Headline

Pengungsi Hanya Bawa Helm


Mereka Trauma dan Berpikir untuk Kembali ke Papua

MAKASSAR, BKM — Sebanyak 170 pengungsi bencana kemanusiaan Wamena, Papua tiba di Pangkalan Udara (Lanud) Sultan Hasanuddin, Rabu (2/10) sekitar pukul 13.15 Wita. Mereka diterbangkan dengan menggunakan pesawat Hercules milik TNI AU.
Dari keseluruhan pengungsi itu, sebanyak 50 orang yang terdiri dari 34 dewasa dan 16 anak adalah warga Sulsel. Sementara sisanya, 120 orang, masing-masing 105 dewasa dan 15 anak merupakan warga Malang dan Aceh. Mereka transit di Lanud Hasanuddin, dan selanjutnya diterbangkan ke daerahnya.
Para pengungsi itu diterima Gubernur Sulsel HM Nurdin Abdullah bersama Penjabat Wali Kota Makassar Iqbal Suhaeb.
Saat pesawat Hercules mendarat mulus, pintu kemudian dibuka. Para pengungsi langsung turun. Langkahnya lunglai. Raut wajah lelah tak bisa mereka sembunyikan setelah menempuh perjalanan udara sekitar empat jam.
Kesedihan meliputi suasana penjemputan para pengungsi tersebut.
Mereka hanya membawa barang seadanya. Malah ada yang hanya bermodalkan baju di badan, tanpa alas kaki.
Salah seorang pengungsi terlihat memegang helm tanpa membawa barang lainnya. Mungkin hanya itu harta satu-satunya yang tertinggal.
Ratusan pengungsi tersebut kemudian diarahkan ke tenda yang sudah disiapkan untuk mereka beristirahat. Yang sakit langsung ditangani petugas kesehatan. Para tenaga sosial dan sukarelawan kemudian membagikan makanan kepada pengungsi yang kemudian disantap dengan nikmat.
Kondisi mereka memang sangat miris. Bahkan anak-anak yang biasanya ceria, tak tampak dari wajah bocah-bocah pengungsi itu. Seperti ada trauma yang membayang dalam pikiran mereka.
Hasriani (38), salah seorang pengungsi Wamena asal Desa Masalle, Kabupaten Enrekang, menceritakan kisah tragis yang dialaminya saat terjadi kerusuhan di sana.
Wanita yang berprofesi sebagai pengajar di YAPIS (Yayasan Pendidikan Islam) ini mengatakan, Senin pagi (23/9), seperti biasa dirinya berangkat mengajar. Dia menjadi pengawas di sekolah yang sedang menyelenggarakan ujian.
Hasriani mengaku, sejak beberapa hari terakhir sebelum kerusuhan terjadi, dirinya sudah merasakan was-was. Sebab berkembang desas-desus jika akan terjadi penggusuran warga pendatang di Wamena. Hanya saja, info yang beredar itu akan terjadi pada tanggal 27 September, bukan 23 September.
Baru 25 menit mengawasi jalannya ujian, kerusuhan terjadi. Dia bersama 15 guru lainnya panik dan lari bersembunyi ke ruangan yang tidak pernah digunakan. Mereka bertahan di sana menunggu perlindungan.
“Kami dikepung. Tiba-tiba sekolah kami dibakar. Mau tidak mau kami itu berusaha bagaimana agar kita bisa keluar,” terang Hasriani.
Dari dalam ruangan tersebut, dia masih sempat mengintip apa yang terjadi di luar. Pengalaman buruk yang sulit ia lupakan seumur hidup Hasriani adalah ketika dirinya melihat penyiksaan itu di balik bilik rumah berukuran 6 x 10 itu. Diiringi suara teriakan dan rintihan penyiksaan, membuat Hasriani bersama belasan rekannya tak tahu harus berbuat apa.
Di luar suasana sudah sangat mencekam. Tiba-tiba ada tiga orang penduduk asli datang menghampiri mereka.
“Kami pun kaget, dikira mereka mau membunuh kami. Ternyata mereka menolong dan diajak ke rumahnya yang kebetulan di dekat sekolah itu untuk bersembunyi sebelum aparat menemukan kami,” kenang Hasriani.
Selama lima jam lebih, Hasriani bersama puluhan rekan seprofesinya disembunyikan penduduk asli setempat. Barulah pukul 13.30 WIT mereka dievakuasi oleh aparat TNI.
“Harusnya 10.30 WIT itu kami sudah dievakuasi, tapi baru setengah dua siang baru kami ditemukan. Itu pun kami masih takut, jangan sampai yang selamatkan kami ini nantinya yang akan membunuh kami,” jelasnya.
Diapun sempat ke rumahnya untuk mencari keluarga dan melihat kondisi rumahnya. Ternyata rumahnya aman, tidak terbakar. Sementara informasi yang diperolehnya, anak dan suaminya sudah ada di polres untuk berlindung.
Ikhwal sehingga rumahnya tidak terbakar karena berada di daerah yang berdekatan dengan banyak rumah penduduk asli Papua.
Ternyata, rumah penduduk asli tidak dibakar karena sebelumnya sudah ditandai dengan adanya pohon pisang di depan rumah.
“Jadi kalau ada pohon pisangnya di dalam, baru ditaruh itu pohon di sana, itu berarti rumahnya penduduk asli Papua. Tidak diapa-apakan,” ungkapnya.
Diapun mengaku, orang-orang yang melakukan penyerangan di sana rerata mengenakan baju berwarna putih.
Hasriani mengaku sudah delapan tahun mengabdi di Papua. Untuk melanjutkan tugasnya di sana, sepertinya Hasriani masih pikir berkali-kali untuk kembali.
Namun, dia mengaku suaminya yang berprofesi sebagai kontraktor masih bertahan di sana untuk melihat kondisi dan mengamankan asetnya.
Dia bertolak ke Makassar dengan pesawat Hercules bersama tiga anak dan seorang saudaranya.
Sementara seorang pengungsi lain asal Barombong, Aspar menyebutkan akibat insiden tersebut, dia menderita kerugian hingga Rp400 juta.
“Saya tinggal di Wamena sudah 16 tahun. Saya usaha kelontong di sana. Kiosnya sudah terbakar. Kerugian yang saya alami mencapai Rp400 juta,” ungkap Aspar.
Untuk kembali ke Wamena lagi melanjutkan usaha, dia sudah tidak punya modal lagi. Selain itu, keluarganya masih trauma.
Dia berharap ada bantuan yang diberikan pemerintah untuk memulai usaha agar bisa menyambung hidupnya. (rhm/rus)


www.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa PPOB dll
Comments

Social Media

Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top