RAMZAH THABRAMAN
Headline

Takut Tsunami, Dua Negara Batal Ikut F8

MAKASSAR, BKM — Gempa bumi dan tsunami yang melanda Sulawesi Tengah, ternyata memberi dampak pada gelaran F8. Makassar yang diprediksi bisa terkena dampak bencana alam, membuat dua negara mengurungkan niatnya untuk hadir.
Duta besar kedua negara itu telah menyampaikan hal tersebut. Masing-masing Duta Besar Meksiko dan Korea Selatan.
Hal ini disampaikan Wali Kota Makassar Mohamad Ramdhan Pomanto pada pelantikan pejabat administrator di Rumah Jabatan Wali Kota Makassar, Jalan Penghibur, Kamis (4/10).
Wali kota yang akrab disapa Danny ini mengatakan, pembatalan yang dilakukan kedua negara tersebut lantaran khawatir terjadi tsunami di Makassar, seperti yang terjadi di Palu. Di mana Palu dan Makassar terletak pada pulau yang sama dan dampak dari tsunami bisa saja sampai di Makassar.
“Ada dua dubes yang membatalkan datang ke F8. Mereka katanya takut tsunami dan gempa. Kekhawatirannya, tsunami yang terjadi di Palu sampai ke Makassar,” kata Danny.
Danny kemudian menegaskan, bahwa di Makassar tidak akan terjadi gempa dan tsunami seperti yang dikhawatirkan. F8 pun tetap akan dilaksanakan pada 10-14 Oktober mendatang.
Guna menghilangkan kekhawatiran serupa dari duta besar negara lainnya, Danny menegaskan bahwa dirinya memiliki data terkait tidak adanya potensi tsunami di Makassar.
“Tsunami yang destruktif itu dalam data yang ada, tidak pada pesisir mulai dari Takalar sampai di Pangkep. Tidak pernah ada sejarahnya. Jadi saya imbau untuk tetap tenang,” ucap Danny.
Sebelumnya, pelaksanaan F8 akan dihadiri 27 negara yang telah mengembalikan formulir kehadiran. Artinya, mereka menyatakan siap menghadiri pagelaran festival yang dilaksanakan selama empat hari itu. Dengan mundurnya dua negara tadi, artinya hanya ada 25 perwakilan negara yang akan meramaikan perhelatan ini.

Rawan Likuifaksi

Gempa yang terjadi di Palu dan Donggala memunculkan fenomena alam lain. Salah satunya adalah likuifaksi.
Adi Maulana, Kepala Pusat Studi Kebencanaan Universitas Hasanuddin menjelaskan, likuifaksi itu adalah peristiwa yang membuat longsor dan amblas tanah. Likuifaksi merupakan proses alam, di mana tanah kehilangan daya kohesifitas atau daya ikatnya karena jenuh air. Artinya, terlalu banyak air yang masuk ke situ. Dari mana itu air berasal? Air tersebut muncul karena ada goyangan gempa.
“Jadi air-air yang terkandung di bawahnya tanah semua naik ke atas. Membuat tanah jadi hilang daya ikat antarbutirnya. Tanah jadi seperti kayak bubur saja. Langsung amblas,” ungkap Adi kepada BKM, Kamis (4/10).
Dia melanjutkan, likuifaksi terjadi sangat tergantung dari kondisi batuan dan tanahnya. Walaupun ada gempa, tapi kalau kondisi batuannya bukan material yang lunak tapi batuan keras, tidak akan terjadi.
Di Palu itu, memang kotanya berada di atas material yang tidak padu. Material yang sangat lunak.
Ahli geologi ini menambahkan, di Makassar ada juga beberapa bagian yang memang disusun oleh tanah-tanah yang tidak padu, yakni daerah yang dulunya ditimbun. Salah satunya adalah daerah rawa.
“Daerah rawa yang ditimbun berpotensi untuk terjadi likuifaksi, karena ada air yang terjebak di bawah tanah. Kalau misalnya kena getaran atau ada mungkin rembesan, air itu bisa naik ke atas. Mungkin tahun 80-an rawa kemudian ditimbuni,” jelasnya.
Dia menyebut daerah rawa yang ditimbun tidak terlalu memperhatikan ketentuan yang berlaku, misalnya timbunan hanya ditumpah begitu saja tapi tidak dites kekuatannya. Lambat laun seiring dengan waktu, kalau ada apa-apa, misalnya terkena getaran atau terlalu jenuh dengan air, kemudian airnya dibawah tidak bisa lari ke mana-mana, suatu saat bisa jenuh juga dan terjadi likuifaksi.
“Kita berharap, di Makassar, daerah-daerah yang dimaksud, pada saat diitimbun sudah diperhatikan kalau kandungan airnya tidak ada lagi,” tuturnya.
Lebih jauh dia mengemukakan, menurut penelitian, Pulau Sulawesi bagian selatan, seperti Makassar, tidak dilewati jalur gempa seperti yang ada di Palu. Jadi posisinya cukup aman. Namun masyarakat harus tetap waspada karena getaran gempa yang terdekat, bila terjadi bisa dirasakan di Makassar.
Secara umum di Sulsel, yang ditakutkan sekarang sebenarnya adalah ekstensi atau perpanjangan dari sesar Palu-Koro yang mengakibatkan gempa Palu. Eksistensinya sampai di bagian tenggara sesar Matano di Soroako.
“Dan itu terbukti dua hari yang lalu ada gempa kecil di Soroako. Yang kita sekarang berdoa supaya gempa yang terjadi di Palu sudah habis energinya. Kalau sudah habis, tentu dia akan mencari jalur-jalurnya itu supaya keluar dia punya energi. Makanya terjadi gempa-gempa kecil. Tapi kalau sudah gempa besar, akan diikuti gempa berikutnya sampai energinya habis keluar,” pungkasnya. (nug-rhm/rus/c)

Comments

Social Media

Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top