RAMZAH THABRAMAN
Headline

Rampok Nasabah Bank untuk Uang Panai

SINJAI, BKM — Jarum jam menunjuk pukul 11.00 Wita, Selasa (7/8). Seorang pengendara sepeda motor melaju dari kantor Bank Rakyat Indonesia (BRI), Jalan Persatuan Raya, Kota Sinjai.
Motor Yamaha Xeon warna biru dipadu perak itu bernomor polisi DW 3410 DO. Pengendaranya bernama Muh Amin. Warga Dusun Bontosugi, Desa Patallassang, Kecamatan Sinjai Timur, Kabupaten Sinjai. Ia menuju ke kantor Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan di Jalan Stadion Mini.
Sesampainya di tujuan, Muh Amin menyimpan motornya di tempat parkir kantor Dinas PKH. Kemudian ia masuk guna mengurus surat-surat ternak sapi.
Tak lama di dalam kantor, Muh Amin keluar. Dia kembali menuju ke motornya untuk mengambil berkas yang tertinggal. Berkas tersebut untuk kelengkapan surat sapi yang diurusnya.
Ketika membuka sadel motornya, alangkah kagetnya ia. Sebab, yang didapatinya hanyalah berkas. Sementara uang Rp60 juta, yang baru saja diambilnya di bank BRI dan disimpannya dibawa sadel, telah raib. Ada bekas congkelan untuk membuka sadel motor korban.
Kepanikan pun melanda Muh Amin. Tanpa menunggu waktu lama, ia lalu bergegas menuju ke Mapolres Sinjai. Jarak kantor Dinas PKH dan mapolres kira-kira 50 meter.
Menerima laporan korban, polisi langsung bergerak. Dari hasil penyelidikan, identitas pelaku teridentifikasi. Komplotan mereka berjumlah empat orang. Usai menggasak uang korban, pelaku langsung kabur.
Tempat persembunyiannya akhirnya terendus. Bberada di Jalan Stadion Mini belakang Kantor Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Sinjai.
Pukul 12.00 Wita, sebuah rumah batu yang disewa kawanan perampok ini dikepung. Lokasinya tak jauh dari sebuah kompleks perumahan.
Personel Satuan Reserse dan Kriminan (Satreskrim) Polres Sinjai langsung menggerebeknya. Di dalam rumah ditemukan empat orang pelaku yang tengah membagi uang hasil rampokannya. Satu di antaranya perempuan.
Melihat kedatangan sejumlah pria bersenjata, komplotan ini langsung berhamburan. Tiga orang pria mencoba melarikan diri dan keluar dari dalam rumah melalui pintu samping. Yang wanitanya juga berusaha kabur. Namun, polisi lebih dulu meringkusnya.
Upaya ketiga pelaku untuk meloloskan diri tak berbuah hasil. Sebab petugas sudah mengepung lokasi yang digerebek.
Awalnya, mereka mencoba untuk kabur. Tembakan peringatan tak dihiraukan. Semuanya berlari menuju sawah tak jauh dari lokasi perembunyiannya. Petugas yang tak ingin buruannya pergi begitu saja, langsung mengambil tindakan tegas.
Secara terukur moncong pistol diarahkan ke kaki ketiganya. Mereka pun tumbang tak berkutik. Selanjutnya dievakuasi ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sinjai. Setelah menjalani operasi pengangkatan proyektil peluru, ketiganya lalu digelandang ke Mapolres Sinjai guna pemeriksaan.
Hasil identifikasi polisi, tiga orang yang ditembak itu adalah Santoso (32), Malik (45) dan Akbar alias Jarot (40). Sementara wanitanya bernama Adinda alias Indah (18).
Saat melakukan aksinya, Malik berboncengan motor dengan Akbar. Akbar turun mengeksekusi mencungkil sadel motor korban. Setelah mengambil uang dari bawah sadel, keduanya langsung kabur.
Santoso dan Adinda mengawasi tak jauh dari lokasi kejadian. Keduanya berada di atas sebuah mobil. Setelah kedua rekannya sukses melakukan aksinya, dan Adinda langsung menyusul mereka.
Dari hasil pemeriksaan polisi, terungkap bahwa Adinda adalah anak dari Malik. Sementara Santoso, warga Jalan Abdul Kadir, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar disebutkan sebagai calon istri Adinda. Sedangkan Akbar merupakan keponakan Malik.
Indah yang berprofesi sebagai driver ojek daring, diketahui berdomisili di Makassar. Sementara Malik, beralamat Sinjai namun telah lama tinggal di Makassar. Tepatnya di Jalan Balana, Kecamatan Makassar. Ia merupakan residivis dalam wilayah hukum Polres Sinjai.
Demikian pula Akbar. Dia warga Sinjai tapi lama menetap di Hartaco, Makassar. Juga seorang residivis.
Dalam catatan kepolisian, keempat komplotan ini pernah beraksi di Jalan Garuda, Kelurahan Biringere dan Jalan Bulusaraung, Kelurahan Bongki, Kecamatan Sinjai Utara.
Malik, Akbar serta Santoso tak bisa menahan rasa sakit ketika di hadapan petugas. Sambil meringis kesakitan mereka berjalan pincang dengan perban di betisnya.
Dalam pengakuannya, dua pekan lalu kawanan ini beraksi di Jalan Garuda dan Jalan Bulusaraung. Di depan kantor Dinas PKH merupakan aksi terakhir yang membuat mereka hingga dihadiahi timah panas.
”Kalau yang di Jalan Garuda, uangnya Rp30 juta. Di Jalan Bulusaraung sebanyak Rp5 juta. Terakhir di Kantor Dinas Peternakan, kami dapat Rp60 juta. Semuanya kami bagi rata. Ampunma kasian, Pak. Sakit sekali kakiku,” ujar pelaku sambil meringis.
Kapolres Sinjai AKBP Ardiansyah di halaman kantor Dinas PKH, kemarin menuturkan bahwa penangkapan ini berdasarkan dua laporan polisi sebelumnya. ”Anggota kemudian melakukan penyelidikan. Setelah informasi kami pastikan dan hari ini (kemarin) komplotan pelaku kembali beraksi, anggota langsung melakukan penangkapan,” terangnya.
Diakui, dalam proses penangkapan, para tersangka mencoba melarikan diri. Satu orang perempuan berhasil diamankan saat rumah kontrakannya digerebek. Sementara tiga rekan prianya dilumpuhkan dengan tembakan.
Pada bagian lain pengakun tersangka, Santoso yang berprofesi sebagai sopir rencananya akan menikah dengan Adinda dalam waktu dekat. Uang hasil rampokan nasabah bank yang telah dibagi rata, akan digunakan sebagai uang panai.
Dari pengungkapan kasus ini, polisi mengamankan uang hasil curian sebesar Rp60 juta. Satu unit mobil Toyota Avanza warna putih bernomor polisi DD 1220 LJ. Satu unit sepeda motor Yamaha Fino DD 2854 YE. Kendaraan ini digunakan pelaku saat beraksi. Ada pula kunci letter T.
Atas perbuatannya, pelaku diancam pasal 363 KUHP tentang pencurian dengan pemberatan. Ancaman hukumannya di atas lima tahun.
Korban Muh Amin berterima kasih kepada polisi yang berhasil mengungkap komplotan pelaku perampokan. “Alhamdulillah, Pak Polisi cepat merespon dan menangkap pelaku. Terima kasih banyak,” tuturnya. (din/rus/b)

Comments

Social Media

Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top