Headline

Fajar Grup Menangis… Kudatang ke Rumahmu Ya Allah

Mustawa Nur dari Madinah

DUKA menyelimuti Fajar Grup pekan terakhir ini, begitu terasa. Dua sosok  yang menjadi spirit kami berkarya, telah dipanggil Sang Khalik. Firdaus Nur (komisaris Fajar FM) dan Ny Hj Nuraeni G Ottoh (istri Chairman Fajar Grup, HM Alwi Hamu). Fajar Grup pun menangis sebagai wujud duka yang amat dalam. Pada Kamis, kubawa duka ini dalam doa ke rumahmu Ya Allah di Baitullah, Tanah Haram. Kota Makkah.

KEBERANGKATAN saya dalam perjalanan umrah yang keempat ini atas keberuntungan tak diduga. Rezeki itu datang begitu saja setelah menghadiri undangan malam apresiasi pelanggan  dalam HUT PDAM Kota Makassar di Hotel Claro,  Minggu (12/8) lalu. Dalam acara itu, ada dua hadiah diperuntukkan pada tamu.
Alhamdulillah, hadiah utama jatuh ke tangan saya. Sujud syukur kupanjatkan pada Ilahi atas berkah yang begitu nikmat ini. Jadwal pun sudah dipatok oleh travel Alhamdi. 1 November 2018 harus berangkat.
Ternyata tanggal itu, memiliki makna tersendiri karena masih diberi waktu menyaksikan dan mengantarkan keduanya hingga ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Firdaus dan Ny Nuraeni masing-masing telah berjuang melawan penyakit di rumah sakit.
Daus –panggilan akrab Firdaus Nur– cukup dikenal dalam acara ”Sandro Gaul” di Fajar TV. Terakhir aktif mengisi acara keagamaan di Radio Fajar FM bersama Ustas Amrullah Amri dan Saad alias Lacapila.
Sudah empat kali ia keluar masuk rumah sakit akibat adanya kelainan darah di tubuhnya. Walaupun penyakitnya itu sudah begitu ganas, tapi masih tetap menghibur tamu yang datang menjenguknya.
Maklum, sosok humoris memang melekat pada diri Daus, hingga di mana saja ia berada. Keluarga hingga pertemuan di Fajar Grup selalu ramai jika beliau hadir.
Puncaknya, pertengahan bulan kemarin,  Oktober terlihat ada benjolan di belakang badannya. Tubuhnya pun lemas dan selalu harus ada transfusi darah. Kelainan itulah membuat dokter mengambil keputusan dengan tindakan kemoterapi. Tindakan ini dilakukan sebagai pengobatan untuk membunuh sel kanker.
Banyak pandangan mencuat, jika tindakan dengan cara kemo ini memang menyakitkan. Namun efek itu berbeda-beda. Ada yang mengalami sakit ringan. Ada juga tidak sama sekali.
Daus saya temui dua hari sebelum ajal menjemput. Kata dia, esok pagi akan kembali menjalani kemoterapi ketiga kalinya.
‘’Kalau saya janganmi dulu dikemo. Sessa sekalika. Sakit kurasa,’’ keluhnya sembari membaringkan badannya, dan memperlihatkan pahanya yang mengalami pembengkakan serta bibirnya mulai kaku. Namun saya berusaha menghibur, kalau efek itu sebagai proses penyembuhan.’’Selaluki berdoa dan berzikir. Insyaallah, kita akan lewati itu. Saya juga mau berangkat umrah, Insyaallah saya doakan di Tanah Haram,’’ hiburku dengan sedih.
Esoknya, tepat 24 Oktober. Inilah hari yang nahas. Keluarga pun sudah ngumpul. Shalawat Nabi terus berkumandang di telinganya, mendiamkan diri dalam isak tangis yang tak terbendung.
Sesekali berteriak memanggil ibu saya. Sementara ibu saya juga dalam kondisi kesehatan tidak memungkinkan bergerak dengan usia sudah 98 tahun.
‘’Saya selalu ingin ke rumah sakit menjegukmu. Tapi lihatlah kondisiku juga tak bisa bergerak. Walau saya terbaring di tempat tidur, selaluka doakanko, Nak! Saya bangun salat tahajjudkan untuk memohon kepada Allah agar disembuhkan dari penyakitmu. Sabarki, Nak. Sabarki,’’ lirih suara ibu saya di balik telepon saat dilakukan perbincangan video call di Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo, tempat Daus dirawat.
