Headline

Soni: Jangan Khawatir, 8.000 Polisi Bergerak

MAKASSAR, BKM — Penjabat Gubernur Sulsel, Soni Sumarsono meminta masyarakat untuk tidak perlu khawatir dan takut berlebihan karena adanya aksi terorisme yang terjadi di Surabaya, Jawa Timur. Masyarakat diimbau agar tetap bekerja seperti biasa. Hasil koordinasi dengan aparat keamanan, Sulsel dalam kondisi aman, tenang, dan terkendali.
“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Masyarakat silakan bekerja seperti biasa,” ungkapnya, Senin (14/5).
Menurutnya, sebanyak 8.000 personel aparat kepolisian sudah bergerak mengamankan titik-titik strategis yang ada di daerah ini.
Kendati demikian, lanjut Soni, dia tetap mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap berbagai kemungkinan yang bisa saja terjadi. Apalagi dari sisi geografis, Sulsel cukup dekat dengan Poso.
Birokrat yang juga menjabat Direktur Jenderal (Dirjen) Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri itu, mengaku sudah melakukan pendekatan kepada tokoh masyarakat untuk berkoordinasi menghadapi situasi Indonesia saat ini. Begitu juga dengan kepala daerah, baik bupati maupun wali kota, diharapkan untuk terus melakukan pemantauan di wilayah kerja masing-masing, berkoordinasi dengan aparat keamanan apabila menemukan sesuatu yang mencurigakan.
Menurut rencana, Soni juga akan menggelar rapat dengan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) untuk membicarakan perkembangan situasi keamanan saat ini.
“Di Makassar saja, sudah dua kali dilakukan pertemuan. Semalam saya juga sudah keliling ronda. Tadi pagi (kemarin), saya juga sudah apel akbar di Pemkot Makassar,” ungkap Soni.
Dalam apel akbar itu, Soni menginstruksikan agar sistem keamanan lingkungan (siskamling) lebih diaktifkan lagi. Begitu juga dengan forum-forum kewaspadaan dini masyarakat agar lebih diintensifkan
Menyusul peristiwa pengebomam di Jawa Timur, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selaran juga mengeluarkan pernyataan resminya. Ada sejumlah poin penting dalam surat pernyataan yang ditandangani Ketua Muhammadiyah Sulsel Prof Dr H Ambo Asse dan Sekretaris Prof Dr H Irwan Akib.
Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulsel menyampaikan duka cita dan keprihatinan kepada saudara sebangsa se-tanah air, khususnya umat Kristiani yang menjadi korban atas insiden teror bom tersebut.
Menyesalkan terjadinya peristiwa bom gereja di Surabaya dan merupakan insiden yang mengganggu keamanan, serta ketenteraman umat beragama di Indonesia.
Muhammadiyah juga mengutuk dan mengecam pelaku pemboman tersebut yang merupakan tindakan yang bersifat teror terhadap umat beragama, dan mengharapkan kepada pihak kepolisian untuk melakukan pengusutan dan penyelesaian secara tuntas dan
transparan.
Pemerintah, dalam hal ini TNI perlu melakukan langkah-langkah strategis untuk mengantisipasi terjadinya tindakan-tindakan yang dapat mengancam dan membahayakan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dari pelaku tindak kekerasan yang bersifat teror tersebut.
Kepada semua umat beragama kiranya tidak terprovokasi dengan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh orang yang tidak bertanggung jawab, dan kiranya tetap memelihara kerukunan dan persatuan membela untuk NKRI.
Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan menyatakan siap bekerja sama dengan pihak pemerintah, lembaga/ormas lain untuk mencegah aksi terorisme.
Senada dengan Muhammadiyah, Forum Rektor Indonesia (FRI) juga mengeluarkan pernyataan. Melalui Ketuanya Prof Dr Dwia Aries Tina Pulubuhu, FRI mengutuk keras peledakan bom pada tiga gereja di Surabaya, aksi teror narapidana terorisme Mako Brimob, dan perilaku teror/biadab atas dalih apapun.
Kejadian menyedihkan itu, dinilai oleh FRI sebagai pertanda bahwa radikalisme yang biadab masih ada di Indonesia. Padahal perilaku sadis atas dalih apapun sangat merusak hubungan kemanusiaan dan keluar dari perilaku bangsa Indonesia yang beradab.
Oleh karena itu, Dewan Pertimbangan dan Pimpinan FRI mengecam dan mengutuk keras segala tindakan kebiadaban, kekerasan, radikalisme, dan terorisme, apapun motif dan tujuan yang mendasarinya.
Agama apapun tidak mengajarkan perilaku sadisme, teror, menyebar kebencian, dan kekerasan. Semua agama di muka bumi ini cinta akan perdamaian dan keselamatan untuk seluruh umat manusia, bahkan alam.
FRI juga menyampaikan turut berbelasungkawa yang sangat mendalam kepada keluarga korban atas musibah yang sedang dialami.
Mendorong penuh agar aparat keamanan bertindak tegas tanpa pandang bulu dalam mengusut tuntas sampai ke akar-akarnya perilaku biadab itu secara komprehensif, cepat dan tuntas. Stop gerakan radikalisme secara intensif dari pelbagai pihak.
FRI siap untuk bekerja sama dengan semua pihak yang menginginkan perdamaian, ketenangan, dan keselamatan NKRI.
Meminta semua pemuka agama, tokoh masyarakat dan pimpinan kampus untuk selalu menabur benih dan mengajarkan kebaikan, perdamaian, serta toleransi. Menjauhi perilaku biadad, keras, dan benci karena adanya perbedaan. Ingat bahwa perbedaan adalah rahmat.
”Ingat, Indonesia mempunyai ideologi Pancasila yang baik untuk hubungan dengan Tuhan secara vertikal dan hubungan dengan sasama manusia secara horizontal. Ingat bahwa semua manusia adalah bersaudara,” tulisnya.
Menyerukan warga perguruan tinggi selalu mendahulukan kebersamaan dalam berbangsa dan bernegara, tetap bersatu dalam perdamaian, saling menolong untuk kebaikan, keselamatan, keamanan, kemaslahatan, dan ketenteraman hidup sebagai anggota civitas akademika dan warga negara yang baik. Warga kampus harus menjadi teladan dalam kehidupan politik, sosial, budaya dalam koridor NKRI.
Sementara itu, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Sulsel, Andi Asmanto Baso Lewa menjelaskan
sejak Minggu (13/5), sudah dilakukan pertemuan terbatas jajaran tim intelijen Kordinasi Pimpinan Daerah, bersama Forum Koordinasi Umat Beragama (FKUB) serta seluruh perwakilan tokoh umat beragama.
“Sudah ada pertemuan, dan statemen bersama melawan serta mengutuk aksi terorisme yang terjadi di Surabaya. Kita berharap kondisi itu tidak berimbas ke sini,” kata Asmanto.
Sejauh ini, lanjutnya, seluruh perangkat keamanan, jajaran kominda, intelijen, dan seluruh tokoh agama serta masyarakat bersikap satu. Menolak kekerasan dan radikalisme. Apalagi yang berkaitan dengan terorisme.
Dia berharap, jika ada yang dicurigai di lingkungan sekitar tempat tinggal, agar segera melaporkan ke aparat keamanan. Deteksi dini terhadap gerak gerik yang mencurigakan di sekitar tempat tinggal juga patut dilakukan.
Selain itu, di Sulsel, sejak tahun 2017 sudah dibentuk tiga pilar Bangdes Mantra. Di dalamnya ada lurah/kades, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas. Tiga pilar itu mengawal keamanan di setiap jengkal kelurahan dan desa.
“Kita juga punya Satgas Kontra Radikalisme, Satgas Kontra Terorisme dan Kontra Narkoba. Itu tempatnya di desa. Kita juga minta forum-forum untuk aktif,” tandasnya.

