RAMZAH THABRAMAN
Headline

Dua Peluru Tembus Betis Dalang Begal Mahasiswa

MAKASSAR, BKM — Lima orang pria digiring ke halaman Mapolrestabes Makassar, Kamis pagi (29/11). Mereka kemudian dijejer. Empat di antaranya berdiri. Satu lainnya duduk di kursi.
Mereka adalah kawanan pembegal sadis yang telah memarangi Imran (19), mahasiswa Akademi Teknik Industri Makassar (ATIM).
Peristiwa berlangsung 25 November lalu di Jalan Datu’ Ribandang 2, Kecamatan Tallo.
Korban kini harus menerima kenyataan cacat seumur hidup. Pergelangan tangannya terputus usai menangkis sabetan parang yang diarahkan kepadanya oleh pelaku.
Mereka yang diamankan itu masing-masing Firman alias Emmang (22), Aco alias Pengkong (21), Zaenal alias Enal (19), Fataullah alias Ulla (18), dan Irman alias Immang (37).
Kapolrestabes Makassar Kombes Pol Wahyu Dwi Ariwibowo merilis kasus ini di mapolrestabes, kemarin. Ia didampingi Kasat Reskrim Polrestabes Kompol Wirdhanto Hadicaksono, dan Kapolsek Tallo Kompol Amrin AT.
Untuk menghadirkan empat orang tersangka di lokasi rilis kasus, tak ada masalah. Karena mereka bisa berjalan sendiri. Namun, satu lainnya mesti dibopong oleh tersangka lainnya. Dia adalah Aco alias Pengkong.
Kedua betisnya tampak dililit perban yang masih baru. Di dalamnya ada potongan papan untuk menjepit. Polisi telah melumpuhkan Aco dengan dua tembakan.
Dalam penjelasannya, Kapolrestabes Kombes Wahyu mengatakan, komplotan ini diringkus pada Rabu malam (28/11) pukul 22.00 Wita. Penangkapan dilakukan tim khusus yang dibentuk untuk melakukan perburuan. Terdiri dari Jatanras Polrestabes Makassar, Polsek Tallo, diback up Polda Sulsel. Tim dipimpin Kasat Reskrim Kompol Wirdhanto Hadicaksono.
Setelah tiga hari dilakukan penyelidikan, siapa pelaku begal sadis akhirnya menemui titik terang. Diperoleh informasi jika pelaku berdomisili di wilayah Kecamatan Ujung Tanah.
Pengejaran pelaku diperkuat dengan terdeteksinya keberadaan gawai milik korban yang dikuasai salah satu anggota komplotan ini. Tim kemudian memblokade wilayah yang menjadi tempat tinggal pelaku.
”Pengungkapan kasus ini bermulai dari penangkapan salah seorang pelaku. Tim gabungan melakukan pelacakan HP milik korban. Diketahui jika yang menguasai HP tersebut sedang berada di Jalan Galangan Kapal,” terang Kombes Wahyu.
Pergerakan pelaku lalu dipersempit. Setelah dipastikan keberadaannya dalam sebuah rumah, penyergapan pun dilakukan. Hasilnya, seorang pria bernama Irman diciduk. Dialah yang menguasai gawai milik korban.
Dari hasil pemeriksaan Irman, terungkap adanya dua eksekutor begal. Masing-masing Aco dan Emmang. Pengejaran terhadap keduanya langsung dilakukan.
Irman digiring untuk pengembangan kasus. Ia diminta menunjukkan kediaman pelaku lain yang telah disebutkannya.
Tak jauh dari lokasi penangkapan Irman, sebuah rumah di Kampung Kokoa, Kecamatan Ujung Tanah dikepung aparat. Di sini Emmang berhasil ditangkap.
Setelah Emmang, perburuan dilanjutkan ke Kampung Cambayya, masih di wilayah Kecamatan Ujung Tanah. Sebuah rumah dikepung. Tak lama kemudian, dari dalam rumah keluar lelaki bernama Enal.
Pengembangan masih berlanjut di Jalan Barukang. Juga di Kampung Cambayya. Dari sebuah rumah diamankan Fataullah alias Ulla. Lengkap sudah anggota komplotan begal sadis ini diamankan polisi.
Dari hasil pemeriksaan penyidik, terungkap jika Aco merupakan dalang dari pembegalan korban. Sementara Imran yang menebas parang dan mengenai lengan korban hingga terputus.
Dijelaskan Wahyu, sebelum kejadian Emmang dan Aco memang telah merencanakan aksi begal. ”Keduanya (Emmang dan Aco) merupakan tersangka utama. Aco yang bertindak sebagai joki. Sementara Emmang bertugas mengeksekusi korban dengan menebas tangannya,” beber Kapolrestabes.
Untuk melancarkan aksinya, keduanya lalu mendatangi seorang rekannya bernama Ulla. Motor Ulla mereka pinjam. Selanjutnya Aco dan Emmang mendatangi satu lagi temannya, yakni Enal. Di sini mereka meminjam sebilah parang. Alasannya, keduanya hendak ke Pasar Terong.
Saat berada di Jalan Datu’ Ribandang 2, pelaku mendapati korban tengah duduk-duduk di atas motornya menghubungi rekannya dengan menggunakan gawai. Keduanya pun langsung menyerang Imran dengan parang.
”Melihat korbannya sudah tak berdaya, pelaku kemudian mengambil HPnya. Selanjutnya dijual ke rekan pelaku bernama Imran seharga Rp900 ribu,” beber Kombes Wahyu.
Dari penangkapan ini, polisi mengamabkan sejumlah barang bukti. Masing-masing sebilah parang yang digunakan menebas korban. Satu unit gawai. Dan satu unit motor Honda Scoopy DD 2633 OQ yang digunakan pelaku saat melancarkan aksinya. Kendaraan tersebut menggunakan plat gantung alias palsu.
Usai menjalani pemeriksaan, kelimanya dibawa ke lokasi aksinya. Namun, saat berada di tempat kejadian, Aco berbuat ulah. Ia mencoba melarikan diri dari kawalan petugas.
Tak ingin hasil tangkapannya kabur, petugas lalu melepaskan tembakan peringatan sebanyak tiga kali. Tapi tak dihiraukan. Dua butir peluru panas akhirnya melesak ke betis kiri dan kanan Aco. Dia pun tumbang tak berdaya. Selanjutnya dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara guna mendapat bantuan medis.
Dari rumah sakit, Aco kemudian digiring ke Mapolsek Tallo untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Atas perbuatannya, Aco dan Emmang dijerat pasal 365 ayat (2) KUHP dengan ancaman hukuman 12 tahun penjara.
Dalam kesempatan itu, Kapolrestabes menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang turut mendoakan agar kasus ini segera terungkap.
Kasat Reskrim Polrestabes Makassar Kompol Wirdhanto, menyebut Aco merupakan residivis kasus begal. Ia sudah beberapa kali melakukan aksinya di wilayah hukum Polsek Tallo. ”Tersangka Aco ini yang menyuruh Firman menebas korban,” ujarnya usai rilis kasus.
Keluarga korban yang datang di mapolrestabes melihat para tersangka, menyampaikan terima kasihnya kepada polisi yang telah berhasil mengungkap kasus ini. Korban Imran yang sementara menjalani perawatan di RS Awal Bross, disebutkan kondisinya terus membaik.

