Headline

Akulturasi Besar Budaya Tersaji di Queen of The East

JAKARTA, BKM – Eksplorasi akulturasi budaya terbaik dalam Festival Tempo Doeloe 2018. Eksotisnya empat budaya melebur dalam histori besar Queen of the East Kota Tua hingga Kepulauan Seribu. Nuansa klasik akan dikuatkan dengan dress code Tempo Doeloe para pengunjungnya.
Restorasi besar budaya dilakukan Festival Tempo Doeloe 2018-Kota Tua dan Kepulauan Seribu. Event ini digelar Sabtu (10/11). Venuenya di Lapangan Museum Sejarah Jakarta, Kota Tua. Dilaksanakan Unit Pelaksana Kawasan Kota Tua Jakarta. Keunikannya, festival ini menyajikan akulturasi 4 budaya besar. Polarisasinya mengacu kepada budaya Betawi, Cina, Arab, dan Melayu.
“Festival Tempo Doeloe 2018-Kota Tua dan Kepulauan Seribu event besar. Lokasinya terbaik di Kota Tua yang dipengaruhi empat budaya besar. Ada banyak situs dan bangunan bersejarah di sini. Berada di festival ini, pengunjung akan diajak masuk lorong waktu zaman dahulu,” ujar PIC Kepulauan Seribu dan Kota Tua Dodi Riadi, Kamis (1/11).
Berada di Kota Tua, pengunjung diajak menikmati histori kuat. Sejak abad XVII, area ini dikenal sebagai Batavia. Menjadi kota cantik di selatan hemisfer, Batavia kerap disebut sebagai Queen of The East. Batavia ini pun dirancang VOC sebagai pusat ekonomi, perdagangan, dan kekuasaan kolonial. Kota ini dirancang sebagai kota dunia dan menjadi role model bagi New York, Colombo, hingga New Zealand.
Budaya masyarakat Queen of The East waktu itu menjadi rujukan dunia. Gaya hidup mereka ini terkenal sebagai Bataviase Novelles. Bataviase Novelles pun menjadi ikonik, sama seperti Parisian yang merujuk warga Paris.
Seiring perkembangan, sejarah Batavia pun berubah. Queen of the East bergantian dipimpin imperium Inggris, Perancis, Hindia Belanda, hingga Jepang.
“Jakarta masa lampau ini luar biasa. Kekayaan sejarah dan budaya inilah yang akan dihadirkan kembali melalui Festival Tempo Doeloe. Karena event digelar sehari, maka acaranya dipadatkan. Ada banyak kemeriahan yang ditawarkan di festival ini. Termasuk tour di Kepulauan Seribu,” tutur Dodi lagi.
Memiliki empat pilar budaya, representasinya diwujudkan dalam rupa barongsay, wushu, dan silat. Ada juga show Keroncong Tugu, tanjidor, hingga sohibul hikayat. Festival semakin kaya dengan wayang Betawi hingga wayang Beber Metropolitan.
“Festival Tempo Doeloe ini memiliki konsep luar biasa. Festival ini menjadi destinasi terbaik menikmati akhir pekan. Ada banyak seni dan budaya yang sangat menginspirasi. Membangkitkan lagi sejarah besar masa lalu yang dimiliki kawasan ini,” terang Staf Khusus Menteri Bidang Multikultural Kemenpar Esthy Reko Astuti.
Menjadi destinasi terbaik, Festival Tempo Doeloe juga menampilkan empat sub pendukung. Ada Eksposisi Batavia yang menampilkan lukisan, fotografi, litografi, dan beragam dokumen penting Batavia. Ikatan emosi masa lalu dikuatkan melalui Suma Orientale: Batavia Ternate Abad XVI. Sub event ini menyajikan demonstrasi sketsa, siluet, pantomim, dan street art.
Festival juga menghadirkan urban archeology. Sub event ini akan menjadi surga bagi kolektor barang antik. Sebab, urban archeology akan melelang beragam barang antik, buku tua, dan beragam pernak pernik Batavia.
Menguatkan nuansa, Memory of Batavia and Jayakarta akan diputar melalui film mini. Film ini mengambil tema Batavia, seperti Sultan Agung, Fatahillah, dan Scandal at Staadhuis.
“Festival ini menerangkan secara detail evolusi kota dan perkembangan sosial ekonomi masyarakatnya. Semuanya disajikan secara lengkap dari berbagai sudut,” tegas Esthy lagi.
Experience pengunjung akan disempurnakan melalui program Jelajah Kota Tua dan Kepulauan Seribu. Konsepnya, penjelajakan Kota Tua dilakukan dengan karnaval sepeda.
Eksplorasi Kepulauan Seribu ini dilakukan dengan menggunakan katamaran. Nantinya pengunjung bisa mengikuti loma foto, instagram, dan vlog perjalanan di dua venue tersebut. Ada juga pameran Batavia Novelles di Marina Batavia.
“Konsep terbaik memang dimiliki Festival Tempo Doeloe. Eksplorasi budaya besar-besaran diberikan. Atraksi terbaik ini juga didukung oleh aspek aksesibilitas dan amanitasnya. Yang jelas, festival ini jadi magnet terbaik untuk menarik kunjungan wisatawan,” ungkap Menteri Pariwisata Arief Yahya.
Menjadi ibu kota Indonesia, infrastruktur terbaik jelas dimiliki Jakarta. Megapolitan ini pun terhubung langsung melalui jalur udara dengan banyak kota besar di dunia. Amenitas terbaik juga dimiliki melalui banyak pilihan hotel berbintang hingga level biasa. Transportasi dalam kota juga sangat mudah dengan Transjakarta atau moda lain secara online. Kuliner yang disajikan juga memiliki cita rasa tinggi. (*)

Comments

Social Media

Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top