Headline

Hanya Satu Nilai B Plus, IPK 3,96

BKM/NUGROHO Wida Wahyuni

ORANG TUA sempat khawatir soal biaya kuliahnya. Kini malah menjadi yang terbaik. Itulah kisah Wida Wahyuni, wisudawati terbaik Universitas Negeri Makassar (UNM) periode III tahun akademik 2017/2018.

Laporan: Nugroho Nafika Kassa

PADA hari Rabu (8/8), UNM menggelar prosesi wisuda di pelataran Menara Pinisi. Dari total 1.421 wisudawan program sarjana S1, seorang alumni Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia terpilih menjadi yang terbaik. Meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,96. Nyaris sempurna.
Wida Wahyuni tidak berasal dari keluarga yang mapan. Ayahnya yang bernama Dadang Ermin, hanyalah seorang penjual jasa servis barang elektronik. Penghasilan per bulan rerata Rp1 jutaan. Sementara ibunya Asriyawati seorang ibu rumah tangga biasa.
Wida merupakan anak ke 4 dari 5 bersaudara. Semua kakaknya tak ada yang sampai mengenyam bangku kuliah dan bertitel sarjana. Dirinya menjadi sarjana pertama dalam keluarganya. Tidak heran betapa bahagianya kedua orang tua Wida saat melihat putrinya wisuda. Apalagi meraih gelar wisudawati terbaik.
Mahasiswa angkatan 2014 ini berasal dari Makassar. Ia tinggal di Jalan Rappokalling bersama orang tuanya. Wida adalah alumni SMKN 4 Makassar. Ternyata, ada alasan tersendiri mengapa ia dulunya memilih masuk bangku SMK, bukan SMA.
Wida mengenang, dulu ia sengaja masuk SMK supaya bisa langsung bekerja setelah tamat. Tujuannya tentu untuk mengurangi beban keluarganya dalam urusan ekonomi.
Namun Tuhan berkehendak lain. Sang Maha Kuasa menunjukkan jalan bagi Wida agar bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Setelah lulus dari SMK, ada keinginan dari Wida untuk kuliah. Hal itupun ia sampaikan kepada kedua orang tuanya.
Di sinilah ‘pergolakan’ sempat terjadi. Di satu sisi, amat kuat motivasi Wida agar bisa mengenyam bangku pendidikan tinggi. Di sisi lain, orang tua tak punya cukup biaya untuk kuliah putrinya.
”Orang tua sempat khawatir soal biaya waktu sekolah dulu. Makanya, saya pilih masuk SMK. Jadi kalau tidak mampu kuliah, ya langsung kerja,” tuturnya yang ditemui BKM usai prosesi wisuda.
Masih dengan mengenakan seragam kebesaran seorang wisudawati, berupa jubah hitam dan toga, Wida kembali mengenang dulu ketika hendak kuliah. Di kala kedua orang tuanya gamang soal biaya, ada solusi yang telah didapat oleh Wida.
”Saya jelaskan kepada mereka kalau ada beasiswa Bidikmisi yang bisa menunjang biaya kuliah. Akhirnya mereka mendukung apa yang saya rencanakan,” terang Wida.
Gayung pun bersabut. Berkat doa dan dukungan kedua orang tuanya, Wida akhirnya berhasil mendapatkan beasiswa Bidikmisi dan kuliah di UNM. Selama tiga tahun 10 bulan menempuh pendidikan, Wida sama sekali tak dibiayai oleh orang tuanya. Beasiswa yang diperolehnya betul-betul dimanfaatkan untuk menunjang proses perkuliahan.
Bagaimana dengan biaya sehari-hari dan yang lainnya? Ternyata, Wida punya sumber penghasilan tambahan. Ia sesekali mengajar privat. Wida memberikan les kepada tetangganya yang ada di Rappokalling.
Selain mengajar, ternyata Wida juga aktif sebagai relawan pendidikan. Ia bergabung di komunitas Sekolah Kaki Langit dan 1000 Guru Regional Sulsel. Semua anggota komunitas ini bergerak di dunia pendidikan.
Wida memiliki trik khusus agar perolehan nilai mata kuliahnya bisa terus terjaga dengan baik. Ia mengatakan, saat kembali ke rumahnya, dirinta tak langsung melupakan begitu saja pelajaran yang telah diberikan. Selalu dipelajari ulang. Bahkan mengajak kembali teman-temannya berdiskusi soal pelajaran itu.
Bukan hanya dengan temannya, dosennya pun terkadang ia ajak diskusi mengenai mata kuliah yang telah diberikan. Tujuannya supaya materi yang telah ia dapat tak mudah dilupakan.
“Saya biasa diskusi dengan dosen tentang materi perkuliahan. Termasuk dengan penasihat akademik. Cukup banyak arahan dan masukan yang biasa mereka berikan ke saya,” tuturnya.
Hasilnya, Wida hanya memperolah satu mata kuliah dengan nilai B plus. Sementara mata kuliah yang lainnya, semua dapat A alias sempurna.
Harapannya, setelah menyelesaikan jenjang S1, Wida ingin lanjut S2. Tentu dengan berusaha mendapatkan beasiswa. Kampus yang diincarnya untuk melanjutkan studi adalah Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.
Setelah itu, barulah Wida berencana untuk menggapai cita-citanya menjadi seorang dosen. Ia sangat berkeinginan bisa menjadi dosen pengajar bahasa Indonesia untuk penutur asing (BIPA). Karena ia menilai, BIPA di Makassar masih tergolong kurang. (*/rus/b)

Comments

Social Media

Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top