PESANTREN AN-NUR TOMPOBULU
Headline

OTT Dua Guru Terkait Bisnis Pembuatan PTK

IST DITAHAN-Kapolres Gowa AKBP Shinto Silitonga, didampingi Kadis Pendidikan Sulsel Irman Yasin Limpo, Ketua IGI Pusat Ramli Rahim, dan Sekretaris PGRI Kabupaten Gowa merilis kasus OTT terhadap dua oknum guru yang kesemuanya perempuan.

GOWA, BKM — Dua orang guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kabupaten Gowa kini ditahan di mapolres setempat. Mereka sebelumnya terjaring dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) petugas di Jalan Masjid Raya, Sungguminasa.
Kedua guru SMK dan semuanya perempuan itu masing-masing AJ (32) berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN), serta HSW (37), seorang guru honorer. Keduanya mengajar di tempat berbeda.
Polisi menangkap mereka setelah dilaporkan seorang guru yang menjadi korbannya. Kapolres Gowa AKBP Shinto Silitonga merilis kasus tersebut, Rabu siang (15/5). Turut hadir Kepala Dinas Pendidikan Sulsel Irman Yasin Limpo, Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) Pusat Sulsel Ramli Rahim, dan Sekretaris PGI Kabupatrn Gowa Imanuddin.
Kapolres menjelaskan, dalam aksinya, AJ dan HSW membuka jasa pembuatan PTK (Penelitian Tindakan Kelas) dan PKG sebagai syarat kenaikan pangkat bagi guru. Hal itu sesuai dengan Permendiknas No 16 tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru.
”Saat OTT, dari tangan AJ ditemukan uang sebesar Rp1 juta. Selanjutnya dilakukan penggeledahan di rumah AJ. Ditemukan uang senilai Rp4 juta. Sehingga total uang yang diamankan sebesar Rp5 juta,” terang Shinto Silitonga.
Sementara dari tangan HSW yang menjadi rekan kerjanya, polisi mengamankan satu unit laptop, satu unit gawai, satu unit printer, dan beberapa dokumen PTK dan PKG.
”Korbannya seorang perempuan berinisial WS (42). Dia guru ASN sebuah SMK di Gowa,” ujarnya.
WS kala itu hendak mengurus kenaikan pangkat, dari golongan IIIa ke IIIb. Sebenarnya, ia memiliki kompetensi untuk menulis sendiri PTK dan PKG-nya. Namun mendapat hambatan ketika pengajuan PTK dan PKG-nya di sekolah.
WS kemudian diarahkan untuk menggunakan jasa AJ dan HSW jika ingin lulus dalam kualifikasi pembuatan PTK dan PKG-nya. Bagi WS, arahan AJ ini seolah-olah dikunci. Tidak ada jalan lain yang dapat dilakukannya selain melalui AJ dan HSW.
Oleh AJ, korban kemudian dimintai uang Rp1 juta sebagai panjar dari kesepakatan jasa senilai Rp2 juta untuk pembuatan PTK dan PKG tersebut. Karena permintaan itu, korban pun keberatan. Selain karena korban bisa membuat PTK dan PKG sendiri, uang yang diminta itu dapat digunakan untuk kebutuhan keluarga. Karenya korban pun melapor ke polisi.
WS melaporkan sindikasi pembuatan PTK dan PKG tersebut ke Dinas Pendidikan Provinsi Sulsel. Disdik Sulsel kemudian bekerja sama dengan Polres Gowa untuk melakukan OTT terhadap kedua pelaku.
Dari pemeriksaan keduanya, terungkap bahwa AJ dan HSW sudah beberapa kali melakoni perbuatannya. Ia memberikan jasa pembuatan PTK dan PKG kepada beberapa guru yang ingin naik pangkat.
Ironisnya, pembuatan PTK tersebut dilakukan dengan cara plagiat (menjiplak karya tulis orang lain). Ia mengambil dari internet dan memodifikasinya, seolah-olah itu adalah karya tulis AJ dan HSW.
Shinto Silitonga kemudian memberi contoh praktik plagiarisme yang dilakukan keduanya. Karya tulis yang asli didownload dari internet berjudul; Peningkatan Kemampuan Menulis Cerpen Melalui Teknik Pengandaian Diri Sebagai Tokoh Dalam Cerita Dengan Media Audio Visual Pada Siswa Kelas X4 SMAN 2 Tegal, dengan penulis Nurul Melti Indah Septiani.
Hasil plagiarismenya kemudian diubah judulnya menjadi; Penelitian Tindakan Kelas Peningkatan Kemampuan Menulis Cerpen Melalui Teknik Pengandaian Diri Sebagai Tokoh Dalam Cerita Dengan Media Audio Visual Pada Siswa Kelas X Otomotif SMK Negeri 3 Gowa, dengan penulis Syamsiah,SPd.
Dari hasil diskusi penyidik Satreskrim Polres Gowa dengan Diknas Provinsi Sulsel, juga dari pemeriksaan AJ dan HSW, lanjut Shinto, diyakini bahwa modus serupa terjadi di beberapa sekolah lainnya dengan melibatkan sindikasi yang berbeda-beda. Bahkan menjadi modus di sekolah-sekolah dengan memanfaatkan para guru yang akan naik pangkat untuk meraup keuntungan secara paksa.
“Iya, karena jika tidak melalui sindikasi tersebut, maka PTK dan PKG yang diajukan oleh sang guru tidak akan diproses lebih lanjut. Makanya, Polres Gowa mengapresiasi korban yang telah menjadi pioneer dalam membuka tabir sindikasi dengan modus tersebut, dan berkomitmen untuk membongkar sindikasi yang sama di sekolah-sekolah yang ada di Gowa,” kata Shinto lagi.
Terhadap AJ dan HSW, penyidik menjerat dengan Undang-undang No 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, dan UU No 28 Tahun 2014.
Dihubungi terpisah, Kadisdik Sulsel Irman YL mengakui adanya dua oknum guru yang terjaring OTT Polres Gowa. Mereka disinyalir terlibat dalam pembuatan PTK bagi guru-guru yang ingin naik pangkat.
“Jadi guru yang mau naik pangkat, disyaratkan membuat semacam makalah PTK. Nah, PTK inilah yang dibisniskan,” ujar None.
Mantan Kepala Badan Diklat Sulsel itu melanjutkan, praktik jual beli PTK ini sudah lama dilakukan. Jadi ada semacam sindikat yang meminta sang oknum guru untuk membuatkan PTK tersebut dengan imbalan tertentu.
Begitu mendapat laporan, None bersama tim Saber Pungli Inspektorat dan Polres Gowa pun bergerak melakukan OTT di bulan Apri lalu. (sar-rhm/rus)


www.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa PPOB dll
Comments

Social Media

Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top