RAMZAH THABRAMAN
Headline

”Kenapa Kau Datang Lagi,” Suami pun Bakar Istri

BARRU, BKM — Di sebuah ruangan penyidik Polres Barru, Rabu (5/12). Seorang pria duduk di sebuah kursi kayu.
Badannya cukup berisi. Rambutnya tercukur pendek dan rapi. Begitu pula cambangnya yang tipis.
Mengenakan baju kaus berkerah warna coklat motif garis-garis. Bercelana ukuran selutut warna senada. Ada corak kuning di samping dan pada bagian kantongnya.
Di kedua betis kiri dan kanan, terlihat perban berwarna putih masih melilit. Ada berkas di masing-masing bagian kaki. Sesekali terdengar desis meringis keluar dari mulutnya. Ia mencoba menahan sakit.
Luka tersebut adalah bekas tertembus peluru panas petugas kepolisian.
Pria ini ini adalah Abdul Arham. Berusia 45 tahun. Dialah yang begitu tega membakar istrinya sendiri Andi Umrah (38) di depan putrinya. Peristiwa tragis itu berlangsung di Kampung Pekkae, Kelurahan Lalolang, Kecamatan Tanete Rilau, Kabupaten Barru, Senin pagi (26/11) pukul 07.00 Wita.
BKM mewawancarai Arham, kemarin. Ia pun bercerita tentang penyebab hingga akhirnya gelap mata menganiaya istrinya sendiri.
”Saya terpaksa lakukan itu karena saya tidak terima digugat cerai. Saya masih sayang istriku. Juga keempat anakku,” tutur Arham dengan kepala tertunduk.
Jauh sebelum peristiwa tersebut terjadi, Arham sudah berkali-kali menyampaikan ke istrinya Andi Umrah untuk tidak sekali-kali melayangkan gugatan cerai. Namun, Umrah tak menghiraukannya. Bahkan, sebuah pesan singkat melalui WhatsApp ditulisnya.
”Ada pertemuan, ada perpisahan. Begitu isi pesan WAnya ke saya,” ujar Arham.
Diakui Arham, mahligai rumah tangganya memang telah renggang dalam setahun terakhir. Karena ketika bekerja menjual sembako milik distributor di Makassar, Umrah pernah memminta uang kepadanya sebesar Rp 3 juta.
“Waktu itu saya bilang, untuk sementara belum memiliki uang sebanyak itu. Kalau bisa pinjam saja ke keluarga dulu, nanti dibayar. Namun dia membalas dengan mengatakan, tidak perlu lagi menelepon. Tidak usah kirim uang untuk saya dan keempat anakmu, karena sudah ada laki-laki lain yang mampu dan lebih dari kamu,” beber Arham menirukan pesan singkat yang dikirim istrinya.
Kalimat ini pula yang membuat emosinya kian terbakar. arena tidak tahan lagi, Arham kemudian berangkat dari Makassar ke Barru dengan mengendarai sepeda motor.
Rencana untuk menganiaya istrinya telah ada di dalam perjalanan. Ketika singgah mengisi bahan bakar di SPBU Kalibone, Pangkep, Arham membeli Pertalite yang diisi ke dalam botol.
Ketika masih pagi setibanya di Pekkae 26 November 2018, Arham bermaksud hendak masuk untuk kembali berbicara secara baik-baik dengan istrinya. Namun penyambutan istrinya tak seperti yang diharapkannya.
”Dia bilang, kenapa kau datang lagi. Untuk apa. Tunggu saja gugatan dan panggilan dari pengadilan,” ungkap Arham, yang sekali lagi menirukan pernyataan Umrah.
Dengan amarah yang memuncak, perbuatan tak terduga itu pun dilakukan Arham. Ia menyiramkan BBM jenis Pertalite ke tubuh korban. Kemudian menyulutnya dengan korek gas. Setelah melakukan aksinya, Arham lalu kabur ke Gowa, dan selanjutnya ke Makassar.
Dia menyebut, dua kakak ipar perempuannya sebagai pihak yang kerap memprovokasi istrinya agar bercerai dengan dirinya. Padahal, dengan wajah lesu, berulang-ulang ia menyebut begitu sangat sayang kepada istri dan keempat buah hatinya.
Bahkan, dia kembali mengenang awal perkenalannya dengan Umrah yang pernah bekerja pada salah satu salon kecantikan di Makassar. Hanya lima bulan dari perkenalan itu, keduanya sepakat untuk meniti biduk rumah tangga. Pasangan ini menikah pada 29 September 2001. Mereka telah dikaruniai empat anak.
Saking sayangnya Arham pada istrinya, ia kemudian meminta Umrah untuk berhenti bekerja di salon. Alasannya, agar istrinya itu tidak bertemu lagi dengan banyak laki-laki.
