Headline

Ditemukan Selamat Dipeluk Ibunya yang Telah Meninggal

BKM/ARIF ALQADRY YATIM PIATU-Serka Dedy Handoko dari Yonkes I Kostrad Bogor mendampingi perawatan Ayu di tenda lapangan RS Bhayangkara Kota Palu, Jumat (5/10).

BENCANA gempa bumi dan tsunami di Kota Palu, Kabupaten Sigi, dan Donggala, Sulawesi Tengah (Sulteng) menyisakan cerita duka nan memilukan. Tak sedikit di antara korban harus menerima kenyataan miris. Berpisah dengan keluarga untuk selama-lamanya.

Laporan: Arif Alqadry dari Palu

MINGGU malam (30/9) pukul 20.00 Wita. Lamat-lamat terdengar jeritan tangis dari balik reruntuhan bangunan rumah di Perumnas Balaroa, Kota Palu.
Suara itu memecahkan suasana malam yang begitu gelap tanpa penerangan listrik. Langkah para relawan yang melakukan pencarian dan evekuasi sontak terhenti.
Tiga hari pascagempa berkekuatan 7,4 skala richter, tubuh Ayu berhasil ditemukan. Ia berhasil dikeluarkan dari bawah puing-puing bangunan yang menimbunnya.
Saat proses evakuasi berlangsung, nampak sesuatu yang begitu mengharukan. Ayu ditemukan dengan posisi saling berpelukan dengan ibunya yang sudah tak bernyawa. Keduanya tertimbun reruntuhan kediaman mereka di Perumnas Balaroa.
“Sedih juga melihat anak ini. Menangis terus memanggil ibunya yang sudah tidak ada. Dia ditemukan tiga hari setelah gempa. Saat relawan menemukannya di reruntuhan bangunan rumah, anak ini berpelukan dengan ibunya yang telah meninggal dunia,” kata Serka Dedy Handoko dari Yonkes I Kostrad Bogor kepada BKM di Kota Palu, Jumat (5/10). Ia menjadi bagian dari petugas medis yang merawat korban gempa di Rumah Sakit Wirabuana, Palu.
Saat ini, kata Dedy, Ayu masih menjalani perawatan intensif di RS Wirabuana. Selama dirawat di tenda lapangan yang didirikan RS Wirabuana, anak usia empat tahun itu diberikan dukungan moril serta hiburan. Cara ini diharapkan bisa memperbaiki dan menormalkan suasana hatinya, dan tidak lagi trauma.
Rencananya, Ayu yang kini telah yatim piatu akan dibawa ke Kota Makassar. Ia ikut pamannya yang telah bersedia mengasuh dan merawatnya. Bocah perempuan satu-satunya ini juga sudah tak lagi memiliki ayah. Ia berpulang sebelum gempa dan tsunami melanda.
“Agar kembali normal pascagempa bumi yang dialami, tim bersama relawan memulihkan suasana hati dan trauma dengan menghiburnya. Ada psikolog yang diturunkan untuk itu. Sedih juga melihat ketika menangis dan memanggil ibunya. Sepertinya, ketika terjadi gempa, ibunya berusaha melindungi anaknya agar tidak terkena reruntuhan bangunan dengan cara memeluknya,” terang Dedy.
Dedy sendiri merupakan prajurit dari Yonkes 1 Kostrad Bogor. Selain di Sulawesi Tengah, khususnya di Kota Palu, bapak dua orang anak itu juga pernah bertugas di Lombok usai gempa bumi melanda. Hanya lima hari bisa menikmati bersama keluarga dan anak-anaknya, pria kelahiran Medan, 26 Mei 1986 kembali melakoni misi kemanusiaannya di Sulteng. Membantu korban-korban gempa dan tsunami.
“Inilah tugas yang harus dilaksanakan. Di RS Wirabuana, kami menyediakan lima dokter yang siap melayani dan membantu korban gempa dan tsunami. Tenda lapangan yang kami dirikan dilengkapi UGD dan obat-obatan. Di tenda-tenda kami juga melakukan operasi bagi korban,” ujarnya. (*/rus)

Comments

Social Media

Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top