Headline

Teganya Pak Guru Nodai 18 Muridnya

ENREKANG, BKM — Sungguh tega pak guru yang satu ini. Ia sampai hati menodai muridnya sendiri. Jumlahnya tidak sedikit. Mencapai 18 orang.
Kuat dugaan, perilaku oknum berinisial IL itu sudah berlangsung lama. Bahkan, korban dari perbuatan lelaki usia 41 tahun tersebut ada yang sudah duduk di bangku kuliah alias mahasiswi.
IL diketahui mengajar pada sebuah Sekolah Dasar (SD) dalam wilayah Kecamatan Baroko, Kabupaten Enrekang. Petugas kepolisian setempat telah melakukan penahanan atas diri oknum guru yang bertitel master pendidikan itu.
Perbuatan cabul IL terungkap, ketika salah satu korbannya mengadu ke polisi. Saat ini, korban sudah duduk di bangku SMP.
Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasat Reskrim) Polres Enrekang AKP Muh Hatta, membenarkan hal itu. ”Pelakunya sudah ditahan.
Pencabulan yang dilakukannya diduga sudah berlangsung lama. Korban yang melapor sekarang sudah duduk di bangku SD. Masih ditelusuri adanya dugaan korban lainnya sudah ada yang mahasiswi,” terangnya, Kamis (8/11).
Menurut Muh Hatta, IL sebelumnya menyerahkan diri ke Polsek Alla, Rabu sore (7/11).
Dari hasil penyelidikan sementara, lanjut Kasat Reskrim, sudah ada tiga orang yang dipastikan jadi korban pencabulan. Hal itu pun diakui IL ketika dimintai keterangan di depan Kapolres Enrekang AKBP Ibrahim Aji.
”Di depan Pak Kapolres, pelaku mengakui perbuatannya. Katanya dia khilaf,” terang Muh Hatta lagi.
Akibat perbuatannya yang menodai kesucian murid-muridnya, oknum guru yang sudah berkeluarga itu terancam kurungan pidana penjara paling singkat lima tahun dan paling lama 15 tahun. Sesuai Pasal 81 dan 82 UU RI No 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.
Selama kurang lebih menjabat sebagai Kasat Reskrim Polres Enrekang, AKP Muh Hatta telah menangani lima kasus serupa yang terjadi di wilayah hukumnya.
Dihubungi terpisah, Jumurdin selaku Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Enrekang, sangat menyayangkan terjadinya peristiwa tersebut. ”Kita akan telusuri. Jika memang benar, kita segera ambil keputusan,” tegasnya melalui sambungan telepon selular, kemarin. Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Sulsel Askari menjelaskan, hingga kemarin sore pihaknya belum mendapat informasi atau laporan yang masuk terkait pencabulan di Kabupaten Enrekang.
Namun, dia berjanji akan segera berkoordinasi dengan kepala Dinas PPPA Kabupaten Enrekang untuk identifikasi permasalahannya.
Soal pola penanganan kasus ini, terlebih dahulu diserahkan ke PPPA Kabupaten Enrekang. “Penanganannya bekerja sama dengan kepolisian setempat,” kata Askari.
Kalau penanganannya terhambat atau ada kendala, barulah Dinas PPPA Provinsi Sulsel terlibat langsung. “Kita serahkan dulu kewenangan kepada daerah melalui Dinas PPPA untuk menyelesaikan. Nanti persoalan sifatnya insidentil baru kita turun langsung,” jelasnya.
Tapi, lanjut Askari, pihaknya tetap akan mengawal perkembangan kasus ini.
Dia mengaku cukup kaget mendengar laporan itu. Menurutnya, jika memang ini informasi valid, maka menjadi salah satu kasus cukup besar dan parah.
“Ini kasus termasuk yang terparah. Selama ini belum ada yang sebanyak ini,” pungkasnya.
Sementara itu, Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Makassar, Fadiah juga mengaku belum mengetahui dan menerima informasi terkait kasus tersebut.
“Saya belum tahu. Saya cari informasi dulu yah,” ujarnya singkat. (*-rhm/rus)

Comments

Social Media

Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top