Headline

Pilih Liburan, Golput Mengancam

MAKASSAR, BKM — Pemerintah menetapkan hari libur pada pencoblosan 17 April mendatang. Muncul kekhawatiran, pada hari itu akan banyak wajib pilih yang memilih untuk berlibur dari pada menyalurkan hak suaranya.
Politisi Partai Golkar Sulsel HA Kadir Halid menjelaskan, pemilih dengan status menengah ke atas yang paling banyak peluang untuk pergi rekreasi pada hari libur itu.
Namun, legislator Partai Demokrat Sulsel Selle KS Dalle punya pendapat berbeda. Kata dia, biasanya saat pileg berlangsung, tingkat partisipasi pemilih tinggi. “Karena semua caleg berusaha secara maksimal memobilisasi dan memastikan pemilih untuk datang ke tempat pemungutan suara,” ujar Selle, kemarin.
Soal hari libur sehingga berpotensi warga lebih memilih rekreasi, juga ditentang politisi Partai Gerindra Yusran Sofyan. Yusran yang juga wakil ketua DPRD Sulsel ini mengaku tidak yakin.
“Ha…ha…ha… ada-ada saja. Rekreasi kan bisa sekali seminggu. Pemilu itu 5 tahun sekali. Yang tepat itu mereka rekreasi setelah menggunakan hak pilihnya. Masyarakat yang menggunakan hak pilih justru bisa bangga, karena telah mengambil bagian dalam menentukan arah dan kebijakan pemimpin di masa yang akan datang,” ujar Yusran Sofyan.
Ppolitisi Partai Amanat Nasional (PAN) Andi Irwandi Natsir, mengemukakan bahwa massifnya pemberitaan media televisi maupun cetak terkait pemilu ke depan tentu akan mengurangi persentase golput dibanding pemilu sebelumnya.
“Apalagi pemilu saat ini bersamaan dengan pilpres akan semakin menambah semangat dan antusiasme warga untuk datang ke TPS,” ujar Andi Irwandi Natsir.
Meski demikian, Irwandi yang juga anggota komisi D DPRD Sulsel ini mengungkapkan, ketatnya Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) dalam melakukan pengawasan bisa menimbulkan efek banyaknya surat suara batal ataupun salah coblos. Karena ruang caleg untuk melakukan sosialisasi sangat terbatas.
Terkait dengan warga pergi rekreasi pada saat hari libur tanggal 17, mantan wakil ketua DPRD Bone ini mengatakan tidak mengapa dikesankan seperti itu, agar makna pesta demokrasi tidak terlalu menyeramkan. “Walau substansi pemilu mesti tetap terjaga,” ucapnya.
Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Sulsel Rudi Pieter Goni (RPG), mengakui jika kemungkinan itu ada.
“Di situlah tugas seluruh elemen bangsa untuk mengingatkan bahwa mencoblos dalam 5 tahun sekali adalah bagian penting dalam kehidupan bangsa ini,” ujar RPG.
Anggota DPRD Sulsel dua periode ini juga menegaskan, bila yang datang pada pemilu juga merupakan pahlawan. “Pahlawan pemilu yang hadir dalam pencoblosan,” tandasnya.
Politisi Partai Hanura Sulsel Wawan Mattaliu, enggan berkomentar panjang soal adanya potensi golput yang besar di pileg dan pilpres nanti. Dirinya juga tak setuju jika warga lebih memilih rekreasi ketimbang datang ke TPS. “Setuju kalau rekreasi ke TPS nanti,” ucap Wawan Mattaliu.
Pemerhati politik dari SSI Whiliady Mansyur mengemukakan, bahwa kalau dilihat data terakhir survei hanya sekitar 8 persen yang belum menentukan sikap terkait pilpres dan pileg yang dihelat serentak. “Dari 8 persen ini mayoritas mereka mengatakan hanya tinggal di rumah sambil nonton. Atau istirahat untuk pergi rekreasi agak kecil dikarenakan tanggal 17 April gaji mereka sudah menipis. Buruh harian juga belum gajian,”ujar Whiliady.
Adapun yang mengatakan acuh dengan pilpres serta pileg dan akan bepergian ke luar kota atau keluar negeri, angkanya kecil.
Pengamat politik Dr Azwar Hasan juga memberikan tanggapan. Menurut dia, bisa saja itu terjadi, mengingat belum ada sanksi bagi yang golput. “Dan menurut survei, hingga saat ini masih ada di atas 10 persen yang belum menentukan sikap. Di samping itu, sosialisasi partisipasi pemilih belum maksimal secara massif dikampanyekan oleh penyelenggara pemilu,” jelas Azwar.
Dosen politik UIN Alauddin Dr Firdaus Muhammad menilai jika potensi golput memang tinggi. Salah satunya faktor kesadaran sebagai warga negara yang sejatinya turut berpartisipasi dalam memilih pemimpin.
“Akibatnya ada calon pemilih yang bisa saja liburan pada hari pencoblosan. Tentu harapan kita tidak golput. Tapi masyarakat juga tidak bisa dipaksakan,” pungkas Firdaus. (rif)


www.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa PPOB dll
Comments

Social Media

Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top