RAMZAH THABRAMAN
Headline

Calon Kuat Sekprov Serahkan Berkas ke Pansel

BKM/RAHMAWATI AMRI MENDAFTAR-Direktur Penanganan Fakir Miskin Kemensos RI Dr Abdul Hayat mendaftar di pansel calon sekprov Sulsel, Rabu (5/12).

MAKASSAR, BKM — Lima hari lagi pendaftaran lelang jabatan sekretaris provinsi (sekprov) Sulsel akan ditutup. Meski jadwalnya semakin dekat, baru dua bakal calon yang mengajukan berkas untuk bertarung memperebutkan posisi bergengi di kalangan birokrat itu.
Keduanya merupakan pejabat dari luar Pemprov Sulsel. Masing-masing Dr Marjani Sultan yang saat ini menjabat sebagai sekretaris kabupaten (sekkab) Selayar. Ia mendaftar 2 Desember lalu.
Orang kedua yang datang mendaftar adalah Dr Abd Hayat Gani. Dia kini menduduki posisi sebagai Direktur Penanganan Fakir Miskin di Kementerian Sosial RI.
Abd Hayat menyerahkan berkasnya kepada panitia seleksi (pansel) lelang jabatan, Rabu (5/12). Dia disebut-sebut menjadi salah satu calon kuat yang direstui Gubernur Nurdin Abdullah menduduki posisi sekprov.
Penjabat (Pj) Sekprov Sulsel Ashari Fakhsirie Radjamilo membenarkan jika baru dua orang yang mendaftarkan diri. Sementara persyaratan agar proses lelang jabatan ini terlaksana, minimal tiga calon yang mendaftarkan diri. Jika hingga batas akhir pendaftaran jumlahnya tidak mencukupi, kemungkinan pansel akan memperpanjang batas pendaftaran.
Terkait kesiapannya untuk ikut lelang itu, Ashari enggan berkomentar banyak. Dia menegaskan, dirinya hanya mengikuti arahan dari pimpinan.
“Kalau saya diinstruksikan maju, saya akan maju. Kalau tidak, saya tidak akan maju,” ungkapnya, Rabu (5/12).
Sejauh ini, pejabat eselon II di lingkup Pemprov Sulsel yang memenuhi syarat untuk mendaftar masih sebatas wait and see. Belum ada yang memastikan apakah maju dalam kontestasi lelang jabatan ini atau tidak.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sulsel, Jufri Rahman, misalnya. Ketika dikonfirmasi soal kesiapannya, secara diplomatis, mantan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulsel itu mengatakan masih menjajaki kemungkinan.
“Emmm, nantipi dilihat, karena kita izin dulu sama gubernur toh. Saya belum tanda tangan izin di Pak Gub,” ungkapnya.
Namun, dia mengatakan kemungkinan untuk mendaftar tetap ada. Walaupun dirinya harus berangkat ke Brunei bersama wakil gubernur hari ini, Kamis (6/12) dan baru kembali pada 9 Desember mendatang, sehari sebelum pendaftaran ditutup.
Namun, dia sudah mempersiapkan berkas. Jika memang ada peluang untuk mendaftar, maka dirinya siap maju untuk ikut tahapan seleksi.
“Kalau memang masih ada waktu, saya diizinkan dan bisa ditandatangani, saya akan mendaftar. Berkas saya sudah siap. Toh saya baru saja ikut lelang di kementerian. Tinggal diganti formatnya saja,” jelas Jufri.
Sekadar diketahui, Jufri belum lama ini mengikuti lelang jabatan di Kementerian Dalam Negeri untuk salah satu posisi direkrut jenderal. Namun, dirinya kandas setelah melewati proses assesment. Namanya hanya menempati urutan keenam. Sementara kuota untuk melaju ke tahapan berikutnya hanya empat orang.
Namun itu tidak mematahkan semangatnya. Prinsipnya, berusaha saja. Kalau pun gagal, itu merupakan keberhasilan yang tertunda.
“Kalau Anda mendaftar, ada yang bisa diharap. Kalau tidak, yah tidak ada sama sekali bisa diharap,” pungkasnya.