”Kami tinggal di Makassar selama 10 tahun dengan berjualan barang campuran. Dari Makassar kemudian pindah ke Polman selama dua tahun. Saya ikut bekerja sebagai pengawas di salah satu property. 2013 baru pulang ke Barru. Berdagang batu bata merah dari Makassar yang dibawa ke Barru. Setahun kemudian jual coto, dan istri buka salon dengan kontrak ruko di jalan masuk Pasar Pekkae,” bebernya.
Keretakan rumah tangga mereka berlangsung sekitar Juni 2018. Ketika itu Arham kembali ke Makassar untuk aktivitas jual beli sembako dari distributor.
”Rumah tangga kami memang bermasalah karena adanya masalah ekonomi. Saya masih terikat dengan utang kredit di BRI yang baru berjalan setahun sebanyak Rp100 juta. Juga ada utang Rp180 juta ke orang lain. Tapi saya sudah bayar sebagian,” tandasnya.
Dari informasi yang dihimpun di Mapolsek Tanete Rilau, Arham memang pernah juga ditahan karena adanya laporan kasus utang piutang dan penggelapan.
Arham berhasil diamankan tim gabungan Resmob Polda Sulsel dan Satuan Reskrim Polres Barru, Selasa malam (4/12) sekitar pukul 23.55 Wita. Ia diringkus kala berada di Wisma Pondok Indah, Jalan Inspeksi Kanal, Kelurahan Pampang, Kecamatan Panakkukang, Makassar.
Tindakan tegas terhadapnya bahkan dilakukan polisi. Kedua betisnya dihadiahi timah panas.
Pascamembakar istrinya, Arham sempat dua malam menginap di rumah adiknya di Sungguminasa. Kemudian pindah tempat lagi ke rumah kerabatnya bernama Dg Lurang di Pallangga. Ia sempat menginap selama dua malam. Tiga malam berikutnya berada di Wisma Pondok Indah, hingga akhirnya diringkus petugas.
Aparat kepolisian melakukan penggerebekan di Wisma Pondok Indah, setelah polisi berhasil melacak nomor baru yang masuk ke gawai saudara tersangka. Nomor gawai dari DPO ini yang kemudian menjadi petunjuk kalau Arham bersembunyi di wisma tersebut. Indikasi tersebut diperkuat dengan adanya motor yang digunakan pelaku di wisma.
Tersangka awalnya sempat menjual gawai miliknya ke salah satu tempat penjualan gawai untuk menghilangkan jejak. Alasannya, karena ia sedang butuh uang. Namun, Arham kembali membeli gawai baru.
Dengan nomor baru, ia kerap menghubungi saudaranya di Gowa. Rupanya nomor terbaru inilah yang terdeteksi oleh petugas kepolisian hingga keberadaan tersangka diketahui.
Namun, saat berusaha ditangkap, tersangka berusaha kabur. Tiga kali tembakan peringatan tak digubrisnya. Polisi yang telah lebih sepekan melakukan perburuan, akhirnya menembak kedua betisnya.
Kapolres Barru AKBP Burhaman membenarkan penangkapan Arham. ”Penangkapan dilakukan setelah pelaku masuk DPO (Daftar Pencarian Orang). Terakhir, dia terlacak sedang berada di Wisma Pondok Indah. Selanjutnya dilakukan penggerebekan dan berhasil diamankan,” ujar Burhaman.
Burhaman juga menjelaskan tentang tindakan tegas yang dilakukan aparat kepolisian dengan menembak dua bagian betis pelaku. ”Sebelumnya sudah diberikan tembakan peringatan sebanyak tiga kali karena tersangka berusaha kabur. Namun tidak dihiraukan. Akhirnya terpaksa dilumpuhkan pada kedua betisnya,” imbuh Kapolres.
Perwira dua bunga ini menambahkan, proses penyelidikan kasus penganiayaan tindak pidana berat ini dilakukan penyidik Polres Barru beradsarkan LP/116/XI/Res.1.8/2018/Res.Barru/Sek. Tanete Rilau tertanggal 26 November 2018.
Pelaku yang telah dilumpuhkan kemudian dibawa ke RS Bhayangkara Makassar untuk dilakukan tindakan medis. Setelah itu dibawa ke Polsek Tanete Rilau, tetapi penahanannya ditempatkan di Mapolres Barru.
Menurut Burhaman, Arham sudah ditetapkan tersangka. Hingga saat ini kasusnya masih terus didalami.
“Dari hasil interogasi sementara tersangka, motif membakar istrinya karena sakit hati kepada korban setelah menggugat cerai. Tetapi itu masih didalami, apakah ada motif lain,” tandas AKBP Burhaman.
Penyidik menjerat Arham dengan Pasal 44 ayat 1 dan 2, junto Pasal 5 huruf a UU No. 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga. Ancaman hukumannya 10 tahun penjara. (udi-ish/rus/b)

Comments

Social Media

Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top