Metro

Karpet Bulu Domba dengan Motif Unik Disenangi Konsumen


Dimas Pedagang Karpet dari Batam dan Malaysia di Poros Hertasning Baru (1)

DULU karpet atau yang sering kita kenal dengan permadani merupakan barang mewah. Selain harganya cukup mahal, kita juga agak kesulitan untuk mendapatkan motif yang sesuai dengan selera. Sekarang karpet sudah mudah didapatkan, seperti yang dipajang oleh Dimas di Jalan Hertasning Baru -Aroepala.

Laporan: JUNI SEWANG

Saat ini karpet bukan lagi merupakan barang mewah lagi. Di setiap rumah minimal mempunyai satu atau lebih karpet.
Selain corak dan motifnya bermacam- macam, karpet juga mempunyai kualitas yang berbeda- beda sesuai dengan harga dan penggunaannya.
Bagi kaum awam, karpet mungkin bukan sebuah kebutuhan primer. Karpet hanya menjadi sebuah alas keramik yang digelar di ruang keluarga atau hiasan rumah yang digelar di ruang tamu sehingga ruangan lebih cantik. Namun, bagi masyarakat kalangan menengah-atas, karpet atau permadani adalah barang penting yang wajib dimiliki untuk melengkapi desain interior rumah.
Kebutuhan akan karpet yang semakin tinggi, mendorong Dimas, menerjuni bisnis ini.
Kepada penulis ia mengungkapkan, karpet yang terbuat dari pintalan atau rajutan wol bulu domba dengan motif yang unik lebih diburu para kalangan papan atas. Pasalnya, karpet yang terbuat dari materi itu lebih terasa nyaman saat menyentuhnya dibandingkan dengan karpet hasil mesin pabrik. Dimas juga menjelaskan saat ini produknya ia ambil dari Batam, yang datang dari Malaysia.
“Masyarakat Sulawesi tertarik dari motif, hal ini masih menduduki peringkat terbaik dibandingkan kualitas. Selain motif yang unik, karpet yang lembut, serta menggunakan warna yang menarik yang banyak diburu pembeli,” kata Dimas.
Pria kelahiran, Bone 10 Maret 2000 ini menambahkan, bicara permadani pastinya terbayang soal motif, dimana motif bunga dan abstrak menjadi motif yang awam dijumpai. Secara umum, motif karpet dibedakan atas dua jenis, yakni klasik dan modern.
Motif klasik biasanya memiliki banyak hiasan, dapat dilihat pada karpet dari Persia, mulai motif floral, geometrik, sampai motif kombinasi. Adapun motif modern terlihat lebih sederhana, hanya perpaduan garis dan warna yang lebih tegas. Motif klasik biasanya menjadi incaran para kaum papan atas karena terlihat lebih elegan dan tidak pasaran. Untuk karpet yang terbuat dari serat alami atau hasil buatan tangan memang memberi nilai lebih dengan menguatkan aksen lebih mewah, namun tetap natural.
“Dengan berjualan permadani saya dapat menghasilkan Rp13 juta/ hari, dengan pendapatan bersih Rp2-3 juta/ hari,” kata Dimas.(jun)


www.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa PPOB dll
Comments
To Top