NURDIN HALID-AZIZ QAHHAR MUDZAKKAR AGUS ARIFIN NU'MANG-TANRIBALI LAMO NURDIN ABDULLAH-ANDI SUDIRMAN SULAIMAN ICHSAN YASIN LIMPO-ANDI MUZAKKAR
Headline

Umrah Murah Berujung Sel

MAROS, BKM — Umrah murah berujung tipuan kembali terungkap. Korban diiming-imingi berangkat ke Tanah Suci hanya dengan membayar Rp10 juta. Ternyata itu hanyalah akal bulus.
Direktris Travel Nugrayanti Khairil Anwar Mappiase (NKM) kini harus merasakan dinginnya udara dalam sel tahanan. Ia dijebloskan ke dalam jeruji besi usai diciduk oleh aparat Satuan Reskrim Polres Maros, yang dipimpin Kasat Reskrim AKP Jufri Nasir.
Perempuan yang akrab disapa Nugra dan menjadikan namanya sebagai nama perusahaan itu diringkus di rumahnya Sunu Permai, Makassar. Dia dijemput secara paksa setelah beberapa kali mangkir dari panggilan penyidik.
Kasat Reskrim Polres Maros, AKP Jufri Natsir mengatakan, Nugrayanti diamankan atas laporan korban bernama Suhartati (47), warga Kabupaten Maros. Nugra diduga terlibat dalam kasus penipuan dan penggelapan dana calon jamaah umrah sebanyak 83 orang. Jika dikalikan dengan Rp10 juta per orang, berarti jumlah keseluruhannya mencapai Rp830 juta.
”Korban melapor karena tidak ada itikat baik dari tersangka untuk memberangkatkan calon jamaah umrah yang telah menyetor dananya. Pelapor merasa bertanggung jawab, sehingga ia terus berusaha bagaimana caranya agar calon jamaahnya bisa diberangkatkan,” jelas AKP Jufri Natsir, kemarin.
Kasat Reskrim mengurai kronologis kejadian. Berawal saat tersangka Nugrayanti bertemu dengan Suhartati pada salah satu kafe di kawasan Pantai Tak Berombak (PTB) Kota Maros. Ia lalu diminta untuk menjadi perpanjangan tangan guna mencari jamaah umrah sebanyak 100 orang. Biaya per orang hanya Rp10 juta.
”Kenapa biaya murah seperti itu? Karena tersangka Nugrahyanti memiliki nadzar untuk memberangkatkan 100 orang jamaah umrah. Nanti dia yang tambah kekurangan pembayarannya,” terang Kasat Reskrim lagi.
Setelah pertemuan itu, Suhartati yang berhasil mengumpulkan calon jamaah umrah pun melakukan transfer ke rekening Nugrayanti yang ada di Bank Mandiri.
”Harusnya bulan November mereka sudah berangkat. Namun tidak pernah direalisasikan. Suhartati merasa dirugikan, karena dia yang dimintai bertanggung jawab. Akhirnya dia melapor,” tandasnya.
Menindaklanjuti laporan tersebut, penyidik Reskrim Polres Maros kemudian melakukan pemeriksaan. Sedikitnya lima orang saksi dimintai keterangannya. Barang bukti berupa rekening koran transfer uang ke rekening tersangka juga telah diamankan.
Selanjutnya dilayangkan surat panggilan pertama kepada Nugrayanti. Tak diindahkan, panggilan kedua diberikan. Kali ini disertai dengan penjemputan paksa.
”Kita sudah layangkan surat panggilan untuk dimintai keterangannya. Namun Nugrahyanti tidak datang. Kami lalu berupaya mencarinya dan berhasil kami tangkap,” ujarnya.
Menurut AKP Jufri, pada tanggal 6 Januari penyidik menerbitkan surat penjemputan paksa. Selanjutnya dilakukan melakukan pencarian terhadap terlapor. Ia ditemukan di rumahnya Sunu Permai pukul 16.00 Wita. “Waktu itu dia sedang ada di rumahnya, dan kami langsung membawanya ke Polres Maros,” jelasnya.
Awalnya, sambung Jufri, dalam surat perintah status Nugrayanti masih sebagai saksi. Namun setelah dilakukan pemeriksaan, ditemukan ada indikasi penyimpangan. Statusnya pun kemudian ditingkatkan menjadi tersangka.
”Untuk penyelidikan dan penyidikan, tersangka telah kami amankan di sel polres,” kunci Kasat.

