Metro

Sempat 20 Tahun Berjualan Tikar di Pelabuhan

BKM/ARIF AL QADRY BERHARAP--Kasman yang setiap harinya mangkal di SPBU Hertasning berharap agar manisannya bisa laku terjual, minimal satu toples sehari.

JUALAN manisan buah menjadi usaha kecil baru bagi Karman. Dulunya pria kelahiran Surabaya 10 Januari 1969 berjualan tikar pengalas ke penumpang-penumpang kapal di Pelabuhan Soekarno Hatta Makassar.

Laporan: ARIF QADRY

Namun memasuki 2015 lalu, usahanya redup dan bahkan hilang berganti dengan usaha jual olahan buah – buahan seperti mangga, nanas dan kedondong menjadi manisan. Manisan buatannya itu di jual di Jalan Hertasning Raya, samping Stasiun Pengisian Bahan Bakar (SPBU). Harga per biji manisan yang di jual cukup terjangkau, yakni Rp 1.000 per bijinya.
Keuntungan diterima bapak tiga orang anak ini dari hasil jualan manisan buah diakui memang tidak besar, apalagi jika dibandingkan dengan keuntungan saat masih jualan tikar di pelabuhan penumpang. Tetapi dari sinilah dengan jualan buah, ia beserta istrinya bisa memenuhi kebutuhan hari-harinya seperti makan.
Menurut Karman, keuntungannya saat masih jualan tikar di pelabuhan penumpang bisa mencapai Rp150.000 paling sedikit Rp80.000 setiap hari. Angka itu sudah diluar dari modal tikarnya. Tikar yang dijualnya kepada penumpang kapal memiliki ukuran dua meter panjang, lebar setengah meter. Diambilnya dari seorang temannya dengan bayar di belakangan.
“Jualan tikar bagus keuntungannya bisa saya dapatkan bersih paling banyak Rp150.000. Dan barang tikar juga tidak ada basinya beda dengan jualan makanan ataukah jajanan seperti ini, ada masanya. Tetap saya syukuri apa yang sekarang saya lakoni ini apalagi membantu dapur dan bisa tetap makan,” katanya.
Cukup lama Karman berjualan tikar di pelabuhan, sekitar 20 tahun. Dia jualan tikar setelah ke Makassar merantau untuk mendapatkan pekerjaan bersama temannya. Tapi, ekspektasi mendapat pekerjaan bukan serabutan nyata sulit. Sehingga memutuskan untuk menjadi kulih angkat barang hingga jualan tikar di pelabuhan penumpang di Makassar.
“Awal saya jualan tikar pinjam ke teman itu barang-barangnya. Nanti kalau sudah laku, saya bayar tinggal hitung saja. Setelah lama jualan ada cukup uang, saya memilih untuk beli sendiri beberapa tikar dan saya jual ke penumpang. Untungnya lebih banyak dari pada harus pinjam modal ke teman,” haturnya.
Dari jualan tikar, dia berhasil menyekolahkan tiga orang anaknya hingga di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) dan satunya hingga ke tingkat perguruan tinggi. Semua anak-anaknya kini sudah memiliki keluarga kecil sendiri dan memiliki beberapa orang cucu.
“Anak-anak saya ada di daerah-daerah tinggal karena bekerja. Cucu sudah ada dan biasa saya kumpul-kumpul juga kalau hari-hari libur besar. Senang bisa kumpul-kumpul sama cucu dan anak,” tambahnya.
Sudah hampir satu tahun ini, ia menjual manisan buah di Jalan Hertasning. Meja kayu tua yang tidak begitu lebar menjadi tempat untuk menyimpan manisan buahnya yang tersimpan ke dalam toples kaca bening. Dalam toples kaca itu selain buah manisan, juga berisi air larutan gula atau pemanis untuk merendam buah manisan olahannya.
“Setiap hari saya jualan dari pagi sampai malam. Jualan sendiri saja, istri dibiarkan di rumah istirahat. Tiap hari lima toples kaca berisi manisan saya bawa dari rumah di Jalan Andalas. Hasilnya tidak menentu kadang manisan laku semua, kadang cuma satu toples saja yang habis,” sebut bapak tiga orang anak ini.
Harga manisan yang dijualnya cukup terjangkau, yakni Rp1.000 per biji. Jika ambil banyak minimal Rp5.000 bisa mendapat bonus tambahan. Dalam sehari, manisan buah yang terjual tidak menentu. Kalau lagi ramai-ramainya bisa semua laku dibeli, dan jika sepih bisa sampai larut malam bahkan cuma satu toples yang bisa dijualnya.
Untungnya, manisan buah hasil rendaman larutan gula atau pemanis ini dapat bertahan selama dua hari dan bisa tiga hari apabila dimasukkan ke lemari pendingin. Sehingga tidak begitu merugikan jika sehari tidak laku terjual.
“Tapi jarang sekali dalam dua hari tidak ada yang laku, jadi jarang saya jual lebih dari dua hari. Kalaupun masih ada yang tinggal, saya ganti yang baru saja untuk saya jual,” sebutnya. (arf)

Comments

Social Media

Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top