Metro

Alumni FKG Unhas Ini Lanjutkan Kuliah di London, Ini Kisahnya

Aswar Sandi

Aswar Sandi, pria kelahiran Maros 26 tahun lalu mempunyai cita-cita menjadi Dokter Gigi sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD).

Dengan izin Allah SWT, cita-citanya terwujud. Dia berhasil diterima menjadi mahasiswa di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin pada tahun 2009.

Pria yang akrab dengan sapaan Wawa ini mengaku bangga bisa lulus di FKG Unhas kala itu. Apalagi FKG dan Unhas adalah fakultas dan kampus favorit.

Ia pun menjalani masa kuliah. Saat itu ia tidak hanya mementingkan akademik. Tetapi ia juga termasuk mahasiswa yang aktif berorganisasi.

“Saya tidak hanya fokus pada kegiatan akademik saja seperti kebanyakan mahasiswa kedokteran lainnya, tapi juga terlibat aktif sebagai pengurus organisasi dalam fakultas maupun di luar fakultas,” kata Wawa.

Mulai dari menjadi Sekretaris Umum HMI Komisariat FKG Unhas, Kepala Bidang Pengkaderan Badan Eksekutif Mahasiswa, Ketua English Dentistry Club, dan menjadi pelopor organisasi pertukaran pelajar FKG Unhas dengan Okayama University Japan yang bernama ODAPUS. Semua ia jalani.

“Alhamdulillah meski kuliah dengan segala kesibukan akademik dan organisasi, saya bisa tetap menyelesaikan profesi dokter gigi saya tepat waktu,” tutur Wawa.

“Setelah menyandang gelar Dokter Gigi, saya menjalani profesi sebagai dokter gigi selama kurang lebih 2 tahun. Hingga suatu ketika, saya menangani pasien dengan diagnosis suspect oral cancer dan pasien meminta saya untuk menjelaskan secara detail riwayat penyakitnya dan pertanyaan-pertanyaan selanjutnya pun muncul. Namun saya hanya mampu menjelaskan dengan ilmu seadanya. Saya pun merasa malu terhadap diri sendiri dan pada titik itulah saya memutuskan saya harus melanjutkan pendidikan lagi,” ungkap Wawa.

Tantangan pun mulai dirasakan oleh Wawa ketika harus menentukan bidang apa yang ingin dipelajarinya nantinya dan kampus mana yang akan dituju.

“Jawaban dari doa yang saya panjatkan kepada Allah SWT dan meminta pertimbangan dari kedua orang tua, akhirnya saya memutuskan untuk mempelajari ilmu tentang kanker dan penyakit infeksi hingga tahapan molekuler agar nantinya pemahaman saya tentang perjalanan penyakit ini hingga ke tahapan genetik lebih mendalam,” jelas Wawa.

“Pada awalnya, saya berniat untuk melanjutkan pendidikan di Harvard University atau Oxford university, namun sayangnya IPK saya tidak masuk dalam kualifikasi. Syarat IPK nya harus 4,0. Namun akhirnya saya melirik pada satu kampus bernama “Imperial College London” yang merupakan kampus dengan peringkat ke-8 di dunia,” katanya.

Setelah membaca beberapa coursenya, Wawa tertarik dengan satu course yang berjudul “Molecular Medicine” dengan pilihan modul termasuk Cancer dan infectious diseases.

“I was so excited dan akhirnya saya memberanikan diri untuk mendaftar jurusan tersebut dengan mempersiapkan berkas yang super ribet yang menjadi persyaratan,” tambah Wawa.

Sebulan pascapendaftaran, Wawa menerima email bahwa dia akan diinterview. “OMG I was super scared! Saya langsung stress bukan main karena saya yakin interviewnya pasti bakal susah banget. Dan ternyata benar, interview yang berlangsung kurang lebih 1 jam itu, saya diberikan pertanyaan yang lumayan banyak mengenai keilmuan dasar saya. Saya merasa semakin tak berdaya pascainterview. Ini karenakan banyaknya pertanyaan yang memang super difficult padahal sebenarnya sangat basic, Trust me!,” katanya lagi.

Pascainterview ia bilang dalam hati ”I am not gonna make it”. Ditambah lagi kuota yang disediakan untuk mahasiswa Internasional hanya 15 orang dari seluruh dunia”.

Hari-hari berlalu dan perasaan pasrahpun menghampiri Wawa. “I was like “ yaudah lah san, kepedean banget juga sih kamu mau daftar di top university,” gumamnya kala itu.

Setelah 4 bulan dilanda kegalauan, Wawa pun menerima email dari kampus tersebut.
“Alhamdulillah saya diterima di Fakultas Kedokteran Imperial College London Inggris untuk program Master. Saya langsung teriak dan sujud syukur yang saat itu saya masih berada di tempat praktek,” katanya.

Ternyata, masalah baru muncul. Ia butuh biaya yang besar untuk melanjutkan kuliah ke Inggris.

“Saya tidak mungkin bisa menempuh pendidikan dengan biaya pribadi saya di Imperial. Bukan main, biaya kuliahnya bukan ratusan juta, tetapi miliaran,” kata Wawa lagi.

