PESANTREN AN-NUR TOMPOBULU
Metro

Sangat Bahagia Jika Ibu Sibuk Siapkan Bekal di Perahu

BKM/JUNI SEWANG PILIHAN--Bagi Abdul Azis (topi hitam) mengaku menjadi nelayan adalah pilihan. Apalagi, sejak kecil sudah diperkenalkan kehidupan laut oleh orang tuanya.

HIDUP kata kebanyakan orang adalah sebuah pilihan. Setiap orang berhak memilih arah hidupnya masing-masing. Aku juga punya pilihan, itulah yang yang dikatakan oleh Abdul Azis yang menghabiskan hidupnya di laut sebagai nelayan.

Laporan: JUNI SEWANG

Pria kelahiran Bungung Bella, Galesong Selatan Kabupaten Takalar 1995 ini menceritakan, sejak kecil dirinya sudah ditemani pantai, lautan, perahu dan ikan-ikan. Posisi rumah dimana ia tumbuh besar halaman belakang adalah pantai.
Tak salah jika kemudian pilihan hidupnya sekarang ini menjadi seorang nelayan. Hanya pekerjaan itu yang bisa ialakukan. “Aku bahagia. Pekerjaan yang dilakukan dengan hati dan semangat mambuat segala pekerjaan menjadi mudah. Pekerjaan sebagai nelayan mungkin menurut sebagian orang cukup melelahkan, tapi itu tidak untuk saya,” ujarnya kepada penulis, kemarin.
Memang jelas Azis, sangat melelahkan memang bagi sebagian orang yang baru tahu. Baginya yang berasal dari keluarga nelayan, yang sedari kecil terbiasa dengan semua itu, tentu bukanlah pekerjaan yang melelahkan. “Aku percaya bahwa inilah jalan tuhan yang diberikan padaku. Aku selalu bersyukur dengan semua itu. Aku yakin nelayan pun punya peranan penting dalam kehidupan. Kalau tidak ada nelayan, bagaimana bisa kita semua bisa menikmati lezatnya ikan dan makanan-makanan laut lainnya,” ujar Abdul Azis, saat menurunkan ikan di Pelabuhan Paotere Makassar.
Abdul Azis menceritakan saat semua orang terlelap tidur dalam dekapan dinginnya malam, ia dan ayahnya juga sanak saudara sudah harus bangun. Ibunya sibuk menyiapkan bekal untuk di perahu, sementara dirinya sibuk menyiapkan perlengkapan untuk berlayar di tengah laut, sebelum berangkat berharap pada ibunya doa dan restu selalu untuknya.
“Nelayan itu yang penting doa keluarga, ada sebuah semburan semangat yang saya dapatkan setelah ibu melakukan itu,” ujarnya.
Kebahagiaan yang aku dapatkan setelah pulang melaut bukanlah banyak tidaknya hasil laut yang aku dapatkan. Tapi saat ayahnya, sang nakhkoda kapal nelayan, tidak marah.
“Rasa bahagia itu muncul manakala bapak tidak marah marah karena hasil tangkapan seminggu di laut, segala lelah yang aku dapatkan selama melaut menguap begitu saja. Semangatku untuk membahagiakan orang tua semakin terpatri dalam hatiku. Aku bertambah bahagia saat aku dan teman sekapal berjibaku memilih ikan untuk dijual. Saya tahu pekerjaan menjadi seorang nelayan bukanlah pekerjaan yang cukup bagus digeluti hingga nantinya saya berkeluarga. Tapi dengan pendidikan tamatan SD saya bisa apa, dan keterampilan hanya ini,” kata Azis. (*)

Comments

Social Media

Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top