RAMZAH THABRAMAN
Headline

Tabung Uang dari Sampah untuk Kuliah Anak

IST NASABAH BANK SAMPAH-Petrus Bala (tengah) memperlihatkan buku rekening Bank Sampah miliknya. Ia bisa mendapatkan uang dari sampah, yang disisihkan untuk kuliah anak.

KEBERADAAN bank sampah di kekinian menjadi sangat bermanfaat. Selain meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan, juga bisa menjadi sumber pendapatan.

Laporan: Nugroho Nafika Kassa

SALAH seorang yang telah mendapat dan merasakan manfaat Bank Sampah adalah Petrus Bala, pelayan makan minum wali kota Makassar. Ia selama ini tercatat sebagai nasabah Bank Sampah Unit Balai Kota.
Kata Petrus –sapaan karibnya– sampah yang dikumpulkan setiap hari di balai kota akan ditimbang di Bank Sampah. Sampah ini biasanya dikumpulkan dari snack box pada setiap kegiatan yang ada di Ruang Pertemuan Balai Kota Makassar.
“Sampahnya itu dari snack box setiap ada kegiatan di ruang Sipakalebbi. Itu sisa dari tamu-tamu yang datang,” ujar Petrus, Kamis (6/12).
Menurut Petrus, sampah yang telah dikumpulkannya sebelum ditimbang. Setelah itu dipilah. Sampah yang biasanya ada di bawah meja ruangan dapur tempat ia membuat kopi setiap hari, bisa dimanfaatkan menjadi barang yang bernilai.
“Sudah 2 tahun saya menjadi nasabah Bank Sampah Balai Kota. Uang hasil tambungan saya disisihkan sebagian untuk anak saya yang masih kuliah,” terangnya.
Petrus mengakui sampah saat ini sudah bernilai ekonomi. Keberadaannya tentu sangat bermanfaat dalam menumbuhkan rasa cinta lingkungan.
“Baru kali ini ada program wali kota yang membuat saya jauh lebih peduli. Ini hanya cerita menginspirasi bahwa siapapun kita, jadi apapun kita sekarang, kepedulian lingkungan tetap harus ditumbuhkan,” ulasnya.
Lebih lanjut Petrus menegaskan bahwa saldo dari Bank Sampah milik dirinya sebesar Rp2,7 juta. Namun saldo itu tentu bukan jumlah secara keseluruhan hasilnya dari Bank Sampah. Karena dirinya telah beberapa kali mengambil saldo dari rekeningnya.
Petrus Bala, lahir di Pinrang 2 Oktober 1962. Sejak kecil ia menyukai dunia kuliner. Sebelum menjadi abdi negara di Pemkot Makassar, ia pernah menjadi pelayan selama empat tahun di restoran Bambuden, Jalan Gunung Latimojong, Makassar.
Berbekal kelihaiannya melayani dan menyuguhkan makanan serta minuman, Petrus langsung dijadikan sebagai pelayan wali kota saat mengajukan diri sebagai tenaga harian lepas pemkot tahun 1985.
Setahun kemudian, yakni tahun 1986, Petrus Bala diangkat oleh sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS).
Selama 33 tahun melayani, tiga wali kota yang memiliki kesan tersendiri di hati Petrus. Bayangkan saja, sudah sembilan wali kota yang telah ia layani hingga sekarang.
Kesibukannya melayani wali kota, tidak mengurangi aktivitas sosial Petrus. Saat ini ia tercatat sebagai Pengurus Kerukunan Batu Tallu Simbuang Mappaq Korwil Pampang.
Petrus menyebut, empat tahun lagi masa pengabdiannya sebagai pegawai negeri sipil akan berakhir. Ia memiliki keinginan untuk menikmati separuh masa pensiunnya di kampung halamannya Pinrang.
Namun kecintaannya terhadap pekerjaan tidak akan luntur meski telah memasuki purna bakti. Usai menikmati udara segar di kampungnya, Petrus berencana akan kembali mengajukan permohonan ke negara untuk menjadi pegawai kembali, meskipun telah pensiun.
“Kalau bisa, saya di sini saja terus. Sudah nyaman di sini. Anak-anak (pegawai) di sini sudah seperti keluarga saya,” ucap Petrus. (*/rus/b)

Comments

Social Media

Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top