“Namun, selang beberapa minggu kemudian penerimaan beasiswa LPDP oleh Kementrian Keuangan dibuka. Perjuangan mendapatkan beasiswanya pun lumayan berliku. Seleksi berkas, tes psikologi online, dan interview harus saya lalui dengan penuh perjuangan. Disinilah saya merasakan betapa soft skill dan public speaking skill yang saya dapatkan sebagai seorang organisatoris sangat membantu saya dalam mengemukakan pendapat saya ketika wawancara. Dan akhirnya berkat tekad dan doa, alhamdulillah saya dinyatakan lulus beasiswa LPDP tahun 2017,” katanya bangga.

“Belajar di kampus kelas dunia ini memang tantangannya luar biasa. Selain mengikuti perkuliahan, saya juga harus melakukan praktikum di laboratorium. Subhanallah kecanggihan fasilitas dan teknologi negara maju memang jauh berbeda dengan negara kita. Saya sangat bersyukur bisa mempelajari banyak teknik laboratorium,” ujar Wawa.

“Di program studi, saya harus melakukan 3 hal utama. Yaitu lulus ujian, melakukan 1 penelitian tentang kanker, dan 1 penelitian untuk tesis. Awalnya saya sangat pesimis dan sempat takut karena pendidikannya sangat susah apalagi yang bawain materinya bukan hanya dosen-dosen hebat dari kampus tersebut, tapi dosen tamu dari Oxford dan Harvard pun sering hadir memberikan materi kuliah. Namun mengingat perjalanan saya sampai di titik ini tidaklah mudah, saya harus melakukan yang tebaik demi Indonesiaku,” bebernya.

Alumni FKG Unhas yang Lulus pada tahun 2015 ini kembali menceritakan mengenai masa ujian adalah masa stress awal yang dihadapinya. “Soal ujiannya essay dan hanya 4 nomor dalam waktu kurang lebih 7 jam. Can you guys imagine that? Tapi alhamdulillah saya bisa lulus dengan nilai memuaskan,” ujar dia lagi.

“Pascaujian, saya memulai project penelitian pertama. Saya meneliti salah satu gen yang memiliki peran penting dalam pertumbuhan sel kanker yaitu Early Growth Factor 1 (EGR1). Saya sangat bersyukur karena akhirnya bisa melakukan rekayasa genetika dengan tangan saya sendiri. Masya Allah. Pascapenelitian, saya pun mempresentasikan hasil di depan para ahli kanker dunia dan lulus dengan nilai memuaskan. Alhamdulillah,” tambahnya.

“Usai penelitian kanker itu, saya harus langsung mulai mengerjakan penelitian terakhir untuk thesis saya. Kali ini saya memilih masuk ke departemen Infectious Diseases and Immunity. Dan benar saja, Imperial mengajarkan saya cara membuat mutan dan menternaknya untuk diteliti. Tesis saya meneliti peran salah satu gen pada bakteri yang mengakibatkan pasien mengalami Sepsis yang berujung pada kematian,” ujar Wawa lebih jauh.

“Perjalanan saya di Imperial college London is almost done. Alhamdulillah ilmu yang saya cari semuanya ada disini. Kampus ini telah membuka pikiran saya bahwa memang kita harus banyak berbenah dan harus selalu belajar tanpa batas agar Indonesia bisa maju. Saya yakin kita bisa mengejar ketinggalan kita karena generasi Indonesia itu hebat-hebat. Bagi saya menjadi dokter gigi is not only about memberikan perawatan pada pasien, tetapi kita harus paham konsep penyakitnya dulu sehingga kita paham apa yang harus kita lakukan. Dan yang paling penting kita bisa melakukan pencegahan dengan memberikan konseling pada pasien ketika mereka datang berobat,” cerita Wawa.

Wawa mengaku bisa bersaing dengan teman-temannya. Walaupun mereka banyak lulusan S1 dari Oxford, Cambridge, Harvard, dan ia bangga menyebutkan bahwa ia alumni Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin, Ayam Jantan dari Timur.

“Besar harapan kami para alumni dan tentunya mahasiswa yang masih menempuh studi kepada Dekan FKG Unhas drg. Muhammad Ruslin, M.Kes., Ph.D., Sp.BM(K), semoga FKG Unhas bisa mencetak generasi dokter gigi yang semakin berkualitas bukan hanya dari segi skill tapi dari segi keilmuan. Kami yakin sosok beliau yang bijaksana dan “open minded” dapat meningkatkan kualitas dan kualifikasi FKG Unhas ke jenjang yang lebih tinggi. Semoga beliau senantiasa menciptakan lingkungan akademik yang paripurna, kompetitif, dan menjunjung tinggi kualitas demi mencetak dokter gigi handal yang menjadi harapan bangsa Indonesia,” harapnya.

“Ucapan terima kasih pula saya ucapkan kepada kedua orang tua saya, kepada guru serta para Dosen FKG Unhas yang telah banyak membantu hingga sampai ke tahap ini serta Humas FKG, Majid Asinu yang membantu menyebarkan tulisan ini,” tutup Wawa. (rls)


www.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa PPOB dll
Comments

Social Media

Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top