Headline

Puluhan SD Layak Digabung


Rahman Bando Beber Problematika Pendidikan di Mempoki ri BKM

MAKASSAR, BKM — Dr H Abd Rahman Bando belum cukup sebulan menjabat sebagai kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar. Dalam waktu sangat singkat itu, ia mencoba mendeteksi apa permasalahan di instansi yang kini dipimpinnya.
Ternyata, ada banyak problematika yang ditemukannya. Dia pun membeberkannya pada sesi diskusi Mempoki ri BKM (Membahas Problematika Kota Kita di BKM), Kamis (10/1).
Ia memulainya dari fenomena klasik yang kerap terjadi saat penamatan sekolah berlangsung. Siswa yang lulus, baik pada tingkat Sekolah Dasar (SD) maupun Sekolah Menengah Pertama (SMP) tidak pernah pulang ke rumah dan langsung membawa ijazahnya.
”Saya mencoba mencari tahun kenapa hal seperti ini selalu terjadi dan tidak bisa diselesaikan. Ternyata, penerbitan ijazah terkait langsung dengan pusat. Karena itu saya berpikir ini permasalahan harus disuarakan. Bagaimana caranya agar ijazah bisa diterima begitu siswa selesai mengikuti prosesi penamatan di sekolahnya,” jelas Rahman Bando.
Selanjutnya, mantan kepala Dinas Kelautan, Perikanan, dan Peternakan Kota Makassar ini menggulirkan wacana tentang zonasi guru. Dari fakta yang ditemukannya, banyak guru yang rumahnya terletak jauh dari sekolah yang ditempatinya mengajar. Kondisi ini juga diindikasikan menjadi salah satu pemicu terjadinya kemacetan parah yang rutin terjadi di pagi hari.
”Contohnya seperti ini. Ada guru yang tinggal di Sudiang, tapi mengajarnya di Cendrawasih. Ada yang tinggal di Minasa Upa, sekolahnya di Tamalanrea sana. Bahkan ada yang rumahnya di Gowa, tempat mengajarnya di Tallo. Mereka inilah yang memenuhi ruas jalan di Makassar ketika hendak berangkat mengajar,” beber Rahman.
Menyikapi fakta seperti itu, Rahman Bando menyebut zonasi guru sebagai solusi. Artinya, guru ditempatkan di sekolah yang lokasinya berada tak jauh dari tempat tinggalnya. Kecuali pada tingkat top manajemen alias kepala sekolah, tidak mesti memperhitungkan lokasi sekolah dan rumahnya.
Hal tersebut, dinilai Rahman juga bisa menghilangkan sekat antara sekolah berstatus unggulan atau favorit dengan yang tidak. Sebab guru tidak lagi berkumpul dalam satu sekolah unggulan.
”Contohnya SMP 6. Itu kan sekolah favorit dan unggulan. Siswanya anak dari keluarga mampu dengan tingkat pengetahuan yang lebih baik. Guru-gurunya tentu juga yang hebat-hebat berkumpul di situ. Bagaimana dengan sekolah lain yang non unggulan? Nah, dengan zonasi guru masalah ini bisa kita atasi. Tidak ada lagi istilah sekolah favorit, karena guru terdistribusi secara merata,” papar adik kandung Bupati Enrekang Muslimin Bando ini.
Fakta lain yang diungkap Rahman adalah kondisi sekolah. Dari hasil penelusurannya, ternyata banyak sekolah, khususnya SD yang layak untuk digabung. Seperti adanya tiga sekolah yang berada dalam satu kompleks. Sementara siswanya hanya berkisar 300 orang.
”Artinya, satu sekolah hanya memiliki kurang lebih 100 siswa. Sekolah seperti ini layak untuk dimerger. Jika dihitung-hitung, ada 20 hingga 40 SD yang bisa digabung,” terangnya.
