Headline

Pengungsi Anak Diberi Waktu Satu Bulan

MAKASSAR, BKM — Puluhan, bahkan ratusan pengungsi anak-anak kini bersebaran dalam wilayah kabupaten/kota di Sulsel. Termasuk di Makassar. Banyak di antara mereka yang usia sekolah.
Anak-anak korban gempa dan tsunami Sulawesi Tengah itu pun berharap bisa bersekolah di lokasi pengungsiannya kini. Bak gayung bersambut, pemerintah kabupaten dan kota di Sulsel membuka pintu selebar-lebaranya bagi mereka.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar Hasbi, menegaskan bahwa semua anak pengungsi yang ingin bersekolah harus diterima. Mereka bisa mengikuti proses belajar mengajar di sekolah yang terdekat dari tempat tinggalnya saat ini.
”Jika ingin bersekolah, mereka hanya tinggal berkoordinasi dengan pihak sekolah. Mereka akan diterima tanpa syarat,” tegas Hasbi, kemarin.
Ia juga mengultimatum kepada semua kepala sekolah yang tidak mau menerima mereka. Karena ini urusan kemanusiaan, jika mendengar ada sekolah yang tak menerima, Hasbi berjanji akan menindaki.
“Jadi untuk kepala sekolah, tidak ada kata sudah lebih siswanya. Walaupun sudah berlebih, mereka harus menampung pengungsi anak-anak yang ingin bersekolah ini,” tandasnya.
Jika nantinya anak-anak ini memilih untuk menetap di Makassar, Hasbi pun mengatakan akan siap memproses Dapodik (Data Potensi Akademik) mereka. Pihaknya akan berkoordinasi dengan sekolah asal anak untuk melakukan proses tersebut. Selanjutnya bisa dimutasi ke sekolah yang ada di Makassar untuk bisa mengikuti ujian.
Status pengungsi dan belajar sementara bagi anak-anak ini diberi waktu selama satu bulan dari sekarang. Setelah itu, barulah anak-anak ini akan diberi pilihan untuk menetap di Makassar, atau kembali ke daerah asalnya.
“Paling lama satu bulan. Karena ini kan anak-anak mau ujian semester. Mereka harus diuruskan dapodiknya supaya bisa ujian di sini dengan baik,” katanya.
Namun, Hasbi menambahkan, jika anak-anak ini nanti belum bisa memutuskan apakah akan menetap atau tidak, pihaknya pun akan berusaha mengakomodir mereka untuk mengikuti.
“Kalau setelah satu bulan mereka belum ada kejelasan, nanti tetap kita akomodasi. Apakah nilai mereka nantinya dikirim ke sekolah asalnya untuk diproses, atau kita yang proses,” tambah Hasbi.
Langkah yang ditempuh Disdik ini sejalan dengan harapan anggota DPRD Kota Makassar. Anggota Komisi D Bidang Pendidikan dan Kesejahteraan Rakyat Mudzakkir Ali Djamil, meminta agar pemerintah kota bisa menjamin semua anak-anak korban gempa dan tsunami asal Sulteng agar dapat bersekolah di lokasi pengungsiannya saat ini.
Tidak itu saja, biaya sekolah dan seragam anak-anak asal Sulteng juga harus disediakan serta dibantu oleh pemerintah. Sehingga mereka, baik yang masih duduk di bangku SD hingga Perguruan Tinggi (PT) bisa menempuh pendidikan dan tetap mendapatkan haknya.
“Semua anak-anak korban gempa dan tsunami di Sulteng harus diterima dan difasilitasi oleh pemerintah. Sudah ada juga edaran terkait itu. Jangan sampai mereka, anak-anak asal Sulteng korban gempa putus sekolah,” tegas Mudzakkir, Rabu (10/10).
Ketua Komisi D Bidang Pendidikan dan Kesejahteraan Rakyat DPRD Kota Makassar Sampara Sarif, melihat bahwa saat ini pemerintah provinsi dan pemerintah kota telah membuka pintu lebar-lebar. Juga memberikan peluang bagi anak-anak korban gempa melanjutkan sekolahnya secara gratis.
“Tapi dengan catatan, tetap nilainya dari sekolah asal dan proses pembelajaran dilakukan pada sekolah-sekolah di Makassar. Pemerintah kota sudah memberikan peluang ini dan memang harus dilakukan,” tandasnya. (nug-arf/rus)

Comments

Social Media

Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top