Politik

Calon Parpol Lebih Diunggulkan


Arief: Calon Parpol Yang Kuat Bisa Kalah dari Independen

BAHAS PENJARINGAN--Ketua DPD Partai Gerindra Sulsel Andi Idris Manggabarani bersama pengurus dan ketua DPC dari 12 daerah yang akan menggelar Pilwali dan Pilbup serentak bertempat di sekretarist DPD jalan Gunung Bawakaraeng, Kamis (3/10).

MAKASSAR, BKM–Pemilihan Wali Kota (Pilwali) Makassar dan Pemilihan bupati (Pilbup) di Sulsel yang dihelat serentak 23 September 2020 tahun depan tetap mengunggulkan para pasangan yang maju lewat jalur partai politik ketimbang jalur perseorangan atau independen.
Pemerhati politik dari Indeks Politika Indonesia (IPI) Suwadi Idris Amir mengemukakan bahwa di Sulsel paslon perseorangan masih sulit menang. “Saya lihat masih sulit menang calon dari jalur independen. Sebab pengaruh parpol ke tokoh-tokoh masih sangat kuat untuk yakinkan mendukung calon dari jalur parpol,”ujar Suwadi.
Kedua, menurut Suwadi yakni masyarakat cenderung melihat calon independen dianggap tidak siap bertarung.
Pemerhati politik dari Duta Politika Indonesia (DPI) Dedy Alamsyah Mannaroi juga memberi alasan yang hampir sama. “Saya pikir belum ada alasan politis calon perseorangan bisa menang dan dilantik di makassar maupun di kabupaten. Alasannya karena paradigma masyarakat masih transaksional. Itu artinya dibutuhkan dana besar untuk bisa memenangkan konstalasi, sementara kebanyakan calon perseorangan memilih jalur itu karena mereka berfikir bisa hemat sedangkan kenyataannya bisa jadi proses mereka memang hemat untuk bisa maju tapi tetap mereka harus diperhadapkan pada kenyataan politik mereka harus bertransaksi dengan masyarakat,”ujar Dedy.
Selain itu sebagian besar calon perseorangan gagal karena salah strategi. “Mereka meninggalkan potensi suara saat mereka berproses maju melalui syarat administrasi yaitu KTP. Dan mereka berusaha mendapatkan suara baru dan inilah letak kesalahannya, mengabaikan suara pasti menuju suara keniscayaan,”ucapnya.
Dedy menambahkan bila dirinya juga ga bisa bayangkan jika fakta politik akan seperti di pemkab garut. “Ketika calon independen menang namun sulit “menaklukkan” dan melakukan lobby politik dengan para legislator di DPRD. Sangat sulit calon independen yang memerintah para politisi handal dan melakukan lobby-loby politik,”jelasnya.
Adapun pemerhati politik dari Nurani Stategic Nurmal Idrus mengemukakan bahwa jelas peluang calon Parpol lebih besar daripada perseorangan. “Ini dipengaruhi oleh karena parpol punya basis pendukung yang jelas dan infrastruktur berupa jaringan partai di pemilih yang lengkap. Sementara calon perseorangan harus membangun struktur sendiri dan juga basis,”ungkap Nurmal.
Dosen komunikasi UIN Alauddin Firdaus Muhammad menilai jika peluang usungan parpol lebih terbuka daripada perseorangan terutama soal opini publik. “Perseorangan belum terlalu meyakinkan karena pandangan pemilih tidak terlalu percaya,”ucap Firdaus.
Sementara itu, dosen politik Unibos Arief Wicaksono menilai pada dasarnya, diatas kertas peluang menang calon parpol atau calon independen tentu idealnya akan lebih besar calon parpol. Karena parpol punya jaringan, infrastruktur dan basis dukungan yang siap bergerak hingga ke pelosok. Apalagi jika figur yang diusung parpol punya level elektabilitas yang cukup tinggi. “Akan tetapi, pada beberapa kasus, calon parpol yang kuat pun bisa kalah dari independen. Itu menunjukkan bahwa rekomendasi, jaringan, infrastruktur dan basis parpol belumlah cukup untuk memenangkan kompetisi. Selain strategi yang kurang mumpuni, kelemahan calon parpol biasa disebabkan oleh friksi internal parpol yang liar dan tidak dapat dikonsolidasikan, hal Itu merugikan figur calon. Selain itu, yang perlu jdi bahan pertimbangan lain adalah sikap komitmen dan konsistensi parpol yang biasanya mendekati mulai luntur digantikan sikap pragmatis menjelang hari H. Jadi, peluang calon parpol akan besar, jika kelemahan2 tersebut dapat ditutupi,”jelas Arief.
Saat ini ada sejumlah Balon yang tetap berfikir alternatif untuk maju lewat perseorangan diantaranya Sukriansyah S Latief, Syarifuddin Daeng Punna, Muhammad Ismak dan lainnya.
Pada Pilwali lalu, Mohamamd Ramdhan Pomanto yang menggandeng Indira Mulyasari Paramastuti juga maju lewat perseorangan, sementara pasangan Munafri Arifuddin-Andi Rachmatika Dewi diusung 10 parpol.
Tak hanya itu, pada Pilgub Sulsel 2018 lalu, pasangan Ichsan Yasin Limpo-Andi Mudzakkar juga maju lewat jalur perseorangan.
Pengamat politik Luhur A Prianto menilai jika jalur independen atau perseorangan hanya jalur alternatif. Sebenarnya jalur ini di peruntukkan bagi kandidat yang gagal bersaing di usungan partai politik. Secara administratif, syarat 6,5-7 % dukungan KTP pemilih terverifikasi bukan hal yang mudah. Terutama bagi kandidat, yang tidak memiliki basis infrastruktur politik. Meskipun biaya politik bagi jalur independen ini bisa lebih murah daripada jalur partai politik.
“Kekuatan calon perseorangan tergantung basis politik yang di gunakan. Kalau mampu menggunakan infrastruktur birokrasi dan Ormas secara terkonsolidasi, maka mereka bisa saja mengalahkan kandidat yang di usung partai politik. Seperti pengalaman Adnan-Kio di Pilbup Gowa dan termasuk pendukung kotak kosong di Pilwali Makassar,”pungkas Luhur, Kamis kemarin. (rif)


www.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa PPOB dll
Comments
To Top