Metro

Capek Bolak-balik ke Ternate, Pilih Keluar dari PNS

BKM/ARDHITA ANGGRAENI TAK LELAH-- Abu Djalil tidak mengenal lelah menjalankan dua pekerjaan yakni sebagai pegawai honor dan pemilik kantin di DPRD Makassar. Ia mengaku, honor yang diperoleh setiap bulan tidak mencukupi untuk kebutuhan keluarganya.

NASIB pegawai honorer selalu saja menjadi perhatian. Disamping tugasnya yang berat sementara honor yang mereka peroleh sangat minim. Belum lagi, pegawai honorer yang sudah berusia lanjut tidak banyak lagi menuntut diangkat menjadi aparatur sipil negara (ASN).

Laporan: ARDHITA ANGGRAENI

Mereka bahkan lebih memilih bersyukur apa yang telah diberikan sekarang dan mencari solusi agar kebutuhan hidup bisa tetap terjaga. Salah satunya dengan cara mencari bisnis sampingan.
Pegawai honorer memang memiliki waktu luang yang cukup dibandingkan ASN. Olehnya itu, rata-rata pegawai honorer meluangkan waktu dengan mencari hal-hal positif seperti nyambi berusaha.
Itulah yang dijalankan Abu Djalil, seorang tenaga honorer di Bidang Perlengkapan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Makassar. Ia nyambi membuka kantin di dalam areal Gedung DPRD Makassar.
Kepada penulis, ia menceritakan kisahnya yang sejak 2009 diangkat menjadi tenaga honorer di DPRD Makassar. Iapun sudah 2,5 tahun membuka kantin di DPRD Makassar untuk menambah pendapatannya demi menghidupi keluarganya.
” Kalau gaji mau diandalkan sebulan tidak cukup. Dulunya saya hanya menjual makanan seadanya hanya untuk menghilangkan lapar teman-teman di kantor. Tapi karena banyak permintaan, makanya saya memberanikan diri membuka kantin dan menjual lauk,” ungkapnya saat ditemui di belakang kantor DPRD Makassar.
Hujan gerimis dan udara yang sedikit dingin tidak menyurutkan tangan-tangan Abu Djalil untuk mencuci piring dan gelas yang telah digunakan pembeli.
Menurutnya, hasil jualan di kantin adalah modal selama ini untuk menghidupi istri dan keempat anaknya. Anaknya-pun tersenyum bisa mengenyam pendidikan hingga ke perguruan tinggi di Makassar.
Sebelum menjadi tenaga honorer di DPRD Makassar, Djalil pernah terangkat menjadi pegawai negeri sipil di salah stasiun TV pemerintah di Makassar. Tapi karena capek bolak-balik ke Ternate, ia lebih memilih mengundurkan diri menjadi PNS. Apalagi, ibunya juga sering sakit-sakit, yang mengharuskan saya bolak-balik Ternate-Makassar. ” Saya kewalahan harus bolak-balik ke Ternate-Makassar untuk merawat ibu, maka saya putuskan berhenti bekerja,” katanya.
Selepas Djalil menghentikan statusnya sebagai PNS, ia diangkat menjadi pegawai Telkom. Namun kesempatan itu juga ia lepas dikarenakan dirinya tidak ingin di bagian teknisi listrik. ” Saat itu saya hanya di uji saja, tapi sudah terlanjur mengundurkan diri dan beralih menjadi tukang servis TV dan kulkas. Karena saya pikir pendapatan servis itu dua kali lipat dibanding gaji PNS. Baru saya menyesal sekarang,” jelasnya.
Djalil datang ke DPRD pada pukul 08.00 pagi. Sebelum datang, ia terlebih dahulu berbelanja di pasar untuk membeli kebutuhan di kantinnya, selepas pukul 09.00 pagi ia sudah membuka warungnya hingga magrib menjelang.
“Saya setiap hari datang ke kantor 08.00 pagi, tapi sebelum datang saya singgah dulu di pasar. Baru nanti jam 09.00 saya sudah masak dan sambil kerja di Bagian Perlengkapan,” tuturnya.
Terlepas dari itu semua, Djalil juga merasa bersyukur dikarenakan banyak pejabat dan dewan yang menyukai kinerja dan masakannya di DPRD Makassar, yang dinilai sangat murah untuk kelas kantin pegawai.(ita)


Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top