Permasalahan lain pada sekolah yang ada dalam satu kompleks, yakni urusan fasilitas umum seperti musallah dan WC. ”Ada sekolah berada dalam satu kompleks yang saya datangi dan tanya kepala sekolahnya. Siapa yang biasanya mengurusi masalah kebersihannya. Ternyata saling tunjuk. Akibatnya, fasilitas umum tersebut tak mendapat fokus perhatian,” bebernya.
Diakui Rahman Bando, penggabungan SD ini juga sejalan dengan keberadaan jumlah SMP. Saat ini tercatat ada 363 gedung SD negeri, dan swasta sebanyak 136 gedung SD. Adapun gedung SMP Negeri hanya 45, dan SMP sawasta 164. Bahkan ada satu kecamatan sama sekali tidak mempunyai gedung sekolah SMP negeri di wilayahnya, yakni Kecamatan Makassar.
“Saya optimis tahun ini penggabungan sudah dapat dilakukan. Tapi prosesnya panjang karena harus menunggu anak-anak kelas tiga selesai ujian. Setelah itu, menelaah semua, dan melaporkan ke bapak wali kota. Kalau dapat persetujuan, pasti kami langsung action,” kata Rahman.
Persoalan infrastruktur sekolah juga tak kalah pentingnya bagi Disdik. Sebab masih banyak sekolah di Makassar terendam air ketika hujan turun. Pemicunya adalah, banyak pembangunan baik jalan ataupun perumahan yang berdiri setelah ada sekolah, namun tidak memperhatikan gorong-gorong saluran air. Dampaknya, sekolah yang lebih rendah dari jalan atau bangunan baru airnya masuk dan menggenangi sekolah tersebut.
Rahman juga menyinggung tentang keberadaan sekolah Adiwiyata di Makassar. Jika sekolah ini sudah mencatatkan prestasinya, maka Rahman ingin mendorong para guru dan kepala sekolahnya untuk berwawasan Adiwiyata.
”Caranya seperti ini. Guru-guru dan kepala sekolah nantinya diwajibkan untuk menanam pohon, memeliharanya hingga tumbuh dengan baik. Terserah lokasinya di mana. Ada banyak lahan terbuka yang bisa ditanami,” jelasnya.
Untuk praktik pungutan liar (pungli), baik yang terjadi pada saat penerimaan siswa baru (PSB) maupun dalam proses belajar mengajar, Rahman berjanji melakukan pembenahan. Khususnya di internal.
Karenanya, dia juga mendorong pelaksanaan PSB menggunakan sistem online. Hanya saja yang menjadi kendalanya belum ada payung hukum untuk itu.
”Ini semua akan saya sampaikan ke Pak Wali. Karena akan ada banyak tantangan dalam melaksanakannya. Namun, jika sudah ada payung hukum yang jelas dan modern, saya yakni semuanya pasti bisa menerima. Contohnya dalam seleksi penerimaan CPNS baru-baru ini. Dengan sistem online, saya kira semua dapat menerima hasilnya. Tak ada yang protes,” tandasnya.
Sebagai kepala dinas yang baru, Rahman juga menaruh perhatian terhadap gedung yang ditempatinya berkantor saat ini. Kondisinya yang tak lagi reprsentatif perlu mendapat perhatian. Karenanya, ia berencana untuk segera melakukan pembenahan.
”Karena saya masuk setelah APBD disahkan, tentu tak bisa lagi mengusulkan untuk pembangunan dalam skala besar. Jadi yang bisa dilakukan adalah pembenahan sedikit demi sedikit agar kantor Disdik lebih representatif lagi,” tandasnya.
Terkait pembenahan internal, Rahman Bando mengaku tengah melakukan sentuh hati terhadap pejabat, pegawai, bahkan hingga cleaning service yang ada di kantornya. Tujuannya agar terjalin hubungan serta komunikasi yang baik, sehingga tercipta suasana kerja yang nyaman pula. (arf/rus)


www.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa PPOB dll
Comments

Social Media

Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top