PESANTREN AN-NUR TOMPOBULU
Headline

”Dia Buka Tutup Handuknya saat Mandi”

Pengakuan Afriansyah, Tamatan SD yang Perdaya Polwan Pangkat Brigpol

MAKASSAR, BKM — DW kini tak lagi menyandang status sebagai anggota polri. Ia dipecat di pengujung tahun 2018 lalu, akibat kelalaiannya berpose tak layak.
Hal itu dilakukannya kala ia terpedaya dengan seorang pria yang mengaku sebagai anggota polri lainnya berpangkat komisaris polisi (kompol). Meski baru berkenalan, DW yang ketika itu bertugas di unit Sabhara Polrestabes Makassar, nekat tampil buka-bukaan.
Belakangan terungkap jika ‘kompol’ tersebut bernama Muhammad Afriansyah. Seorang narapidana yang tengah menjalani hukuman di Lapas Klas IIB Wata Agung, Lampung. Afriansyah mendekam dalam sel sejak tahun 2014. Ia terjerat kasus pembunuhan.
Sejak November 2018 lalu, Afriansyah dipindahkan penahanannya ke Lapas Klas IA Makassar. Hal itu dilakukan atas permintaan penyidik Polda Sulsel guna memperlancar pemeriksaan dan pengusutan kasusnya.
BKM berhasil mewawancarai secara langsung Afriansyah di Lapas Klas IA Makassar, Senin (7/1). Mengenakan baju kaus warna abu-abu, bercelana kain hitam, Afriansyah duduk di sofa.
Perbincangan dengan BKM yang duduk di sampingnya berlangsung santai. Sesekali Afriansyah tersenyum dan tertawa ringan menceritakan perbuatannya.
Perawakan pria yang lahir di Gisting, Tenggamus, Provinsi Lampung, 7 Agustus 1994 ini tergolong kecil dan kurus. Muka tirus, serta warna kulit hitam. Tingginya kira-kira kurang lebih 160 cm. Ia hanyalah tamatan Sekolah Dasar (SD).
Meski tak bersekolah tinggi, Afriansyah mampu memperdayai DW ketika itu. Bahkan dari balik tembok penjara.
Bermula ketika ia tengah berselancar di dunia maya menggunakan gawai. Media sosial (medsos) Facebook (FB) menjadi tempatnya mencari pertemanan.
”Awalnya iseng-iseng cari teman lewat FB. Akhirnya ketemu dengan DW. Pertamanya hanya ngomong biasa. Setelah itu tukaran nomor HP,” ujar Afriansyah.
Dari saling tukaran nomor kontak gawai itulah, keduanya kemudian berkomunikasi. Menurut Afriansyah, ia sempat berbicara dengan DW cukup lama. Mulai dari pukul 15.00 Wita, hingga pukul 06.00 Wita keesokan harinya.
”Saya bicara sama dia dari sore sampai pagi esoknya. Itu saja kami komunikasi. Setelahnya kami tak pernah lagi berkomunikasi,” terang Afriansyah.
Awalnya, Afriansyah mengaku bertugas sebagai dokter kepolisian (dokpol) dengan pangkat kompol. Ia memasang profil orang lain yang dicomotnya dari Instagram.
Dalam percakapan yang berlangsung 15 jam itulah ada banyak hal terjadi. Hingga pada akhirnya Brigpol DW video call dengan pelaku, dan bersedia melakukan perbuatan tak sepantasnya di depan kamera gawai. DW bahkan bersedia akun FBnya digunakan dan memberikan kata sandinya.
”Waktu dini hari kami video call. Waktu itu dia berada dalam kamar mandi. Ia kemudian buka tutup handuk di badannya. Itu saya rekam menggunakan HP,” jelas Afriansyah.
Hasil rekaman dalam bentuk video itulah yang kemudian diubah oleh Afriansyah dalam bentuk foto. Potongan-potongan adegan Brigpol DW, khususnya ketika ia membuka handuknya, kemudian disimpannya. Selanjutnya dibagikan kepada dua orang rekan DW.
”Awalnya saya tidak tahu kalau dia polwan. Nanti setelah menjelang pagi dia bilang mau berangkat dinas ke polsek. Di situ baru saya tahu,” ujarnya.
Dalam pembicaraan antara keduanya, terungkap pula iming-iming dari Afriansyah untuk DW. Afriansyah berjanji akan membawakan mobil DW. Namun, terlebih dahulu Afriansyah meminta uang Rp2,5 juta. Alasannya, untuk dipakai mengantarkan mobil tersebut.
Tapi DW tak pernah mengirimkan uang yang dimintanya itu. Hingga akhirnya Afriansyah memainkan FB milik DW. Akun inilah yang kemudian dipakainya mengirim foto asusilasi kepada dua teman DW.
Menurut pengakuan Afriansyah, komunikasi antara dirinya dengan DW hanyalah di bulan Juli 2017 itu. Sebelum dan setelahnya tak pernah ada lagi. Hingga akhirnya ia didatangi penyidik Polda Sulsel yang mengusut kasus ini.
Saat ini, Afriansyah ditahan di Blok 2A kamar 8 Lapas Klas IA Makassar. Berkas perkaranya tengah diteliti oleh tim jaksa peneliti Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulsel.
Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejati Sulsel Salahuddin, membenarkan bahwa berkas kasus tersebut telah diterima. ”Berka perkaranya sudah kita terima dari polda. Untuk sementara masih diteliti oleh jaksa peneliti guna memastikan perkara tersebut telah memenuhi syarat, baik formil maupun materilnya,” ujar Salahuddin, kemarin. (jun-mat/rus)

Comments

Social Media

Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top