NURDIN HALID-AZIZ QAHHAR MUDZAKKAR AGUS ARIFIN NU'MANG-TANRIBALI LAMO NURDIN ABDULLAH-ANDI SUDIRMAN SULAIMAN ICHSAN YASIN LIMPO-ANDI MUZAKKAR
Headline

Benteng Somba Opu, Nasibmu Kini….

MAKASSAR, BKM — Miris. Satu kata untuk menggambarkan kondisi salah satu kawasan situs sejarah Sulsel, yakni Benteng Somba Opu. Tempat yang terletak di wilayah Kecamatan Tamalate, Kota Makassar itu kini tak terurus.
Padahal, untuk masuk ke kawasan yang berlokasi di perbatasan Gowa-Makassar tersebut, pengunjung ditarik retribusi. BKM yang mengunjungi tempat ini, Rabu (18/4), melihat sebuah pengumuman yang terpampang pada sebatang pohon besar.
Di situ tertulis tentang retribusi yang mesti dibayar pengunjung. Merunut pada Perda Provinsi Sulawesi Selatan No 1 tahun 2012 tentang Retribusi Jasa Usaha Retribusi Benteng Sompa Opu, karcis masuk untuk dewasa Rp3.000 per orang, dan Rp2.000 per orang untuk anak-anak.
“Setiap orang yang masuk harus bayar. Kalau rombongan yang mau nginap, ya pasti kita kasih diskon. Misalnya 100 orang, ya kita kenakan biaya Rp250 ribu saja semua,” kata Dg Bani, salah seorang petugas yang berjaga di tempat ini.
Sambil menunjukkan tiket resmi, ia menyebut retribusi yang diberlakukan itu sesuai instruksi langsung dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulsel.
Dari pengakuan Dg Bani, terungkap bahwa beberapa rumah adat yang berada di area Benteng Somba Opu kerap digunakan untuk beberapa kegiatan. Seperti forum-forum kemahasiswaan. Kegiatan tersebut biasanya mengharuskan mereka menginap di lokasi.
Dg Bani mengatakan jika retribusi yang dibayarkan oleh para pengunjung digunakan untuk biaya perawatan area benteng. Mulai dari kebersihan hingga peremajaan beberapa fasilitas.
BKM mencoba membuktikan penjelasan Dg Bani, apakah di dalam kawasan benteng memang dipelihara dan ada peremajaan. Ternyata, faktanya jauh panggang dari api.
Kebersihan dan peremajaan fasilitas di tempat ini nyaris tak terlihat sama sekali. Hanya sebagian jalan yang sudah diperbaharui pavingnya. Itupun tak jauh dari pintu penarikan retribusi.
Selebihnya tampak memprihatinkan. Ruas jalan paving ataupun aspal yang ada di dalam benteng banyak rusak dan berlubang.
Rumput liar dibiarkan tumbuh tak terhiraukan. Sampah berserakan di mana-mana.
Beberapa fasilitas lain juga nampak rusak dan sudah tak laik pakai. Seperti tempat berteduh yang juga merupakan aula terbuka di area tersebut tak bisa digunakan. Tiangnya yang terbuat dari kayu telah lapuk. Gentengnya banyak yang lepas dan nyaris rubuh. Temboknya jadi sasaran aksi vandalisme.
Gerbang masuk area Benteng Somba Opu pun terlihat sangat kotor. Selain telah dicorat-coret oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab, sebagian atapnya juga ada yang terlepas.
Papan informasipun terlihat telah berkarat. Tak jelas lagi untuk dibaca. Sangat jauh dari kata elok.
Di area benteng ini terdapat 26 rumah adat yang mewakili berbagai daerah di Sulsel dan Sulbar. Ada rumah adat Ujungpandang, Gowa, Mamuju, Majene, Kajang, Soppeng, Bulukumba, Luwu, Toraja, Bugis, Takalar, Selayar, Sinjai, Pinrang, Enrekang, Bone, Soppeng, Wajo, Parepare, Maros, Bantaeng, Jeneponto, Barru, Sidrap, Pangkep dan Mandar.
Sebagian dari rumah adat tersebut kini telah rusak. Seperti yang terjadi pada rumah adat Toraja dan Gowa. Pada rumah adat Toraja, tampak sangat jelas kerusakan terjadi pada ujung atapnya. Sedangkan pada rumah adat Gowa, plafonnya tampak terbuka.
Yang lebih nahasa pada rumah adat Pangkep. Dua minggu lalu api melahap habis bangunan ini. Akibatnya, rumah adat Pangkep hanya menyisakan kerangka yang telah menghitam.
Mia selaku pengelola rumah adat Pangkep, mengatakan adanya rencana untuk dilakukan renovasi. Hanya saja, dirinya tak tahu kapan direalisasikan oleh pemerintah.
Menyaksikan fakta mengenaskan itu, BKM mencoba menghubungi Andi Musaffar, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulsel untuk konfirmasi. Sayangnya, berkali-kali gawai miliknya dihubungi, tak pernah diangkat. Kantornya di Jalan Ratulangi yang didatangi, sang kadis juga tak ada. (nug/rus/b)


Comments

Social Media

Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top