Headline

”Kecilji Untungnya, Tapi Manfaatnya Besar”

SUDAH lebih dua tahun Abdul Kadir mengelola Bank Sampah Longgar di RT 03, RW 07, Jalan Toddopuli, Kecamatan Rappocini. Tercatat telah ada 105 orang nasabahnya yang aktif.
Setiap minggu, Kadir rutin menjual sampah organik kering yang dibelinya dari warga di wilayahnya ke bank sampah pusat. Rerata ada 50 kilogram botol dan gelas plastik yang dikumpulkannya dari para nasabah. Sementara kaleng minuman aluminium tipis 10 kilogram. Yang paling banyak adalah karton dan kertas, yang bisa mencapai 350 kilogram.
Bank sampah yang dikelola Kadir membeli sampah organik kering yang dikumpulkan warga seharga Rp2.000 per kilogram. Itu untuk jenis botol plastik yang sudah dibersihkan dari label. Jika masih kotor alias label masih menempel di botol, dihargai Rp1.500 per kilogram.
Untuk gelas plastik seharga Rp5.000 per kilogram, dengan kondisi yang sudah bersih atau telah digunting kepala gelas plastik. Kotornya dihargai Rp1.500 per kilogram.
Sedangkan kaleng minuman aluminium tipis seharga Rp7.000 per kilogram. Karton Rp1.200 per kilogram, dan kertas Rp1.500 per kilogramnya.
“Hasil pembelian sampah dari warga-warga itu setiap minggu kami timbang lalu dijual ke bank sampah pusat. Untungnya tidak banyakji, tapi manfaatnya sangat besar,” tuturnya.
Di bank sampah pusat, botol plastik dibeli seharga Rp2.700 per kg. Gelas plastik Rp7.000 per kg. Kertas dan karton dihargai Rp1.850 per kg. ”Untungnya paling tinggi Rp2.000 per kilogram,” tandas Kadir.
Di awal Kadir membentuk bank sampah tahun 2016 lalu, bank sampah pusat memberikan bantuan modal berupa uang tunai sebesar Rp500 ribu. Ada pula satu unit timbangan gantung.
Selanjutnya, di tahun 2017 ia kembali mendapat bantuan modal sebesar Rp2 juta. ”Kalau kantong plastik, diberikan setiap mau menimbang ke bank sampah pusat. Saya ditanya banyaknya sampah yang ada. Kalau satu motor tiga roda, biasanya dua kantong plastik. Di situmi baru dikasikanki kantong plastiknya,” jelasnya.
Setiap bulan, tambahnya, nota hasil timbangan sampah di bank sampah pusat kemudian disetorkan ke Yayasan Peduli Negeri (YPN). Tujuannya memberikan evaluasi ke bank sampah yang ada.
“YPN nanti juga melaporkan langsung ke wali kota dan dinas terkait perkembangan bank sampah. Saya punya bank sampah sudah dua kali juga dapat penghargaan,” imbuhnya. (arf/rus)


Comments

Social Media

Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top