NURDIN HALID-AZIZ QAHHAR MUDZAKKAR AGUS ARIFIN NU'MANG-TANRIBALI LAMO NURDIN ABDULLAH-ANDI SUDIRMAN SULAIMAN ICHSAN YASIN LIMPO-ANDI MUZAKKAR
Headline

Minta Izin ke Warnet, Tewas Jatuh dari Flyover

MAKASSAR, BKM — Jumat dinihari (25/5) di jembatan layang (flyover) Jalan Urip Sumohardjo, Kecamatan Panakkukang, Kota Makassar. Arus lalulintas tidaklah terlalu ramai.
Tampak seorang pria paruh baya tengah berdiri sambil memegang dinding pembatas jembatan. Dia mengenakan celana jeans pendek warna biru. Berbaju kaos warna abu-abu, dan bersendal jepit. Tak ada yang tahu apa hendak dilakukannya di pukul 02.30 Wita.
Tiba-tiba saja tubuh lelaki yang diperkirakan berusia 30 tahun itu sudah berpindah tempat, dari atas ke bawah jembatan flyover. Ia diduga terjatuh dari jembatan yang memiliki ketinggian berkisar 20 meter ini.
Seorang saksi mata bernama Calu’ (46), mengaku sempat melihat korban di atas jembatan flyover. Juru parkir di penjual Coto Begadang samping flyover ini pun kaget ketika melihat tubuh orang tersebut terjatuh.
Warga pun langsung berkerumun di lokasi sesaat setelah kejadian. Namun, tak satupun diantaranya yang mengenali korban. Di kantong celananya ditemukan sebatang rokok.
Petugas kepolisian pun tiba beberapa saat kemudian. Di antaranya Kepala SPKT Polsek Panakkukang Aiptu Hafid, tim Resmob Polsek Panakkukang yang dipimpin Dantim Bripka Zulkadri, serta personel Jatanras Polrestabes Makassar.
Polisi lalu menghubungi tim Inafis olah TKP Polda Sulsel. Juga Kedokteran Kepolisian (Dokpol) Rumah Sakit Bhayangkara.
Dari hasil pemeriksaan, korban mengalami patah pada bagian leher. Telinganya terus menerus mengeluarkan darah. Jenazah kemudian dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara.
Kapolsek Panakkukang Kompol Ananda Fauzi Harahap, mengaku belum bisa menyimpulkan kematian korban. Dugaan sementara, korban meninggal akibat mengalami patah pada bagian leher setelah terjatuh dari ketinggian.
”Kita belum bisa simpulkan hasil pemeriksaan tim Biddokkes. Namun, korban meninggal akibat mengalami patah pada bagian lehernya setelah terjatuh dari ketinggian jembatan flyover sekitar 20 meter,” kata Ananda, kemarin.
Setelah petugas dari tim Biddokkes Polda Sulsel melakukan proses pemeriksaan, diketahui jika korban bernama Arman alias Amran alias Ammang (30). Warga Jalan Somba Opu Lorong 280 Nomor 22 RT 02/RW 01, Kelurahan Bulogading, Kecamatan Ujung Pandang.
Paur Doksik Biddokkes Polda Sulsel AKP Zulkarnain, mengatakan identitas korban diketahui dari seorang pria bernama Yusuf. Ia mengaku sebagai ayah korban.
BKM mengunjungi kediaman keluarga almarhum, pagi kemarin. Sejumlah kerabat serta tetangga yang datang melayat memberi kesaksiannya.
Ammang disebutkan meninggalkan rumah pada pukul 22.30 Wita, Kamis malam (24/5). Ia sendirian berjalan kaki. Tidak diketahui ke mana arah tujuannya.
Dalam kesehariannya, Ammang bekerja sebagai juru parkir di Jalan Somba Opu. Tidak jauh tempat tinggalnya.
Bungsu dari enam bersaudara ini diketahui cukup dekat dengan kakaknya yang keempat bernama Asriani (41). Dibanding saudaranya yang lain, Ammang lebih menurut pada apa yang dikatakan oleh Asriani.
”Kami enam bersaudara. Almarhum adik saya yang paling bungsu. Satu-satunya saudara kami yang belum menikah,” tutur Asriani yang ditemui di rumah duka, kemarin.