Total Setoran Rp880 Juta

Suhartati yang melaporkan kasus ini berbicara banyak ketika dihubungi BKM melalui telepon selular, Senin sore (8/1). Ia menjelaskan awal perkenalannya dengan Nugrayanti, hingga akhirnya tertipu dan melapor ke polisi.
Pertemuan Suhartati dengan Nugra berlangsung pada akhir Ramadhan tahun lalu. Ia diperkenalkan oleh seorang teman lamanya yang tidak pernah bertemu sekitar 20 tahun.
”Waktu itu di sebuah kafe kami bertemu. Bahkan sempat buka puasa bersama. Dia menyampaikan ada nazarnya untuk memberangkatkan umrah dengan tujuan sedekah. Pembayarannya Rp10 juta. Kalau ada kekurangannya, dia yang tanggung,” jelas Suhartati.
Namun, Suhartati tidak percaya begitu saja. Karena dia cukup tahu prosedur umrah dan biaya yang mesti dikeluarkan. Sempat pula Suhartati mempertanyakan legalitas biro umrah yang ditangani Nugrayanti. Dijawab bahwa belum ada.
”Dari penjelasannya, dia beli paket dari PT Alfakasa Mustika yang ada di Jakarta. Saya kemudian googling untuk mencari tahu. Biro umrah ini memang memiliki rating bagus,” terangnya.
Seminggu kemudian, Suhartati diajak untuk bertemu di Hotel Novotel, Makassar yang menjadi tempat berkantor Nugrayanti. Suhartanti bahkan kemudian diangkat menjadi manajer teknis.
Sebelum menjadi mitra dan mendapat jamaah, Suhartati diminta untuk memberi dana penyertaan berupa jaminan sebagai bentuk jalinan kerja sama. Saat itu Nugra meminta uang Rp100 juta. Namun Suhartati hanya mampu Rp50 juta.
”Jadi sebenarnya total yang saya setorkan Rp880 juta. Rp830 juta untuk calon jamaah, dan Rp50 juta uang saya untuk penyertaan,” bebernya.
Kemitraan antara keduanya dibuat dalam bentuk Memorandum of Understanding (MoU). Hanya saja, pada point tentang persentase fee yang akan diterima oleh Suhartati, tidak dicantumkan. Hanya berupa titik-titik dan dibiarkan kosong tak terisi.
”Waktu itu saya tidak terlalu mempermasalahkannya. Karena tujuannya bersedekah untuk ibadah bagi orang yang memiliki kemampuan terbatas untuk berumrah,” terangnya lagi.
Kecurigaan Suhartati kemudian timbul beberapa waktu kemudian. Ketika itu ia diangkat selaku manajer teknis. Pikirnya saat itu, selaku manajer yang mengurusi teknis, dirinya mesti berhubungan dengan provider dan maskapai. Namun dia tak pernah diberi akses. Juga tidak pernah ada transaksi ke maskapai dan provider. Termasuk visa.
”Itu artinya yang jamaan yang masuk tidak ada yang terpakai untuk proses pemberangkatan. Saya mulai pertanyakan ke Nugra. Dia janjikan bulan November untuk berangkatkan jamaah. Tapi tidak pernah direalisasikan. Saya minta uang jamaah dikembalikan kalau memang mereka tidak bisa diberangkatkan,” tandasnya.
Terakhir waktu yang dijanjikan adalah 17 November. Hari itu juga dilaksanakan pertemuan perwakilan jamaah di Hotel Clarion. Namun Nugra tidak hadir. Hanya mengutus pihak keluarga dan ibunya selaku komisaris. Namun tidak ada kata sepakat.
Suhartati masih terus berupaya agar ada pengembalian yang jamaah. Diwakili Ratna Sari Dewi, ibu Nugrayanti, ditandatangani perjanjian untuk pembayaran secara bertahap. Namun hanya Rp25 juta yang dikembalikan. Itu dilakukan dua kali. Masing-masing Rp15 juta dan Rp10 juta.
”Ada range waktu yang disepakati. Namun tidak pernah dipenuhi. Nugra tidak bisa lagi ditemui. Kalau saya telepon, selalui diblok. Karenanya saya lapor polisi,” terangnya.
Dari 83 jamaah calon umrah yang ditangani Suhartati, sebagian besar dari Maros. Ada juga dari Soppeng, Barru, Kendari dan Makassar.
”Saya sudah jelaskan secara jujur dan terbuka ke jamaah bahwa kita telah ditipu. Kalau memang mau berangkat umrah, mesti tambah lagi Rp10 juta. Saya yang tangani langsung bekerja sama dengan biro umrah lainnya. Alhamdulillah, sebagian besar dari mereka sudah berangkat,” imbuhnya.
Di bagian akhir wawancara, Suhartati menyampaikan terima kasihnya ke pihak kepolisian yang berhasil menangkap dan menahan Nugrayanti setelah sempat kabur ke mana-mana. ”Meski sebenarnya penangkapannya terlambat, namun saya berterima kasih ke polisi. Saya yakin mereka akan bekerja sesuai prosedur yang ditetapkan,” kuncinya. (ari/rus)


Comments

Social Media

Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top