RAMZAH THABRAMAN
Headline

Beli Rumah Rp1,5 M, Kolam Renang Rp380 Juta

BKM/RAHMAT SIDANG ABU TOUR - Dua terdakwa pimpinan PT Abu Tours didampingi penasihat hukumnya pada persidangan di PN Makassar, Rabu (5/12).

MAKASSAR, BKM — Sidang lanjutan perkara dugaan penipuan, penggelapan dan TPPU (Tindak Pidana Pencucian Uang) uang milik jamaah umrah PT Abu Tours sebesar Rp1,4 triliun, kembali bergulir di Pengadilan Negeri Makassar, Rabu (5/12). Lima orang saksi fakta dihadirkan.
Mereka adalah HM Ikhwan Setiawan dan Oswald (Developer Helmin Residance). Saksi pengganti Muhammad Aditya dari Bank Mandiri. Ahmad Fadel, karyawan BI (Bank Indonesia). Serta Inriati Santoso, karyawan Bank Panin.
Kelimanya memberikan kesaksian untuk terdakwa bos PT Abu Tours Abu Hamzah alias Hamzah Mamba, Komisaris PT Amanah Bersama Umat (Abu Tours) Nursyariah Mansyur, mantan manager Keuangan PT Abu Tours M Kasim, dan mantan komisaris PT Abu Tours Chaeruddin.
Untuk saksi HM Ikhwan Setiawan, ia diapnggil terkait soal jual beli rumah beserta isinya kepada Abu Hamzah. Sebuah rumah dibeli terdakwa dengan harga Rp1,5 miliar, berdasarkan surat pernyataan kesepakatan bersama jual beli. Diketahui jika Abu Hamzah sudah menyelesaikan kewajibannya sebesar Rp900 juta. Sisanya Rp600 juta belum dibayar.
“Sampai sekarang belum lunas. Pembayarannya secara bertahap. Dilakukan melalui transfer bank,” kata Ikhwan Setiawan.
Alasan membayar secara bertahap, karena terdakwa mengaku mengalami masalah keuangannya. Uangnya juga diakui masih kurang. ”Saya mengenal terdakwa hanya sebatas jual beli saja. Pembayaran uang pembelian rumah awal bulan April hingga Desember 2017, dilakukan pembayaran sebesar Rp900 juta secara tunai dan transfer. Rumah itu belum ada akta jual belinya,” bebernya.
Menurut Ikhwan, sejak Desember 2017 hingga April 2018, terdakwa berulang kali berjanji akan melunasi sisa pembelian. “Sekarang rumah itu sudah disita oleh polda,” tandasnya.
Sementara Oswald selaku Developer Helmin Residance, lokasi perumahan yang berlokasi di Jalan Hertasning Baru dimintai kesaksiannya terkait pembelian rumah bekas oleh terdakwa pada tahun 2014.
”Satu unit rumah pembelian secara cash lunak seharga Rp1,5 miliar. Cicilan selama 1 tahun. Belum lunas. Masih ada sisa pembayaran sekitar Rp400 juta. Karena masih ada pembayaran kelebihan tanah dan pajak yang belum dilunasi. Cicilan dibayar melalui transfer antar bank (mobile banking) dan secara tunai. Kalau pembayaran tunai, biasa uang pembayaran diantar melalui karyawan terdakwa,” terangnya.
Saksi Oswald mengaku biasa bertemu dan ngopi bersama dengan terdakwa di Cafe Alabaik. Oswald tak memungkiri bila terdakwa memiliki sejumlah mobil mewah.
“Saya pernah mengerjakan kolam renang milik Pak Abu yang berada di Jalan Tanggul Patompo. Anggaran untuk pembuatan kolam renang tersebut sebesar Rp380 juta,” tandasnya.
Selain itu, Oswald juga pernah bekerja sama dengan terdakwa dalam urusan jamaah umrah. ”Kerjasamanya, kalau ada yang beli rumah akan diberi bonus umrah gratis untuk dua orang,” ujarnya.
Usai mendengar keterangan kedua saksi, Ketua Majelis Hakim Denny Lumban Tobing sempat menskors sidang selama 10 menit. Sebab Irianto selaku penasihat hukum terdakwa menolak tiga saksi yang dihadirkan JPU untuk memberi keterangan di persidangan.
Ia meminta JPU menunjukkan surat keterangan dari pimpinan bank, kepala kejaksaan kan Kapolda. “Kami minta JPU tunjukkan bukti surat keterangan dari pimpinan untuk saksi bisa memberikan keterangan soal rahasia transaksi keuangan dalam persidangan. Berdasarkan pasal 42 (a) Undang undang nomor 10 tahun 1998, bahwa untuk pemberian keterangan dari pihak bank harus atas izin pimpinan Bank Indonesia,” terang Irianto.
JPU Darmawan Wicaksono membantah dalil penasihat hukum terdakwa, yang menolak untuk mendengarkan keterangan tiga saksi dari pihak bank. Yakni saksi pengganti Muhammad Aditya dari Bank Mandiri, Ahmad Fadel dari BCA, Inriati Santoso dari Bank Panin.
“Alasan yang disampaikan penasihat hukum cermat, sebab dalam kasus ini terdakwa tidak hanya dijerat dalam kasus penipuan dan penggelapan. Tapi terdakwa juga dijerat dengan undang-undang TPPU. Di mana dalam uandang-undang tersebut menyebutkan bahwa kerahasiaan bank tidak berlaku, bagi penyidik, JPU dan hakim,” tandasnya.
Saat majelis hakim menskors sidang, sontak para jamaah langsung meneriaki dan menghujat ke arah para terdakwa. ”Palukka…pencuri…”
Ketika sidang dilanjutkan, Inriati Santoso selaku manager transaksi dari Bank Panin memberikan kesaksiannya. Ia mengatakan bahwa memang ada transaksi pinjaman uang sebesar Rp3 miliar untuk pembayaran KPR satu unit rumah atas nama Abu Hamzah pada pahun 2016.
Sementara Muhammad Aditya dari Bank Mandiri sebagai saksi pengganti dari Nur Muhammad Hidayat, menerangkan bahwa ada 33 rekening yang didaftarkan terdakwa dengan sistem MCM (Mandiri Cash Management). ”Ada tercatat atas nama pribadi dan atas nama beberapa perusahaan, serta pesantren,” bebernya. (mat/rus)

Comments

Social Media

Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top