Headline

IAS Berpeluang Jadi Kingmaker di Pilwali


MAKASSAR, BKM — Mantan wali kota Makassar dua periode Ilham Arief Sirajuddin tak lama lagi akan menghirup udara bebas. Terpidana kasus korupsi PDAM Makassar itu disebutkan keluar dari tahanan bulan Juli mendatang.
Bebasnya politisi yang akrab disapa IAS ini dari Lapas Makassar, akan mewarnai kontestasi pemilihan wali kota (pilwali) tahun 2020. Ia dinilai tetap memiliki pengaruh yang cukup besar di pesta demokrasi tahun depan. Juga mempunyai jaringan yang tersebar di semua kelurahan pada 15 kecamatan di Makassar.
Selain punya pengalaman di pemerintahan, IAS juga masih memiliki pengaruh di partai politik. Ia pernah menjadi sebagai ketua DPD II Partai Golkar Kota Makassar. Kemudian pelaksana tugas (plt) ketua DPD I Partai Golkar Sulsel. Selanjutnya terpilih dan menjadi ketua DPD Partai Demokrat Sulsel.
Saat ini, sedikitnya ada puluhan nama bakal calon wali kota dan wakil wali kota yang sudah disebut-sebut, dan telah membangun komunikasi. Bahkan ada yang telah melakukan sosialisasi di masyarakat.
Mampukah IAS memainkan peran strategis pada pilwali Makassar mendatang, sebagaimana yang dilakukannya untuk memenangkan pasangan Mohammad Ramdhan (Danny) Pomanto-Syamsu Rizal MI pada pilwali 2015 lalu?
Ketua Partai Berkarya Kota Makassar Yusuf Gunco, mengemukakan bahwa dengan banyaknya bakal calon yang sudah disebut-sebut, merupakan hal yang positif. Terkait IAS, Yugo menilai jika mantan wali kota Makassar dua periode ini masih punya basis.
“Tentu Pak IAS masih punya basis yang akan bekerja. Dan pak Danny juga punya basis,” ujar Yugo, Senin (10/6).
Menurut politisi yang pernah tercatat sebagai anggota Fraksi Golkar DPRD Makassar ini, pilwali menjadi hajatan para kandidat yang punya basis. “Jadi yang bisa memenangkan pilwali adalah mereka yang punya basis. IAS tak boleh dianggap remeh. Begitu juga Danny dan Deng Ical. Danny itu masih punya basis di atas 20 persen, sisa menunggu pasangan wakilnya, apakah calon wakilnya nanti bisa membawa Danny menang,” ucapnya.
Tak hanya itu, selain jaringan setiap calon harus menyiapkan dana yang tidak sedikit. “Tak bisa dipungkiri jika calon independen juga mesti menyiapkan uang besar. Olehnya itu, saya berharap sebaiknya para calon berupaya dan berzikir agar bisa mengabdi untuk kota Makassar,” tandasnya.
Ketua DPW PKS Sulsel Surya Darma menilai, kans IAS jika sudah bebas akan kembali seperti biasa. Tidak ada yang istimewa, karena Ilham sudah dua kali menjadi wali kota Makassar.
“Kecuali kalau IAS mendorong istrinya maju. Tapi apa dia mau. Sebab itu berarti Aliyah mundur dari kursi DPR RI,” ujar Surya Darma, kemarin.
Sementara itu, sejumlah bakal calon wali kota dan wakil wali kota mulai membangun komunikasi jelang pilwali mendatang. Seperti yang dilakukan Syamsu Rizal alias Deng Ical yang bertemu dengan Dr Sukriansyah S Latief. Selain bertemu untuk menjalin silaturahmi, juga disebut bicara soal pilwali Makassar ke depan.
Sehari sebelumnya, saudara ipar Gubernur Sulsel Prof Nurdin Abdullah, yakni Taufik Fachruddin juga bertemu dengan politisi PAN H Busrah Abdullah.
Dosen ilmu sosial dan politik Unhas Dr Hasrullah menegaskan, jika IAS telah bebas dari penjara, sangat berpeluang menjadi penentu kemenangan siapa saja yang didukungnya. “Pertama, Pak IAS itu bisa jadi kingmaker atau penentu kemenangan pasangan calon wali kota dan wakil wali kota,” ujar Hasrullah, Senin (10/6).
Alasannya, lanjut Hasrullah, karena jaringan IAS masih kuat dan solid di lapangan. Terbukti ketika istri IAS, yakni Aliyah Mustika Ilham kembali maju di pemilu legislatif (pileg) untuk periode kedua juga masih terpilih dengan suara yang cukup besar.
“Ini menjadi bukti begitu kuatnya pengaruh IAS di masyarakat Kota Makassar,” tambah Hasrullah.
Hal berbeda akan dialami mantan Wali kota Makassar Danny Pomanto. Salah satu bukti gagalnya Danny yang baru saja didukung Demokrat maju menggunakan jalur perseorangan atau independen, kemudian menjadi simbol kekuatan kotak kosong, tidak mampu meloloskan istri dan anaknya masuk parlemen.
Hal hampir sama juga dilontarkan pengamat politik Dr Azwar Hasan. Menurutnya, IAS masih punya loyalis yang militan. “Dan tentunya akan menguntungkan siapa yang bakal didukung oleh IAS di pilwali nanti,” ucap Azwar.
Sementara itu, dosen politik UIN Alauddin Makassar Dr Firdaus Muhammad menilai jika IAS memiliki pengaruh politik. Tapi tidak ada garansi adanya fenomena sirkulasi elite.
“Ketokohan Syahrul Yasin Limpo misalnya mulai kurang dijual. Khawatirnya IAS juga begitu. Sebaiknya IAS lebih fokus pada kegiatan sosial yang langsung bersentuhan masyarakat,” pungkas Firdaus. (rif)


www.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa PPOB dll
Comments

Social Media

Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top