Suara ibu saya menenangkan Daus kala itu. Saya pun merasa dia sudah baikan, hingga harus meninggalkan rumah sakit menuju kantor di Graha Pena.
Namun sekitar pukul 16.00 Wita, perasaan saya tidak enak. Saya pun beranjak menuju rumah sakit. Suasana jalan yang begitu macet di depan kantor gubernur membuat langkah saya tak bisa menyaksikan detik-detik terakhir Daus mengembuskan nafasnya.
Hati risau, kaki gemetar, air mata, dan terisak sambil menyetir mobil seolah ingin berteriak memprotes jalan yang macet. Sekitar pukul 17.30 Wita, barulah saya tiba dan menemukan tubuh kakak sudah kaku tak bernyawa. Saya hanya ikhlas menyaksikan peristiwa ini sembari berbisik dalam hati: Selamat jalan, tidurlah dan beristirahatlah dengan tenang bersama ayah, H Muhammad Nur di alam sana. Kiriman doaku selalu hadir setiap salatku. Innalillahi wainna ilaihi rodjiun.
Kamis malam itu juga digelar takziah selama tiga hari berturut turut. Dan berakhir Sabtu (26/10) malam.
Belum kering air mata ini. Belum terhapus sedih ini. Esoknya, kabar duka itu hadir lagi. Ny Nuraeni Gani Ottoh mengembuskan nafasnya yang terakhir.
‘’Innalillahi wainna ilaihi rodjiun, mengapa Fajar dilanda duka berturut-turut,’ bisik saya mendengar kabar itu.
Minggu (27/8) pagi saya sudah hadir di Jalan Tendean. Rumah kediaman almarhumah. Terbayang wajah ibu dengan raut yang sabar dan selalu tenang ini menjadi saksi saat bersama menunaikan umrah April 2017 lalu. Jarang bicara dan sesekali hanya tersenyum jika berpapasan dengan saya. Dan dengan khusyuk berusaha melaksanakan ibadah umrah hingga selesai.
Ketegaran hati dan jiwa ibu yang menutup usianya 72 tahun ini menjadi duka yang amat dalam bagi kerabat, keluarga dan anak-anak di Fajar Grup. Suasana duka itu silih berganti berdatangan memenuhi kediaman almarhum. Lantunan ayat suci Alquran terus berkumandang menyinari perjalanan berikutnya ibu dari enam orang anak itu.
Semua tidak bergeser dengan rasa duka berpaut menjadi satu dalam keheningan doa yang dituntun tiga malam berturut dalam tausiah yang dipimpin ustas kondang negeri ini. Dari Amrullah Amri hingga Ustas Nur Maulana.
‘’Laa ilahaa’illa anta. Ya hayyu ya qayyum. Subhanallah wabihamdihi. Subhanallah hil adzim…’’ Lagu yang dipopulerkan Opick berjudul Astagfirullah ini, mengheningkan suasana dengan penuh isak tangis. Berkumandang dalam acara taksiah malam terakhir, Selasa (30/10). Lalu ditutup doa bersama yang dipimpin ustas Maulana.
Seluruh rentetan acara yang saya hadiri, Kamis (1/11) kulanjutkan perjalanan umrah ke Tanah Suci, Medinah dan Makkah. Sekitar pukul 15.00 Wita dengan pesawat Garuda 986 mendarat di bandara Internasional Kualanamu, Medan. Satu jam perbedaan waktu dengan Makassar. Sekitar pukul 18.00 waktu medan. 30 menit mengisi bahan bakar dilanjutkan perjalanan menuju kota Jeddah.
Jumat (2/11) kemarin sudah tiba di kota Madina dan alhamdulillah berkesempatan salat Jumat di Masjid Nabawi. Kubawa duka dan tangis Fajar Grup ini menuju Rumah Allah. Kulafadzkan doa-doa dalam hamparan sajadah. Kubersujud memohon ampunanmu Ya Allah, lapangkan kuburnya. Bersihkanlah dia dari segala kesalahan, sebagaimana engkau membersihkan pakaian putih dari kotoran. Masukkanlah dia ke dalam surgamu dan lindungilah dari siksa kubur atau siksa api neraka. Amin Ya Rabb.
Selamat jalan Kakanda Firdaus. Selamat jalan Bunda Hj Nuraeni Gani Ottoh. Semoga kebaikanmu terus mengalir dalam jiwa kami, tuk hadir sebagai penyemangat dalam berkarya. (*)

Comments

Social Media

Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top