RAMZAH THABRAMAN
Headline

Baru Pulang dari Rantau, Tewas di Sawah Sengketa

BKM/PURMADI DIAMANKAN-Puang Lobi dan Puang Tale (duduk dua dan tiga dari kiri) diamankan di Mapolres Pinrang terkait peristiwa berdarah di persawahan Lingkungan Libukang, Kampung Ujung, Kelurahan Tiroang, Kecamatan Tiroang.

PINRANG, BKM — Aparat Polres Pinrang mengamankan dua orang yang terlibat dalam duel maut di persawahan Lingkungan Libukang, Kampung Ujung, Kelurahan Tiroang, Kecamatan Tiroang. Mereka adalah Puang Lobi (45) dan Puang Tale (47).
Keduanya sempat melarikan diri usai peristiwa berdarah yang terjadi, Minggu pagi (11/11). Mereka diringkus beberapa jam setelah peristiwa. Atau tepatnya pada Minggu siang pukul 14.30 Wita.
Penangkapan dilakukan tim gabungan Unit Resmob Satreskrim, Opsnal dan Unit Kamsat IK, serta personel Polsek Tiroang. Kapolsek Tiroang Iptu H Syahrul memimpin tim. Didampingi Kanit Opsnal Satuan IK Aipda Syahrir dan Kanit Resmob Satreskrim Bripka Aris.
Perkembangan terbaru dari penyidikan polisi, terungkap bahwa sebelum kejadian, korban Nasir alias Lakilu (50) baru dua hari pulang dari perantauan di Malaysia. Ia sengaja dipanggil pulang oleh H Puang Massi (60) yang juga kakak kandungnya, untuk mempertahankan sawah seluas 1,2 hektare yang digugat oleh pihak lawannya almarhum H Puang Lambulang (70) cs.
Perselisihan warisan orang tua kedua belah pihak bersengketa inilah yang menjadi pemicu pagi berdarah di Lingkungan Labukang. H Puang Labulang merupakan kemenakan dari Nasir.
Versi Labulang Cs, tanah sawah itu merupakan warisan almarhum orangtuanya yang bersaudara kandung Nasir dan Massi. Namun, pihak Nasir dan kakak kandungnya H Massi mengklaim sawah tersebut pembagian warisannya, karena sudah bersertifikat atas nama H Massi.
Perselisihan rumpun keluarga ini sudah dimulai sejak puluhan tahun lalu. Bahkan, sengketa itu sudah beberapa kali difasilitasi secara kekeluargaan, baik di tingkat kelurahan, kecamatan hingga pihak kepolisian. Namun selalu saja menemui jalan buntu.
Kedua pihak bersengketa tidak ada kata sepakat, sehingga kasusnya berlarut-larut. Hingga pada puncaknya Minggu lalu terjadi insiden berdarah. Nasir menemui ajal setelah diparangi oleh Labullang dan Puang Lobi.
Sementara, Labulang menghembuskan nafas terakhirnya sesaat setelah dilarikan ke Puskesmas Tiroang. Terdapat luka menganga di sekujur tubuh akibat sabetan parang dan cangkul milik Lamassi.
Selama ini, sawah yang jadi pemicu sengketa dikuasai dan digarap oleh kubu H Massi dan almarhum Nasir. Namun, pihak H Puang Labulang dan saudaranya Puang Lobi dan Puang Tale selalu datang menggugat sawah seluas 1,20 hektare tersebut.
“Saya lupa nama orangtua HP Labulang, karena orangtuanya sudah lama meninggal. Konon ceritanya, bapaknya Labullang itu beberapa kali beristri waktu masih zaman penjajahan. Dia memang bersaudara dengan pihak Nasir dan Massi. Jadi di antara mereka merupakan satu rumpun keluarga,” ungkap Kapolsek Tiroang Iptu H Syahrul, Senin (12/11).
Kasat Reskrim Polres Pinrang AKP Suardi, membenarkan jiga pemicu sengketa yang berakhir maut itu disebabkan saling klaim sawah sengketa.
“Tadi (kemarin) kita ke lokasi lagi untuk pra rekon bagaimana fakta-fakta sebenarnya dilapangan. Ada dua terduga pelaku kita sudah amankan, yakni Puang Lobi dan Puang Tale,” jelas AKP Suardi melalui telepon selular. kemarin.
Perkembangan penyidikan, Puang Tale dilepas dan dikenakan wajib lapor karena keterangan saksi minim keterlibatan bersangkutan. Sementara Puang Lobi ditahan karena kuat dugaan ikut memarangi Nasir dan Lamassi.
“Kita sangat hati-hati dalam mengambil tindakan. Keterangan saksi-saksi, termasuk saksi pihak lawannya menyebutkan jika Puang Tale hanya datang menolong korban Labullang. Sementara Puang Lobi memarangi Nasir dan Massi yang masih dirawat di rumah sakit karena luka sabetan parang ditangannya,” beber Suardi.
Sebenarnya, lanjut Kasat Reskrim, kedua kubu saling melapor usai insiden tersebut. Sebab jatuh korban jiwa di masing-masing pihak.
Pihak Nasir diwakili Nasrul Rabali alias Labagong (30). Nomor laporan polisinya:LPB/464/XI/2018/SPKT/Sulsel/ Res Pinrang, tertanggal 11 November 2018. Nasrul yang selama ini menggarap objek sawah sengketa tersebut merupakan anak dari H Puang Massi.
Begitupun pihak H Puang Labullang, juga sudah melapor resmi melalui anaknya bernama Bismar (30). Laporan polisinya bernomor:LP/25/XI/2018/SPKT/Sulsel/Res. Pinrang/ Sek. Tiroang tanggal 11 November 2018.
“Kasusnya masih kita dalami. Karena di kedua kubu ada korban jiwa. Tidak menutup kemungkinan Puang Massi bisa saja jadi tersangka. Karena keterangan saksi, dia juga ikut menganiaya Labullang dengan menggunakan cangkul. Tapi semua ini tergantung perkembangan penyidikan, olah TKP dan hasil rekonstruksi ulang. Kita tunggu saja perkembangannya,” tandasnya.
Kronologis peristiwa ini berawal dari H Massi dan Muh Nasir bersama Nasrul alias Bagong tengah menggarap sawah yang disengketakan. Tiba-tiba datang H Puang Labulang bersama enam orang lainnya.
Mereka langsung menyerang korban Nasir dengan parang. Melihat Nasir diparangi, Lamassi mengambil cangkul dan mengayunkannya ke arah H Puang Labullang dan mengenai bagian perut.
Dari kubu H Puang Labullang, yakni Puang Lobi yang tak lain saudara kandung korban Labullang, secara spontan ikut memarangi tangan Lamassi. Usai terlibat pemarangan, kedua pelaku berteman ini langsung kabur. (ady/rus/b)

Comments

Social Media

Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top