Sulselbar

Berjalan Kaki Mendorong Gerobak Hingga Berkilo-kilo

SAAT INI di zaman modern semuanya serba besi dan plastik. Meski begitu, bambu masih tetap dicari orang. Selain sebagai bahan penunjang pembangunan, bambu juga dibutuhkan untuk membuat tiang bendera.

Laporan : ARIF AL QADRY

Sudah puluhan tahun, tanaman bambu menjadi penyambung hidup Abdul Mustari bersama istrinya Hawatiya. Tanaman bambu berjenis bambu apus atau lebih dikenal dengan bambu tali ia datangkan dari Kabupaten Maros. Pemesannya rata-rata untuk membangun rumah, jembatan, pagar sampai dengan kerajinan dekorasi rumah pengantin.
Mustari memulai menjual bambu setelah melanjutkan usaha orang tuanya. Diusianya yang masih 17 tahun, Abdul Mustari sering membantu orang tuanya berjualan bambu. Ia berjualan di Jalan Toa Daeng.
Itulah yang dilakukan Abdul Mustari. Bahkan ia tidak ingin bekerja di tempat lain. Ia memilih untuk ikut membantu orang tuanya jualan bambu. Dan bahkan seringkaliturun langsung mengantarkan pesanan-pesanan bambu menggunakan gerobak kayu.
Upah yang ia dapatkan dirasa cukup kala itu untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Meski usaha jualan bambu itu milik ayahnya, tetapi ia sering mendapat tugas untuk mengantar pesan bambu menggunakan gerobak.
Hawatiya, istri Abdul Mustari mengisahkan pengalaman suaminya dimasa itu. Di mana ia sudah menikah dengan Abdul Mustari di tahun 1998 dan Abdul Mustari masih ikut bekerja dengan orang tuanya jualan bambu.
Perempuan kelahiran Ujung Pandang, 14 Mei 1972 bercerita suaminya Abdul Mustari pernah bersama seorang pekerja lainnya mengantar pesanan bambu menggunakan gerobak dari Jalan Toa Daeng ke Pasar Sentral Makassar. Mau tidak mau, Abdul Mustari dan seorang temannya harus berjalan kaki di siang bolong mendorong gerobak berisi bambu hijau berkilo-kilometer.
” Pernah saya jualan bambu di Jalan Toa Daeng, dan suami saya sebelumnya pernah ikut dengan bapaknya jualan bambu. Sekarang antar bambu sudah bisa pakai mobil kalau jauh jaraknya, tapi dulu antar bambu cuma pakai gerobak dan bahkan pernah dari Jalan Toa Daeng sampai Pasar Sentral Makassar,” ingatnya.
Setelah cukup lama ikut bersama ayahnya berjualan bambu, Abdul Mustari mengajak istrinya untuk usaha sendiri. Lokasinya juga tidak jauh dari tempat jualan bapaknya. Lahan kosong di Jalan Toa Daeng ia sewa sebagai tempat jualan bambu.
Awal jualan bambu dengan modal sendiri, ia memasan 300 batang bambu. Tiga bulan berjualan keuntungan dari hasil jualannya terus dia putar untuk modalnya termasuk membayar upah pekerja mengantarkan pesanan bambu menggunakan gerobak kayu. Satu batang bambu dulunya dia jual seharga Rp1.000 yang sudah termasuk ongkos kirim.
“Di Jalan Toa Daeng, sempat saya usaha sendiri dengan suami. Ada lahan kosong kita sewa. Dan tetap masih antar pesanan pakai gerobak. Tetapi bukanmi suamiku yang antar karena kita sudah punya pekerja,” sebutnya. (arf)


Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top