Gojentakmapan

Limbah Tapioka Rusak Tanaman Padi Warga Borong Kaluku

Persawahan dan air sumur milik warga yang tercemar air limbah pabrik tapioka.

GOWA, BKM — Sedikitnya 18 orang warga pemilik lahan persawahan di Pangngempang, Dusun Borong Kaluku, Desa Sokkolia, Kecamatan Bontomarannu resah dan merasa keberatan atas limpahan limbah pabrik Tapioka yang terletak di Lantebung, Desa Pakkatto, Kecamatan Bontomarannu.

Limbah pabrik tapioka berbahan ubi kayu itu merembes masuk di area persawahan dan merusak tanaman padi yang sudah berisi. Meski terlihat bulir padi sudah tumbuh namun isi bulir padi itu kosong dan batangnya menguning dan mengering serta rebah mati.

Terlihat, padi itu tumbuh subur tapi isi bulirnya tidak ada. Sejak pabrik tapioka ini berdiri, sejak itupula tanaman padi warga sekitar selalu bermasalah dwn gagal panen. “Sekarang memang telah terjadi pencemaran limbah pabrik Tapioka dan ini sangat merugikan masyarakat yang bertani,” kata Paharuddin Dg Tobo yang juga Ketua RW di Borong Kaluku.

Kepada media, Kamis (8/3/2018) siang, Patahuddin Dg Tobo bersama warga lainnya yakni Halija Dg Sompa (istri alm boli Dg Rangka, tokoh masyarakat setempat), mewakili belasan warga pemilik sawah lainnya mengajukan keberatan kepada manajemen pabrik Tapioka yang terletak di samping pabrik Mayora, Lantebung, Desa Pakkatto.

“Pihak manajemen dan warga pemilik sawah sempat bersitegang lantaran pihak pabrik terkesan tak mau bertanggungjawab. Hampir semua sawah di sekitaran saluran limbah pabrik tercemar limbah. Alasannya pihak pabtik itu ulah kontraktor selaku penanggung jawab kontruksi bangunan yang tidak sesuai sehingga terjadi pencemaran limbah mengakibatkan kerugian terhadap masyarakat,” jelas ketua RW.

Seorang tokoh masyarakat lainnya, Muhari mengatakan, sebenarnya antara manajemen pabrik dengan warga sudah ada kesepakatan bersama sebagai hasil musyawarah penanganan cemaran limbah, namun hingga saat ini belum ada realisasi dari apa yang disepakati pihak pabrik.

“Ini sangat merugikan masyarakat disini. Air sumur kami pun tidak bisa dikonsumsi,” katanya.

Tahun lalu, tambah Muhari, panenan padi warga tidak sesuai harapan, namun
masyarakat masih memberikan kebijaksanaan dengan harapan kedepannya lebih baik sekalipun sudah ada perjanjian ganti rugi jika hasil panen tdk sesuai.

“Tapi kenyataannya tahun ini kerusakan tanaman padi kami lebih parah. Tersentuh lumpur pun kulit kami jadi gatal dan sumur-sumur di kebun warga yang biasanya dikonsumsi, kini tidak bisa dikonsumsi karena cairan limbah meresap ke mata air sumur. Air sumur untuk dipakai buang air saja tak layak apalagi intuk diminum,” kata Muhari lagi.

Sementara pihak manajemen pabrik Tapioka hingga kini belum berhasil dimintai klarifikasinya terkait keresahan warga Pangempang, Borongkaluku. (saribulan)

 

Comments

Social Media

Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top