Headline

NA Temani Iqbal Bahas PLTSa dengan Jepang


MAKASSAR, BKM — Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah Kota Makassar yang ada di Antang, diperkirakan hanya mampu beroperasi hingga tahun 2020. Karena itu, solusi untuk penanganan persoalan tumpukan sampah terus dilakukan.
Salah satunya dengan mengundang pihak luar guna memecahkan permasalahan ini. Sumitomo Corporation yang menggandeng Hitachi Zosen dari Jepang menawarkan secara serius kerja sama dengan Pemerintah Kota Makassar, dalam hal pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) untuk mengubah sampah menjadi energi listrik.
Pertemuan dengan calon investor itu berlangsung di ruang rapat Wali Kota Makassar, Rabu (11/9). Bahkan, Gubernur Sulsel HM Nurdin Abdullah turun langsung menemani Penjabat Wali Kota Iqbal S Suhaeb menerima pengusaha Jepang tersebut.
Menurut Nurdin, mengatasi permasalahan sampah itu harus dilakukan oleh ahli. Sumitomo dianggap sebagai partner kerja sama yang baik untuk Makassar.
“Sekarang mereka hadir untuk menunjukkan bahwa ia serius mengajak kerja sama menangani permasalahan sampah. Perusahaannya sendiri sudah membangun ratusan PLTSa di beberapa negara,” ucap Nurdin usai pertemuan.
Untuk besaran investasinya, diperkirakan mencapai triliunan. Lama pengerjaan maksimal tiga tahun. Untuk kerja sama ini, pihak Jepang sebagai investor sama sekali tidak mengganggu APBD Kota Makassar.
“Sudah beberapa perusahaan yang menawarkan kerja sama. Ada yang datang sebagai konsultan. Ada juga yang memang datang untuk meninjau langsung. Kita berharap yang terbaik, karena yang memutuskan itu nanti ada di pusat, yaitu Bappenas,” jelas Nurdin.
Pj Wali Kota Iqbal Suhaeb menaruh harapan besar kerja sama ini bisa terwujud. Karena jika kemitraan tersebut terjalin, maka 1 ton sampah bisa menghasilkan energi listrik sebesar 400-800 kWh.
Di TPA Antang sendiri, sampah yang terkumpul bisa mencapai 1.131 ton per hari. Per bulannya sebanyak 33 ribu ton, atau 407 ribu ton tiap tahun. Dengan estimasi jumlah penduduk Kota Makassar 1,5 juta jiwa.
“Kita memang memerlukan teknologi seperti itu, karena kita baru bisa mengangkut sampah sebanyak 80 persen per hari dari total produksi sampah kita,” terang Iqbal.
Nantinya, lanjut Iqbal, sampah atau gas metan dibakar menghasilkan panas yang menghasilkan uap pada boiler steam supercritical. Uap kompresi tinggi itu kemudian menggerakkan turbin uap dan flywheel yang tersambung pada generator dinamo, dengan perantara gear transmisi atau transmisi otomatis hingga menghasilkan listrik.
Iqbal berharap, dengan adanya teknologi tersebut, Kota Makassar setidaknya bisa menjadi salah satu kota metropolitan yang ramah lingkungan.
Untuk dasar hukum pembangunan PLTSa, diakuinya sangat jelas. Yakni Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 35 Tahun 2018 tentang Percepatan Pembangunan Instalasi Pengolah Sampah Menjadi Energi Listrik Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan pada 12 April 2018. (nug/rus)


www.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa PPOB dll
Comments

Social Media

Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top