Headline

Waspadai Munculnya Titik Api Baru


Menurun di Puncak Kebakaran, Kondisi Udara Kini Membaik

MAKASSAR, BKM — Kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Tamangapa, Antang sudah memasuki hari kelima, Kamis (19/9). Personel Dinas Pemadam Kebakaran Kota Makassar bersama Manggala Agni Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutana Daerah Operasi Gowa, serta personel lainnya masih berjibaku memadamkan api.
Meski jumlahnya sudah berkurang, namun titik api masih sering terlihat menyala. Kesibukan petugas pemadam masih berlangsung. Armada damkar silih berganti masuk dan keluar lokasi TPA.
Alat berat UPTD TPA masih dioperasikan dengan menggunakan metode nosel. Khusus petugas damkar, mereka menggunakan metode jet foam. Sebanyak delapan unit water suplay dikerahkan. Termasuk tiga unit armada penembak air.
“Kalau kencang angin, keluar lagi api dari bawah. Memicu gas dari bawah,” ujar Kadis Damkar Kota Makassar Taufiek Rachman yang terus memantau di lokasi TPA Antang, Kamis (19/9).
Darhamsyah dari Kantor Pusat Pengelolaan Ekoregion (PPE) Sulawesi dan Maluku Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menjelaskan, pascakebakaran yang terjadi di TPA Tamangapa, kualitas udara memang menurun di Makassar dan sekitarnya. Khususnya di sekitar TPA saat puncak kebakaran.
Namun, setelah berhasil dipadamkan, kualitas udara pun berangsur-angsur membaik. Kendati demikian, semua pihak, terutama stakeholder terkait maupun warga yang bermukim di sekitar TPA agar tetap waspada. Jangan sampai kebakaran kembali melanda lokasi pembuangan sampah tersebut.
Ketika kualitas udara menurun, kata Darhamsyah, besar kemungkinan warga yang bermukim di sana mengalami infeksi saluran pernafasan akut (ISPA). Untuk mengurangi dampak buruk akibat asap tersebut, warga diimbau menggunakan masker.
“Kami juga turun ke lokasi kebakaran untuk membagi-bagikan masker,” ujarnya, kemarin.
Dia menjelaskan, kendati kondisi udara saat ini masih buruk, tapi sudah berangsur-angsur terpulihkan. Istilahnya dalam tahap recovery.
Menurutnya, berbeda dengan penurunan kualitas udara yang dihasilkan dari pembuangan mesin-mesin motor yang sifatnya permanen, asap dari kebakaran TPA Tamangapa bisa dipulihkan.
“Jadi kita berharap mudah-mudahan cepat terpulihkan,” imbuhnya.
Namun, dia mengingatkan yang perlu juga menjadi perhatian dan pembelajaran bagi semuanya, kemunculan hot spot titik api di TPA Antang perlu diwaspadai. Apalagi, berdasarkan informasi dari Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), cuaca panas yang masih cukup ekstrem akan berlangsung hingga dua bulan ke depan.
“Saat turun ke lokasi kebakaran, saya sudah sampaikan kalau bisa dilakukan penyiraman berkala setiap pagi di TPA untuk menurunkan suhu. Jangan tunggu nanti kebakaran baru disiram,” katanya.
Dia berharap, penanganan TPA ke depan bisa lebih baik lagi sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Kebakaran Terparah

Di saat proses pemadaman api masih berlangsung, sejumlah warga yang bermukim di sekitaran kawasan yang terbakar, mendatangi Puskesmas Pembantu (Pustu) TPA. Kemarin, tercatat ada ada satu orang anak yang menjalani pemeriksaan. Sementara di Puskesmas Tamangapa, datang satu orang balita dan satu orang dewasa.
”Satu pustu meliputi empat puskesmas se-Kecamatan Manggala. Kalau ada yang datang kita diberi obat. Mereka juga diimbau untuk tetap menggunakan masker. Tutup pintu rumah dan jendela rapat-rapat. Kurangi aktivitas luar rumah. Perbanyak minum air putih. Konsumsi buah dan vitamin,” ungkap petugas Pustu TPA Tamangapa yang juga digunakan posko kesehatan.
Bidang Operasi Damkar Kota Makassar Hasanuddin, menyebut 95 persen penyebab kebakaran di Kota Makassar akibat kelalaian manusia atau human error. Sementara 0,5 persen adalah faktor iklim atau alam.
Ia memaparkan, kebakaran terjadi umumnya akibat pertemuan tiga unsur. Yaitu panas, oksigen, dan bahan yang mudah terbakar. Dari situ kemudian timbul titik api awal.
“Secara lebih rinci, 75 persen akibat arus pendek listrik, selebihnya kompor gas, dan kebakaran alang-alang akibat suhu yang panas. Laporan kebakaran akibat alang-alang paling banyak terjadi,” katanya, kemarin.
Ia menjelaskan, masyarakat Makassar saat ini sudah bisa dilatih untuk penanganan kebakaran. Hasanuddin mengusulkan, bagi yang hendak mendapatkan pelatihan soal penanganan kebakaran bisa menghubungi pihaknya. “Kami akan datang memberikan pelatihan dan itu gratis,” ungkapnya.
Kepala UPTD Tamangapa Rahim mengatakan, TPA Tamangapa memang rawan terbakar di musim kemarau. Sebab secara keseluruhan TPA memiliki luasan 16,8 hektare.
Ia mengatakan, hampir semua titik di TPA terbakar. Secara keseluruhan, sebanyak 12 hektare sampah di TPA terbakar. Peristiwa ini merupakan yang terparah beberapa tahun terakhir.
“Pemerintah sudah mengimbau agar senantiasa melakukan pemilahan. Bahwa sampah kering dan sampah basah harus terpisah,” imbuhnya.
Terkait prosedur sampah yang masuk di TPA Tamangapa, ia mengatakan, selama ini sudah berjalan dengan baik. Kata dia, pihaknya bekerja sesuai mekanisme.
Selain itu, saat ini memang dibutuhkan teknologi untuk melakukan percepatan dalam mengolah sampah. Karena sampah yang masuk ke TPA setiap hari berkisar 100 sampai 1.000 ton.
Sepanjang tahun 2018 terdapat 216 peristiwa kebakaran yang terjadi di Kota Makassar. Sementara hingga September tahun 2019, terjadi sebanyak 179 kasus. Khusus untuk bulan September, sebanyak 31 kebakaran yang berlangsung. (jun-nug-rhm/rus)


www.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa PPOB dll
Comments

Social Media

Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top