Pengamanan Ketat di Polrestabes

Menyusul terjadinya aksi pengeboman di Mapolres Surabaya, Senin (14/5), pengamanan ketat diberlakukan di markas Polrestabes Makassar. Setiap orang yang masuk melalui pintu Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) menjalani pemeriksaan.
Dua orang petugas berseragam lengkap senjata laras panjang mengarahkan setiap tamu ke ruang SPK untuk dilakukan pemeriksaan oleh beberapa petugas. Termasuk polisi wanita (polwan).
Wakapolrestabes Makassar AKBP Hotman Sirait, memantau langsung pemeriksaan tas oleh polwan di pos SPK. ”Pengunjung yang datang ke mapolrestabes hanya melalui satu pintu, yaitu di bagian depan. Karena pintu bagian belakang ditutup untuk sementara,” ujar Hotman.
Terpisah, Kepala Bidang Humas Polda Sulsel Kombes Pol Dicky Sondani, mengatakan pihaknya terus memaksimalkan serta mengantisipasi masuknya kelompok-kelompok teroris di Sulsel.
“Polda Sulsel bersama Kodam XIV/Hasanuddin sudah mengambil langkah-langkah untuk mengantisipasi aksi bom bunuh diri atau lonewolf oleh para pelaku teror,” tegas Dicky Sondani, kemarin.
Selain itu, Polda Sulsel juga terus memperketat pengamanan di sejumlah tempat atau obyek vital. Termasuk di pos-pos wilayah perbatasan yang melalui jalur darat.
“Di bandara dan pelabuhan juga kita telah tempatkan sejumlah personel untuk melakukan pemeriksaan terhadap barang bawaan dan penumpang yang akan masuk dan keluar,” tandasnya. (rhm-jul-mat/rus)

Comments

Social Media

Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top