Headline

SD Digabung Terbanyak di Makassar-Rappocini


MAKASSAR, BKM — Penggabungan atau regrouping sekolah dasar (SD) di Kota Makassar tak lama lagi direalisasikan. Dari hasil pendataan yang dilakukan Dinas Pendidikan (Disdik), tidak semua kecamatan memiliki SD yang digabung. Sebaliknya, ada wilayah kecamatan yang SDnya cukup banyak untuk disatukan.
Munir selaku kepala Bidang Pendidikan Dasar (Dikdas) Disdik Makassar, memberikan rincian penggabungan itu. Dia menyebut, ada 47 SD yang akan dimerger. Sehingga total SD yang sebelumnya 499, nantinya berkurang menjadi 452 unit.
Angka 499, menurut Munir, merupakan gabungan dari SD negeri dan swasta. Rinciannya, 363 SD negeri dan 136 SD swasta. Namun, yang digabung hanya sekolah negeri. Sehingga dengan digabungnya 47 unit SD, tersisa nantinya 316 SD.
Munir juga merinci jumlah sekolah yang dimerger pada masing-masing kecamatan. Terbanyak adalah Kecamatan Makassar dan Rappocini. Masing-masing ada delapan SD digabung.
Di Kecamatan Makassar ada delapan SD yang dimerger. Sehingga jumlah SD yang sebelumnya 40 unit, berkurang menjadi 32 unit.
Demikian pula di Kecamatan Rappocini. Ada delapan SD digabung. Sehingga tersisa 43 SD, dari sebelumnya 51 sekolah.
Disusul kemudian Kecamatan Wajo. Ada lima SD yang akan digabung. Sehingga tersisa delapan sekolah, dari sebelumnya 13 SD.
Penggabungan dengan jumlah yang sama berlaku di Kecamatan Mariso. Dari 20 SD yang ada saat ini, nantinya tinggal 15 SD.
Untuk Kecamatan
Di Kecamatan Ujungpandang, ada dua SD digabung. Sehingga dari 31 yang ada sekarang, berkurang menjadi 29.
Untuk KecamatanUjung Tanah, terdapat pula dua sekolah dimerger. Jadi akan berkurang dari 21 menjadi 19 sekolah.
Di Kecamatan Mamajang yang saat ini terdapat 26 SD, nantinya tinggal 25. Artinya, ada satu SD yang dilebur.
Di Kecamatan Bontoala, ada dua sekolah digabung. Dari saat ini 24 unit, berkurang menjadi 22. Kecamatan Panakkukang berkurang dari 53 unit menjadi 49. Dan Kecamatan Tamalanrea, sebelumnya 45 menjadi 34.
Sementara Kecamatan Manggala yang memiliki 40 SD, Biringkanaya 51 SD, Tallo 47 SD, tidak ada yang digabung.
Menurut Munir, survei untuk pelaksanaan regrouping ini telah dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan. Ada empat kecamatan yang sudah disurvei. Yakni Rappocini, Makassar, Wajo, dan Ujung Pandang.
Dari empat kecamatan tersebut, Munir mengatakan, terdapat SD yang memang layak untuk dimerger. Penggabungan ini akan dilaksanakan segera setelah semua survei selesai.
“Secepatnya kita laksanakan regrouping ini. Memang tidak mudah untuk melakukan survei ke semua sekolah. Makanya, tidak bisa langsung semua. Setidaknya empat kecamatan dulu,” kata Munir, Jumat (1/2).

SMP Jadi 56

Selain penggabungan SD, Disdik Kota Makassar juga bakal mengelompokkan kembali 47 Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang ada saat ini. Tujuannya untuk memastikan seluruh kecamatan sudah memiliki SMP.
Kepala Seksi Kurikulum Disdik Makassar Syarifuddin mengatakan, regrouping dilakukan lantaran jika direkapitulasi, ada kecamatan yang tidak punya SMP. Jadi setelah penggabungan, jumlah SMP di Makassar yang awalnya hanya 45 akan bertambah menjadi 56. Atau ada 11 SMP baru.
Jika 11 SMP baru tersebut terealisasi, ada tujuh kecamatan yang kebagian.Masing-masing dua untuk Kecamatan Makassar, dua di Rappocini, dua di Wajo 2, satu di Manggala, satu di Mariso, satu di Ujung Pandang, dan dua di Tamalate.

Hemat Anggaran

Dihubungi terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar Abdul Rahman Bando menilai, regrouping SD merupakan bentuk penghematan anggaran tanpa memberikan beban pada APBD.
“Dibanding harus membeli lahan untuk membangun sekolah baru, mendingan kita ciptakan solusi. Ini jadi solusi menurut saya. Daripada bangun baru,” tegas Rahman.
Pengamat pendidikan yang juga Guru Besar Universitas Negeri Makassar Prof dr Arismunandar, menyebut regrouping sekolah merupakan ide yang bagus, walaupun kebijakan tersebut terlambat dilakukan.
”Saya berpikira rencana itu bagus. Namun harus didata dulu sekolah mana saja. Termasuk wilayah mana yang butuh. Kedua, lihat faktor efisiensinya,” ujar mantan Rektor UNM ini, Jumat (1/2).
Pendataan yang dimaksud Arismunandar, adalah membuat sebuah database pemetaan kebutuhan pendidikan per sekolah yang bisa menampung siswa. Sehingga dengan adanya penggabungan tersebut, keberadaan sekoleh lebih efektif.
“Kalau kota-kota lain sudah lama melakukan hal seperti itu. Tapi saya kira, walaupun terlambat rencana ini baguslah. Apalagi ada keinginan pemerintah untuk mengurangi jumlah SD secara bertahap,” terang Arismunandar.
Ia kemudian mencontohkan SD di kompleks Bawakaraeng yang layak untuk disatukan. Begitu pula di SD Mangkura.
Bentuk penggabungan ini dinilai akan memberikan banyak keuntungan. Salah satunya adalah penghematan anggaran. Sebab pemerintah kota bisa menghemat pos bantuan operasional sekolah (BOS).
“Iya betul. Beban APBN dan APBD kita bisa lebih ringan. Pemerintah bisa berhemat dengan penggabungan itu. Jika misalnya SD digabung menjadi satu, tinggal ada satu kepala sekolah dengan 3 wakil kepala sekolah. Guru-guru juga sudah bisa dipetakan,” tandasnya.
Harapannya, lanjut Arismunandar, dengan kebijakan itu pula sistem pemetaan dan zonasi siswa juga lebih jelas dan terukur. (nug-ita/rus)


www.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa PPOB dll
Comments

Social Media

Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top