Danny Berdayakan Penasihat

Kian sadis dan maraknya aksi begal yang terjadi akhir-akhir ini, mendapat perhatian Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Pomanto. Ia berjanji untuk memperluas jangkauan kamera pengintai (CCTV) yang dimiliki pemkot.
Selain itu, menurut Danny, RT/RW, LPM serta penasihat wali kota harus menjadi garda terdepan untuk menjaga keamanan di wilayahnya masing-masing.
“Saya segera konsolidasikan tugas dari penasihat wali kota. Karena mereka ini merupakan sensor sosial,” ujar Danny, kemarin.
Dijelaskan, antara RT/RW serta penasihat wali kota memiliki tugas sedikit berbeda. Penasihat wali kota lebih cenderung ke keamanan. Sementara RT/RW bertugas pada bagian pelayanan.
“Kalau RT/RW lebih dekat dengan ke pelayanan publik. LPM ke pemberdayaan. Sedangkan penasihat wali kota bagian keamanan,” ungkapnya.
Hal ini menjadi pembeda dengan daerah lainnya. Karena sampai sekarang ini belum ada daerah di Indonesia yang melakukannya. Dan tidak lama lagi dirinya akan meneken peraturan wali kota (Perwali) terkait tupoksi masing-masing lembaga tersebut. (ish-jul-nug/rus)

Comments

Social Media

Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top