RAMZAH THABRAMAN
Headline

Mata Bur Berkaca-kaca Divonis 44 Bulan

BKM/RAHMAT VONIS BERSALAH-Terdakwa mantan Bupati Takalar Burhanuddin Baharuddin melayani pertanyaan wartawan usai divonis bersalah di Pengadilan Tipikor Makassar, Selasa sore (10/7). Bur dijatuhi hukuman 44 bulan penjara.

MAKASSAR, BKM — Terdakwa mantan Bupati Takalar Burhanuddin Baharuddin divonis bersalah oleh majelis hakim pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Makassar. Ia dijatuhi hukuman 3 tahun 8 bulan (44) bulan.
Sidang pembacaan putusan berlangsung, Selasa sore (10/7). Suasana ruang sidang tiba-tiba diliputi rasa haru dan sedih sesaat setelah vonis.
Dalam amarnya, majelis hakim yang diketuai Yuli Efendi menyatakan Bur terbukti bersalah secara sah dan meyakinkan dalam perkara dugaan korupsi penjualan lahan milik negara di Desa Laikang, Kecamatan Mangarabombang, Kabupaten Takalar.
“Memutuskan terdakwa dengan hukuman 3 tahun 8 bulan dan denda Rp500 juta, dengan hukuman 3 bulan kurungan apabila denda tidak dibayar,” kata Yuli Effendi.
Yuli menerangkang, Bur terbukti melanggar pasal 3, junto Pasal 18 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Junto Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Junto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, junto Pasal 64 ayat (1) KUHP.
Vonis bersalah dijatuhkan usai majelis hakim menimbang bahwa pencabutan SK gubernur yang kini telah diputuskan di Pengadilan Tinggi, masih belum bersifat final. Karena hingga saat ini SK tersebut masih berada di tahap kasasi Mahkamah Agung.
Selain itu, majelis hakim juga menganggap bahwa Bur mengetahui secara pasti bahwa lahan transmigrasi itu merupakan pencadangan tanah.
Adapun hal yang meringankan, yakni terdakwa selalu kooperatif, bersikap sopan dan tidak pernah dihukum sebelumnya. Sehingga hukuman yang diberikan lebih ringan dibanding tuntutan yang diberikan jaksa penuntut sebelumnya.
Usai persidangan, mata terdakwa tampak berkaca-kaca. Meski begitu, mantan orang nomor satu di Takalar ini sesekali menyunggingnya senyum tipis saat menyapa ke arah keluarga serta kerabatnya. Mereka tampak memadati ruang sidang.
Vonis pidana terhadap Bur lebih rendah dibanding tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU). Sebelumnya, terdakwa dituntut dengan pidana penjara selama 5 tahun 6 bulan. Denda Rp1 miliar. Subsider 3 bulan kurungan.
Baron Harahap selaku kuasa hukum terdakwa, menyatakan masih pikir-pikir untuk melakukan upaya banding. “Kami masih pikir-pikir. Ya, nanti kita liat ke depannya. Tapi kami menilai kalau pertimbangan hakim keliru dalam memutuskan hukuman. Dengan pertimbangan hanya sampai tujuh lembar, kami nilai hakim keliru,” ujar Baron usai sidang.
Baron mengungkap, ada banyak pertimbangan-pertimbangan majelis hakim yang menurutnya janggal. Salah satunya ialah, Bur tidak lagi memiliki kewenangan saat mengeluarkan izin prinsip. Karena sudah memberikan kewenangan delegatif kepada kepala dinas yang mengurusnya dengan PT Insan Karya Cirebon.
Selain itu, lokasi transmigrasi yang dimaksud hakim bukanlah lahan negara. Meski menyebut lahan tersebut sebagai lahan pencadangan, tetapi lahan itu bukan lahan negara, karena dimiliki oleh masyarakat. Dibuktikan dengan surat tanah masing-masing.
“Diakui sendiri juga oleh hakim, meski tidak ada uang yang mengalir satu rupiah pun, tetapi hakim menyebut ada kerugian negara. Mengenai pembebasan lahan, itu di luar kehendak Pak Bur. Itu kehendak perusahaan. Kan aneh sekali melimpahkan kesalahan perusahaan ke Pak Burhanuddin,” jelasnya.
Baron mengakui, saat ini timnya sudah mendapati pertimbangan-pertimbangan janggal yang bisa dijadikan landasan untuk mengajukan upaya hukum lanjutan.
Di pihak lain, JPU juga masih memikirkan langkah selanjutnya atas putusan majelis hakim yang lebih ringan dari tuntutannya.
“Jadi kita dari jaksa pikir-pikir. Pengacaranya juga pikir-pikir,” kata Ahmad Yani, salah satu JPU di persidangan. (mat/rus)

Comments

Social Media

Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top