Politik

Hasanuddin Tisi Siap Perjuangkan Kesejahteraan Petani Sulsel

Caleg DPR RI dari Partai Hanura, Hasanuddin Tisi sudah mulai massif menyebar alat peraga kampanye di sejumlah titik di daerah pemilihan Sulsel 1 meliputi Makassar, Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng dan Selayar.

MAKASSAR, BKM — Caleg DPR RI dari Partai Hanura, Hasanuddin Tisi menegaskan siap memperjuangkan nasib petani jika ia terpilih sebagai anggota DPR RI pada Pemilu 17 April nanti.

Menurut Hasti, demikian ia selalu disapa, saat ini di sejumlah kabupaten di daerah pemilihannya di Sulsel 1 sudah hampir musim panen. Tetapi, kadang musim panen tidak segaris dengan kesejahteraan petani.

“Dalam konsep ekonomi kerakyatan menyebutkan bahwa prinsip dasar ekonomi ada 3, yaitu produksi, konsumsi dan distribusi.
Berbicara masalah ekonomi kerakyatan, tentu mashabnya adalah mengenai pembelaan terhadap inters atau kepentingan rakyat kecil atau masyarakat ekonomi rendah. Masyarakat yang memiliki ekonomi rendah selalu terpusat ke pedesaan dimana mayoritas penduduknya adalah petani,” kata Hasti yang pernah bertarung di Pilkada Takalar 2007 lalu.

Hasti menegaskan,  petani adalah pahlawan tanpa tanda jasa karena kebutuhan pangan masyarakat pedesaan dan perkotaan semuanya berasal dari kerja keras sang petani.

Menurut caleg di daerah pemilihan (dapil) I Sulsel meliputi Makassar, Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng dan Selayar ini, bahwa Sulawesi Selatan merupakan daerah penghasil tanaman pangan terbesar di Kawasan Timur Indonesia. Seperti padi dan jagung sebagai komoditas tanaman pangan andalan.  Selain itu petani juga menanam cabai, tomat, wortel, kacang panjang, kacang tanah, ubi, wortel, dan lain-lain.

“Ironisnya mereka sudah menyiapkan kita sumber energi berupa pangan, akan tetapi masih banyak petani hidup di bawah garis kemiskinan. Misalnya saja di Sulawesi Selatan, di saat panen raya produk pertanian melimpah, maka hukum ekonomi berlaku yaitu harga murah. Demikian juga sebaliknya di saat paceklik, tentu produk pertanian kurang, hukum ekonomi kembali berlaku harga tinggi. Tapi yang menikmati bukan para petani akan tetapi yang menikmati adalah pemilik-pemilik modal yang sedang membeli dan menimbun hasil,” jelas Hasti.

Dengan kondisi tersebut, Hasti menilai, jika konsep ekonomi kerakyatan khususnya buat para petani belum dilaksanakan secara maksimal.

“Seharusnya yang paling pertama dan mendasar kita lakukan adalah memberikan nilai tambah produk pertanian sehingga petani sebagai produsen dapat bertindak sebagai pemasar,” kata Hasti.

Tapi, lanjutnya, masalah lain kemudian muncul ketika petani tidak punya modal untuk menahan produknya. Pasalnnya, sebelum panen, terkadang mereka sudah menggadaikan tanamannya dengan harga yang murah karena kekurangan modal untuk memulai kegiatan pertanian di musim tanam.

“Berarti  petani butuh bantuan modal. Tapi kemana petani bisa dapat modal. Tentu bisa melalui pinjaman modal dari bank yang dipersiapkan memberi kredit bagi petani. Tapi kendalanya untuk meminjam ke bank mereka tidak punya jaminan. Untuk menghadapi masalah tersebut mereka membutuhkan rentenir yang tak memerlukan jaminan akan tetapi dengan pengembalian yang berlipat ganda. Dalam kondisi ini, petani kembali tak bedaya,” jelasnya.

Melihat masalah yang dihadapi petani, Hasti mengatakan, jika saat ini kita perlu lebih memahami kebutuhan yang paling dirasakan oleh petani.

Selain itu, lanjutnya, perlu analisis masalah dan kebutuhan. Apakah petani butuh peralatan canggih, mulai mesin tanam, mesin pemeliharaan dan bahkan mesin panen.

“Perlu diingat bahwa terkadang keberadaan mesin-mesin ini justru membuat para buruh tani yang sudah tidak memiliki lahan justru kehilangan pekerjaan. Kalau masalahnya seperti ini, bukan mesin yang paling mereka butuhkan, mesin hanyalah sebuah alat, tapi yang paling mereka butuhkan untuk dapat keluar dari masalah tersebut,” jelasnya.

Hasti mengatakan, yang dibutuhkan petani adalah lembaga yang akan membantu mereka  menyiapkan sarana produksi dengan pinjaman tanpa bunga.

Selain itu, lanjutnya, petani butuh bantuan dalam mengolah produk pertanian disaat melimpah dengan menyiapkan pengolahan yang memberikan nilai tambah terhadap produk pertanian.

“Selain itu yang dibutuhkan petani adalah menyiapkan dan mencarikan pasar buat produk yang sudah ada,” katanya.

“Saya kira konsep dan program ekonomi kerakyatan yang seperti ini butuh dukungan kebijakan dari pemerintah. Tentunya ini adalah salah satu yang menjadi perhatian utama saya ke depan bila terpilih, Insya Allah,” tegasnya. (rls)


www.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa PPOB dll
Comments

Social Media

Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top