RAMZAH THABRAMAN
Headline

Gepeng Diberi 50 Rumah Lengkap Perabot dan Uang

MAKASSAR, BKM — Sebanyak 50 kepala keluarga, atau 152 jiwa gelandangan dan pengemis (gepeng) mendapatkan rumah secara gratis. Hunian tersebut sudah dilengkapi dengan perabot di dalamnya. Bahkan ada pula uang sebagai jaminan hidup (jadup).
Mereka yang diberi fasilitas itu merupakan gepeng yang selama ini beroperasi di Makassar. Memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) dengan alamat domisili Kabupaten Jeneponto. Keberadaannya menggelandang serta mengemis di kota ini telah diverifikasi.
Kementerian Sosial (Kemensos) RI merupakan leading sector pemberian bantuan rumah gratis ini melalui program Desaku Menanti. Kucuran anggarannya di tahun 2017 sebesar Rp2.232.000.000.
Ada sejumlah item yang dibiayai melalui program ini. Yakni, bantuan bimbingan sosial keterampilan untuk 50 KK. Satu KK mendapatkan Rp1 juta. Bantuan bahan baku rumah untuk 50 KK. Tiap KK memperoleh Rp30 juta.
Sementara untuk jadup dialokasikan bagi 152 jiwa. Setiap jiwa menerima Rp25 ribu per hari. Jadup ini diberikan selama 90 hari.
Bantuan sarana rumah tangga (perabot) untuk 50 KK sebesar Rp1,5 juta. Masing-masing KK juga menerima Rp1,5 juta untuk bantuan Usaha Ekonomi Kreatif (UEP).
Kepala Dinas Sosial Provinsi Sulawesi Selatan DR H Ilham A Gazaling menyebut, program Desaku Menanti ini berlokasi di Kabupaten Jeneponto. Tepatnya di Desa Garassikang, Kecamatan Bangkala Barat.
Sebanyak 50 rumah dengan ukuran bangunan 4×6 meter telah rampung dikerjakan. Peresmian Kampung Kesetiakawanan Sosial Baji Ati ini rencananya dilaksanakan hari ini, Senin (16/4) oleh dirjen Kementerian Sosial.
”Ini merupakan program pemerintah pusat yang dilaksanakan di daerah. Salah satu persyaratan utama adalah daerah menyediakan lahan untuk menjadi lokasi pelaksanaan program. Dan Kabupaten Jeneponto bersedia untuk itu, sehingga dimulailah program ini pada tahun 2017 lalu. Lokasinya seluas 2,5 hektar,” jelas Kadis Sosial di ruang kerjanya, akhir pekan lalu.
Diakui Andi Ile –sapaan akrab Kadis Sosial– bahwa program pembangunan perumahan untuk gepeng di Jeneponto merupakan proyek percontohan kelima di Indonesia. Sebelumnya program serupa telah dilaksanakan di Padang, Yogyakarta, Pasuruan serta Malang.
”Jadi ini semacam pilot project. Nantinya bisa saja dikembangkan lebih luas lagi. Apalagi jika sudah nampak hasilnya,” tambah mantan Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Sulsel ini.
Bukan tanpa alasan Jeneponto terpilih untuk pelaksanaan program Desaku Menanti. Menurut Kepala Bidang Pelayanan dan Administrasi Sosial Dinsos Sulsel Fadli Lesmana, gepeng yang ada di Makassar didominasi oleh warga ber-KTP Jeneponto.
”Hasil pendataan kita di lapangan, ada sekitar 500 lebih gepeng di Kota Makassar. Dari jumlah itu, 90 persen adalah warga Jeneponto,” ungkap Fadli yang mendampingi kadis.
Kepala Seksi Rehabilitasi Sosial Dinsos Sulsel Sumarni menambahkan, anggaran yang dikucurkan Kemensos dikelola langsung oleh yayasan yang berbadan hukum, yakni Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) Yayasan Peduli Pemulung (Yapem). Dana ditransfer langsung oleh Kemensos ke rekening lembaga. Selanjutnya Yapem kemudian membangun lokasi perumahan dengan melibatkan calon penghuni.
”Jadi rumah dibangun dulu. Setelah itu barulah diundi siapa yang akan menghuninya. Calon penghuni ini terlebih dahulu sudah kita verifikasi sebelumnya sesuai persyaratan. Salah satunya, mereka sudah lebih setahun jadi gepeng di Makassar. Di sini kita bekerja sama dengan lembaga. Jadi tidak asal tinggal,” terang Sumarni.
Karena lokasi program ini dekat dengan pantai, maka UEP yang dilaksanakan adalah budidaya rumput laut. Dengan bantuan sebesar Rp5 juta per KK, usaha tersebut kini sudah dilaksanakan.
Ketua LKS Yapem Abdul Rahman Nur menerangkan, untuk tahap awal mereka yang dibina di Kampung Kesetiakawanan Sosial Baji Ati diberi bimbingan untuk hidup mandiri. Seperti menanam rumput laut serta menangkap ikan. Dengan begitu, mereka memiliki mata pencaharian tetap sehingga tidak lagi berpikir meninggalkan daerahnya menuju kota untuk menggelandang ataupun mengemis.
”Untuk rumah yang disiapkan, sekarang sudah ada penghuninya masing-masing. Begitu juga dengan program UEP dan jadupnya, sudah disalurkan,” terang Abdul Rahman.
Dia merinci, rumah yang ditinggali mantan gepeng tersebut dibangun secara kopel. Satu blok terdiri dari delapan unit rumah. Satu unit memiliki luas bangunan 4×6 meter. Di bagian depan ada kelebihan tanah 1 meter, dan di belakang 2 meter.
Rumah dilengkapi masing-masing satu kamar tidur, satu ruang makan, satu ruang tamu serta WC.
Selain untuk gepeng, bantuan juga dialokasikan bagi bekas warga binaan pemasyarakatan. Totalnya Rp245 juta. Terdiri dari bantuan bimbingan sosial keterampilan untuk 40 orang. Tiap orang mendapatkan Rp1 juta. Bantuan UEP juga untuk 40 orang. Satu orang mendapatkan Rp5 juta. (rus)

Comments

Social Media

Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top