Dari penjelasan Asriani, terungkap jika sang adik mengidap gangguan kejiwaan. Bahkan pernah dirawat selama satu bulan di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Dadi. Tepatnya pada bulan April 2017.
Kala menjalani perawatan, almarhum melarikan diri dari rumah sakit dengan cara memanjat pagar. Padahal rencananya, Ammang akan dirawat di RSJ Dadi selama 4 hingga 5 bulan.
Setelah kabur dari RSJ, pihak keluarga tetap memberikan perawatan jalan terhadap almarhum. ”Terakhir, Rabu kemarin (25/5) saya masih ke rumah sakit untuk ambilan obat,” terang Asriani.
Di malam saat adiknya meninggalkan rumah, Asriani mengaku berada di luar sepulang dari salat tarawih. Pada pukul 22.00 Wita, Ammang kemudian mendatanginya dan memintanya pulang ke rumah.
”Sepulang dari tarawih, saya singgah cerita-cerita dengan warga lain di depan lorong. Tidak lama kemudian dia (Ammang) muncul. Saya disuruh pulang. Dia bilang pulangmi tidur. Jadi saya pulang,” kenangnya.
Sekitar pukul 22.30 Wita, Ammang meminta kunci pintu rumah. ”Kami memang masing-masing pegang kunci rumah, kecuali almarhum. Waktu dia minta kunci, saya tidak kasih. Tapi bapak yang kasikan kunci ke dia,” terang Asriani lagi.
Saat itu, Ammang izin mau keluar ke warnet. Ia memang suka duduk-duduk di warnet yang berada tak jauh dari rumahnya.
”Pas keluar, kakak tertua saya, Amir melihatnya. Kakak saya memburunya tapi tidak didapat. Kakak saya lalu pulang ke rumah. Hampir tengah malam, kakak saya kemudian mencarinya di warnet. Tapi dia sudah tidak ada. Kemungkinan ada orang memboncengnya pergi,” jelas Asriani sambil menahan sedih.
Diakuinya, almarhum Ammang seorang pendiam dan sabar. Tamatan SMA ini juga tidak memiliki musuh.
”Sebelum puasa selalu memangka naikuti. Tidak mau pulang kalau saya tidak pulang juga. Itu mungkin tanda yang dia kasika,” ujar Asriani lagi.
Rencananya, Jumat pagi Asriani hendak melakukan pencarian terhadap adik bungsunya itu. Namun, belum sempat keluar dari rumah, ia sudah menerima kabar kalau Ammang ada di RS Bhayangkara.
”Tetangga yang kabari kalau adaki di RS Bhayangkara. Padahal saya tunggu jam 7 pagi untuk pergi mencarinya. Pagi-pagi sekali tetangga sampaikan ke saya. Setelah itu saya langsung ke RS Bhayangkara dan meminta mayatnya untuk dipulangkan, setelah dilakukan visum luar,” jelas Asriani lagi.
Yusuf, ayah almarhum Ammang sangat terpukul dengan kepergian putranya itu untuk selama-lamanya. Meski begitu, imam masjid yang sehari-seharinya jual beli emas di Jalan Somba Opu ini mengikhlaskannya.
Menurut Yusuf, sehari sebelum meninggal Ammang mengaku sakit kepala dan pusing. ‘”Dia sempat bilang sama saya kalau kepalanya sakit. Saya sarankan untuk minum obat dan berobat ke rumah sakit,” terangnya.
Ammang juga disebutkan pernah melakukan percobaan bunuh diri pada 18 tahun silam. “Sewaktu tahun 1990, anak saya itu pernah melakukan melakukan pencobaan bunuh diri dengan cara mengikat lehernya. Tapi berhasil saya gagalkan. Kemudian pada tahun 1991 kami merawatnya di Rumah Sakit Dadi karena didiagnosa mengalami gangguan halusinasi dan sensorik,” jelasnya. (jun-ish/rus)


Comments

Social Media

Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top