Metro

Siap Mewakafkan Diri untuk Sang Komandan

H Idris Makkusissing, Sopir Gubernur Sulsel (2)

SEJAK awal ikut dengan Syahrul Yasin Limpo sebagai sopir, Haji Didi sudah berkomitmen untuk mewakafkan waktunya untuk orang nomor satu Sulsel tersebut.

Laporan: RAHMA AMRI

Jadwal atau waktu kerja yang tidak menentu sudah menjadi risiko tugasnya mengawal gubernur kemanapun akan pergi.
Dan, tugas itupun sudah sangat dimengerti keluarganya. Tidak kenal waktu libur, begitu tenaganya dibutuhkan, Haji Didi harus stand by setiap saat.
Apalagi saat perhelatan pilkada, dimana gubernur kembali maju untuk mencalonkan diri. Bisa sampai dua minggu dirinya tidak pulang ke rumah.
“Orang rumah, anak dan isteri saya sudah paham dengan tugas saya. Kadang harus membawa Bapak Gubernur ke daerah beberapa hari. Itu sudah dipahami mereka, ” ungkap lelaki yang terkenal ramah dan gemar mentraktir ini.
Loyalitas Haji Didi berbuah manis. Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo merupakan sosok yang cukup memperhatikan nasib dan kesejahteraan para bawahannya. Termasuk Haji Didi. Menapaki karir sebagai tenaga honorer, tahun 2007, Haji Didi diangkat sebagai pegawai negeri sipil (PNS) lingkup Pemprov Sulsel. Waktu itu, Syahrul Yasin Limpo mengawali jabatannya sebagai Gubernur Sulsel. Saat ini, dia tercatat sebagai staf atau pegawai di Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Sulsel.
Selain itu, Haji Didi dan isteri diberangkatkan ke Tanah Suci oleh gubernur sekitar 2014 lalu.
Dia menceritakan, waktu itu, dirinya sedang mengawal gubernur dan keluarga ke Singapura. Secara khusus, dia dipanggil isteri gubernur, drg Ayunsri.
“Waktu saya dipanggil, disana sudah ada Kepala Biro Kesra yang saat itu dijabat oleh Pak Syamsibar. Bu Gub katakan, tahun ini, tidak boleh tidak, harus berhaji, ” kenangnya.
Diuruslah rencananya berhaji oleh Kepala Biro Kesra dan Bagian Haji hingga apa yang dicita-citakan dengan isteri bisa ke Baitullah bisa terwujud.
Selama ikut dengan Gubernur, satu prinsip yang terus dijaga adalah kepercayaan. Karena jika itu bisa dijaga, takkan ada persoalan dalam melakoni rutinitas kerja.
Belasan tahun ikut dengan Gubernur, loyalitas terus terpatri dalam dirinya hingga saat ini. Walaupun saat ini, Sang Komandan sudah akan mengakhiri masa jabatannya, kesetiaan Haji Didi tidak berubah.
Dia malah berharap, jika memang gubernur akan berkarir di tingkat nasional, misalnya dipercaya menjadi menteri, atau pengurus partai di pusat dan karir lainnya, jika tenaganya masih dibutuhkan, dia tetap siap untuk mengabdi.
Doa-doa pun kerap panjatkan agar Sang Gubernur tetap sehat, sukses, dan bahagia.
Memang sejak 2001 tahun lalu, Haji Didi sudah tercatat sebagai sopir pribadi Syahrul. Waktu itu, gubernur masih menjabat sebagai Bupati Gowa. Artinya, lelaki berperawakan agak gemuk ini sudah mengabdi pada tugasnya selama 16 tahun. Bukan waktu yang singkat. Sebelum menjadi sopir Syahrul, dia dipercaya sebagai sopir drg Ayunsri Harahap yang tidak lain adalah isteri Syahrul.
” Awalnya, lima tahun jadi sopir ibu. Setelah itu, ibu yang usulkan ke Pak Syahrul agar saya bisa menjadi sopir beliau, ” ungkap Haji Didi dalam bincang-bincang santai bersama penulis di Kantor Gubernut Sulsel sesaat setelah mengantar gubernur ke sana.
Lelaki kelahiran Makassar, 6 Juli 1968 ini mengaku punya banyak pengalaman berharga selama menjadi sopir sang gubernur. Dia menjadi tahu seperti apa karakter Sang Kosong Satu Sulsel tersebut. Bagaimana memperlakukan para staf dan para pekerjanya.
Haji Didi bertutur, selama belasan tahun ikut dengan gubernur, tak pernah sekalipun ditegur atau dimarahi. Karena itu, bapak empat anak ini selalu berusaha untuk tidak berbuat kesalahan.
Lebih jauh dikemukakan jika Gubernur Syahrul itu orangnya disiplin, suka kerapihan dan kebersihan, serta selalu menularkan semangat dan jiwa positif kepada para bawahannya.
“Satu yang paling saya kenang, bapak mengajar kita bagaimana menjadi orang yang mandiri, ” ungkapnya.
Haji Didi termasuk orang yang tahu dan paham benar akan tugasnya. Selama menjadi sopir gubernur, tak pernah sekalipun dia menginjak area dalam rumah atasannya, jika memang tidak dipanggil.
“Belasan tahun ikut Bapak, saya paling menjaga posisi dan kapasitas saya. Kalau tidak dipanggil, saya paling tidak berani masuk ke dalam rumah. Paling di sekitar halaman rumah saja, ” ungkapnya. (rhm)


Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top