Kadis tidak PD

Sementara itu, Direktur LAN Makassar Prof Amir Imbaruddin mengatakan, sebaiknya pejabat eselon II di lingkup pemprov yang memenuhi syarat ikut mendaftar di lelang jabatan sekprov.
Pansel secara jelas sudah mengumumkan persyaratan yang harus dipenuhi. Kalaupun ada istilah ‘orangnya’ gubernur ikut daftar, harusnya tidak menjadi halangan bagi yang lain untuk mendaftar.
“Ini kan cara supaya calon lain cari kekuatan untuk saling menjatuhkan. Bisa jadi hanya isu,” kata Prof Imbar.
Dia menilai kepala dinas di pemprov tidak percaya diri. Buktinya, menjelang penutupan pendaftaran belum ada kepala dinas yang mendaftar. Padahal beberapa dari mereka sudah memenuhi syarat.
“Harusnya mendaftar. Nah, isu seperti adami orangnya Pak Gub, adami orangnya ini, jadi isu yang membuat mereka tidak mendaftar. Itu bisa membuat pesaingnya lebih sedikit, karena mereka tidak PD (percaya diri),” imbuhnya.
Dia menekankan, tahapan yang akan dilalui ada beberapa tes. Beberapa diantaranya adalah assesment dan wawancara.
“Kalau assesment tidak bisa bohong, kecuali jika wawancara itu hanya formalitas dan subjektivitas saja. Nanti dari tiga besar dengan nilai tertinggi yang lolos diajukan ke Kemendagri. Bukan berarti nomor 1 dari 3 yang lolos, itu yang harus dipilih,” pungkasnya.
Ditemui usai menyerahkan berkas ke pansel, Dr Abd Hayat Gani menegaskan, dirinya mendaftar bukan karena diminta oleh Gubernur Sulsel Prof Nurdin Abdullah. Namun karena inisiatif sendiri setelah membaca berita soal seleksi sekprov.
Alasannya mendaftar karena ingin membangun Indonesia dari Sulsel dengan menempati posisi strategis sebagai sekprov. “Sulsel harus menjadi yang terdepan.Saya punya kepentingan dengan berbagai daerah yang saya datangi. Saya mengambil simpul-simpul yang positif, dan itu yang akan kita bawa di provinsi Sulsel, untuk memperkaya itu. Supaya cepat akselerasinya,” jelasnya saat dihubungi, kemarin.
Dia melanjutkan, ada berbagai macam cara yang dianggap efektif untuk terlibat dalam pembangunan. Secara kasat mata, dengan pengalaman ke berbagai daerah, banyak yang bisa diterapkan dan menjadi inspirasi untuk diadopsi ke Sulsel.
Dari sisi persyaratan, dia mengklaim mampu memenuhi kriteria. Leader station yang sudah dijalani, mulai Diklatpim IV, III, II dan terakhir, Diklatpim I menjadi daya dukung personalnya.
“Sekda itu adalah jabatan strategis yang tentu diharapkan optimal untuk mendukung program prioritas gubernur,” ungkapnya.
Dia menyatakan siap bersaing sepanjang seleksi yang dijalani obyektif. “Saya sudah dua kali ikut biding di Kementerian Sosial untuk posisi dirjen. Selalu saya masuk final, namun belum berpihak ke saya. Waktu jamannya Idrus Marham, juga saya masuk final. Tiga besar juga. Cuma memang waktu itu Idrus mengambil orang Sunda,” ungkapnya.
Sebelum menjabat Direktur Penanganan Fakir Miskin Kemensos, Dr Hayat tiga tahun menjadi Kepala Balai Besar Diklat di Unhas.
“Saya sudah pernah bertugas di Pulau Sumatera, Pulau Jawa dan Pulau Sulawesi,” tandasnya. (rhm/rus)

Comments

Social Media

Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top