)”, mahasiswa yang hanya fokus pada kuliah, kemudian pulang, hal ini adalah prestasi yang sangat membanggakan. Bahkan sering kali saya merasa tidak percaya dengan pencapaian yang telah saya raih hingga saat ini,” katanya.

“Menulis ilmiah memang tidak akan membuat kita kaya akan materi, tapi insya Allah kita akan mendapatkan kekayaan intelektual yang tak ternilai serta amal jariah yang tak terputus melalui pengetahuan dan ilmu yang kita bagikan dalam publikasi,” ujarnya.

“Alhamdulillah saya sangat bersyukur karena semua ini kembali lagi tidak lepas dari kehendak Allah SWT dan doa yang tak putus-putusnya dari kedua orang tua saya, serta yang paling utama adalah support dan dorongan yang sangat besar dari dosen, mentor, sekaligus sosok yang telah saya anggap sebagai ayahanda, yang tak lain adalah drg. Muhammad Ruslin, M.Kes., Ph.D., Sp.BM(K),” katanya berterima kasih.

“Bisa dibilang I was found, trained, and grown to be a scientist by him. Sekarang saya benar-benar merasakan betapa seluruh tempaan dari beliau yang seringkali mendatangkan keluhan, letih dan air mata benar-benar terbayarkan. Saya sangat bersyukur bisa dibimbing langsung serta menjadi bagian dari tim beliau,” kata wanita berhijab ini.

Untuk itu, pada kesempatan ini ia ingin menyampaikan ucapa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada dekan FKG Unhas drg. Muhammad Ruslin, M.Kes., Ph.D., Sp.BM(K) dan seluruh dosen FKG Unhas yang telah membimbingnya hingga detik ini, serta tak lupa kepada kedua orang tuanya.

Ia yakin FKG Unhas memiliki potensi yang sangat besar untuk bersaing di dunia pendidikan Internasional. Harapannya di bawah arahan dekan FKG unhas serta dibarengi dengan kerja sama tim yang solid antara dosen dan mahasiswa, scientific environment di kalangan FKG unhas dapat kembali dihidupkan sehingga nantinya dapat terbentuk suatu research tim yang handal.

“Semoga langkah ini nantinya dapat memperbesar peluang international research collaboration antara FKG Unhas dengan unversitas-universitas terbaik lain di dunia sehingga mampu mendongkrak kualifikasi FKG Unhas dengan menghasilkan publikasi-publikasi dengan kulitas tinggi,” tutup Hajrah. (rls)


www.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa PPOB dll
Comments
To Top