Headline

”Anak Pulau Juga Harapan Bangsa, Butuh Pengajaran”

IST ANAK PULAU-Nunu bersama anak-anak pulau yang menjadi lokasi pengajaran The Floating School.

PULAU Saugi, Satando, dan Sapuli yang berada di Kabupaten Pangkep menjadi sasaran utama The Floating School pada awal berdirinya. Banyak yang telah dilakukan Nunu TERHADAP anak-anak di berbagai pulau ini. Hingga akhirnya The Floating School meraih penghargaan.

Laporan: Nugroho Nafika Kassa

NUNU dulunya menetap di Riyadh, Ibu kota Arab Saudi. Setelah melanjutkan pendidikan SMA di Indonesia, ia melihat ada berbagai perbedaan yang teramat jauh dari pendidikan di Indonesia dengan Arab Saudi. Hal itu membuatnya agak miris.
Pernah suatu saat, Nunu pergi melakukan penelitian di sebuah desa. Di sana ia melihat ada SD yang hanya memiki tiga ruangan. Parahnya lagi, ia menemukan seorang anak kelas 3 SD yang butuh sekolah, namun ia dikeluarkan karena tak bisa membaca.
Dari kejadian itu, Nunu lalu membicarakan tentang kondisi pendidikan di Indonesia ini kepada dua rekannya, Rahmat Hidayat dan Rahmania Rahman. Setelah itu, sepakatlah mereka membuat sebuah sekolah yang tak biasa, yang mereka namai The Floating School.
The Floating School melaksanakan kegiatan pada tiga pulau di Pangkep tersebut mulai Februari 2017. Mereka melaksanakannya selama enam bulan. Selanjutnya, pada bulan ke tujuh digelar pameran hasil karya anak-anak.
Awal kunjungan Nunu di pulau tidak sertamerta langsung melakukan pembelajaran. Selama tiga minggu ia Nunu hanya mengajak bertemu dengan anak-anak di sana.
Nunu dan teman-temannya mencoba memperkenalkan The Floating School kepada anak-anak dengan cara yang menyenangkan. Misalnya dengan mengajak mereka untuk bermain.
Kelas pun disesuaikan dengan minat masing-masing anak. Nunu biasa mengajar setiap Minggu. Hari tersebut diambil karena mengingat waktu kosong anak-anak dan para fasilitator.
“Fasilitator kami kan juga memiliki pekerjaan. Anak-anak juga sekolah kalau hari biasa. Jadi kami setiap hari Minggu saja,” kata Nunu.
Saat ini, The Floating School memiliki 12 orang angota. Tiga orang sebagai inisiator, delapan orang fasilitator, dan satu orang volunteer yang khusus menangani sosial media. Namun dalam pelaksanaannya, The Floating School juga membuka pendaftaran bagi yang ingin menjadi volunteer.
“Dalam perjalanannya, kami sudah mengikutkan sekitar 70an orang untuk menjadi volunteer, terbuka untuk umum kok,” ujar Nunu.
Delapan orang yang menjadi fasilitator inipun tentu tak sembarangan. Nunu sengaja mencari para fasilitator yang handal dalam bidangnya masing-masing dalam menangani setiap kelas. Misalnya kelas fotografi, mereka menghadirkan fotografer. Kelas menulis, dihadirkan jurnalis, dan sebagainya.
Banyak cerita menarik yang Nunu alami selama melakukan pembelajaran di berbagai pulau. Ia mengatakan, suatu hari dirinya bertemu dengan seorang anak yang tertarik dengan kelas fotografi. Itu adalah pertama kalinya ia mengetahui kamera.
Saat ia akan menyalakannya, diapun pun terkaget akan cahaya kamera tersebut. Namun lama-lama anak itu malah semakin tertarik dengan dunia fotografi. Diapun menyampaikan kepada Nunu, bahwa dirinya tertarik akan fotografi karena ia ingin memotret pulaunya. Bahwa pulaunya sangat indah yang dapat pula dinikmati oleh masyarakat luas.
Hal menarik lainnya, dikatakan Nunu ketika ada sebuah pernikahan. Jika salah seorang di pulau tersebut ada yang menikah, maka semua warga di pulau itu akan libur dari segala aktifitas. Termasuk sekolah.
Pernah suatu saat ada acara pernikahan di pulau yang Nunu kunjungi. Anak-anak di sanapun tak mau bersekolah. Alasannya, karena mereka harus membantu orang yang sedang menikah tersebut. Harus pula begadang masyarakat di sana. Karena itulah mereka memilih libur.
Harapan besar Nunu adalah kepada para anak muda. Ia ingin anak muda sekarang harus bisa lebih berkarya, supaya pendidikan di Indonesia bisa lebih maju lagi.
“Anak-anak di pulau itu juga harapan bangsa. Mereka butuh banyak pengajaran. Mari yang lain juga harus bisa bergerak supaya kita bisa hidup lebih maju,” imbuh Nunu. (*/rus/b)

Comments

Social Media

Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top