RAMZAH THABRAMAN
Sulselbar

Kalimat Takbir Menyelamatkannya dari Bencana

KORBAN gempa dan tsunami Palu Sulteng, Erwin (26) yang selamat bersama keluarganya dan tiba di Parepare kini bisa bernapas lega.

Untuk sementara Erwin dan keluarga mengungsi di rumah saudaranya di Kelurahan Lapadde Kecamatan Ujung Parepare. Tiba di Parepare, Kamis (4/10).
Saat disambangi BKM Erwin menuturkan. Di Palu tinggal di Jalan Cumicumi, Kelurahan Lere Kecamatan Palu Barat, Sulteng sejak delapan tahun lalu atau sekitar 300 meter dari jembatan kuningan yang ambruk saat gempadan tsunami itu terjadi.
Dia bekerja sebagai intalator listrik dari rumah ke rumah. Tinggal bersama ayahnya Muh Kasim dan empat keluarga lainnya Basri, Diana, Mamma dan Untung semuanya selamat.
Sebelum kejadian dirinya sedang berada di atas pemukiman rumah warga bekerja memasang instalasi listrik. Sedangkan istrinya di rumah bersama kedua anaknya dekat pantai.
Saat gempa terjadi ia langsung berlari menyelamatkan anak, istri dan keluarganya yang lain. Air laut naik dan gemuru dari bawah tanah keras kedengaran. Semua orang berlari meninggalkan rumah dan pergi ke gunung.
”Saya dari gunung pergi ke rumah mencari istri, kedua anak saya, paman dan bapak saya. Kita bertemu dan berlari menjauh dari tsunami karena semakin dekat, namun banyak orang lain masih tinggal mengambil dan mengabadikan gambar atau video adanya fenomena air lau semakin dekat semakin tinggi diperkirakan hampir 5 atau 7 meter tingginya,” ujarnya.
Erwin berlari mencari tempat keamanan, apalagi saat itu hari Jumat (28/9) sekitar pukul 17:36 Wita atau sebentar lagi memasuki salat Magrib.
”Di Masjid masih mengaji belum shalat, langsung ada tsunami,”katanya melukiskan persitiwa itu.
Beruntung sebagian keluarganya selamat. Cucunya yang masih berusia dua tahun dan pamannya Basri hilang dihantam tsunami dan hingga kini belum ditemukan.
Semua warga panik, listrik padam, gelap gulita, tanpa ada cahaya. Kota Palu dulunya cahanya berubah bagai kota mati. ”Saya hanya berdoa kepada Allah agar selamat dari bencana dan pulang ke kampung halaman di Parepare,”jelasnya.
Ke esokan harinya, Sabtu (29/9) harapan hidup mulai tak menerntu. Uang tidak ada, makanan habis lululantak dan tokoh tutup. Satu-satunya harapan adalah mendatangi salah satu minimarket untuk mengambil makanan meski harus dengan cara menjarah.
”Daripada kelaparan, hanya itu bisa dilakukan,” katanya.
Dalam perjalanan menuju Bandara Sis Al Jufri Palu, diperjalanan dia menemukan mayat bergelimpangan. Tapi tak bisa menolong karena
situasi yang tak memungkinkan lagi.
”Saya lihat langsung di Balaroa. Perkampungan itu hilang dan rata dengan tanah. Manusia tertimbun lumpur,”jelasnya lagi.
Erwin bersama keluarga memutuskan pulang ke Parepare dengan menggunakan pesawat Hercules milik TNI AU.
”Hanya doa yang bisa saya katakan. Takbir, takbir dan takbir. Alhamdulilah kami selamat dan reruntuhan dan tsunami,” tukasnya. (smr/C)

Comments

Social Media

Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top