Headline

Agus Terus Bermanuver, Kubu NA Optimistis

MAKASSAR, BKM — Detik-detik terakhir, Wakil Gubernur Sulsel, Agus Arifin Nu’mang terus bermanuver mencari dukungan partai untuk bisa tampil di kontestasi Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulsel 2018. Dukungan Partai Gerindra dan PAN “telah” di tangan.
Manuver Agus tentu cukup mengganggu dukungan pasangan Nurdin Abdullah-Andi Sudirman Sulaiman (NA-ASS) yang telah deklarasi beberapa bulan lalu. Jika PAN lepas, maka pasangan NA-ASS kekurangan jumlah kursi parpol sesuai syarat.
Saat dukungan partai masih lengkap, jumlah kursi milik pasangan Prof Andalan (NA-ASS) sebanyak 31 kursi. Gerindra (11), PAN (9), PDIP (5) dan PKS (6). Namun Gerindra sudah pasti dicaplok Agus. Dengan demikian kursi dukungan milik NA tersisa 20. Jika PAN juga berbelok maka, kursi milik NA tinggal 11 dan tidak memenuhi syarat satu pasang memiliki 17 kursi. Sementara pasangan Agus-Tanri Bali Lamo yang telah direkomendasi Gerindra memenuhi syarat dengan mengantongi dukungan sebanyak 20 kursi.
Lantas bagaimana tanggapan partai pendukung Prof Andalan yang lain? Wakil Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDIP Sulsel, Muh Iqbal Arifin yang dimintai tanggapannya, Jumat (5/1) soal partai koalisi yang hengkang ditanggapi secara santai.
Iqbal yang juga Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) PDIP Sulsel menyatakan bahwa sikap Partai Gerinda yang mengalihkan dukungan tidak akan mengubah pendirian partainya. Malah dia menegaskan, partai besutan Megawati Sukarno Putri tetap mendukung pasangan NA-ASS.
Iqbal juga merasa yakin PAN tetap berada dalam koalisi Prof Andalan bersama PKS dan PDIP. Dia pun tidak ingin berandai-andai jika PAN bakal hengkang. “Kita masih ada PAN dan PKS. Kalau pun Partai Gerindra keluar, kami masih cukup dengan tiga partai,” jelas Iqbal.
Meski begitu, Iqbal menuturkan partainya tetap menunggu sikap PAN. “Kami tidak mau berandai-andai soal itu (PAN). Nanti kalau ada keputusan terbaru PAN, baru kami mau bersikap,” tandasnya.
Sementara itu, Ketua PDIP Sulsel Ridwan Andi Wittiri, juga masih optimistis pasangan Prof Andalan akan menjadi kontestan di Pilgub Sulsel. Meskipun kuatnya kabar PAN dan PKS akan ikut bersama Gerindra.
Bahkan ditanya mengenai apakah masih bertahan meski hanya PDIP sendiri?. “Iya dong kami bertahan,” tegas anggota DPR RI ini, kemarin.
Politisi PAN Sulsel Andi Edy Manaf menanggapi isu hengkangnya PAN dari barisan NA-ASS hanya soal dinamika di dunia politik. “Inilah yang disebut dinamika politik. Tapi percayalah jika PAN tetap berada di barisan NA-ASS,”ujar mantan legislator PAN Sulsel ini.
Edy yang pernah tercatat sebagai Wakil Ketua DPRD Bulukumba ini tidak yakin PAN selamanya bersama Gerindra. “Coba kita lihat Pilgub di daerah lain, apakah PAN tetap bersama Gerindra,” jelas mantan Ketua DPD PAN Bulukumba ini.
Sementara itu, pemerhati politik dari Indeks Politika Indoensia (IPI) Suwadi Idris Amir menilai jika NA-ASS tetap berpeluang maju di kontestasi Pilgub mendatang. “Saya memprediksi bila pasangan NA-ASS tetap ikut Pilgub mendatang,” ujar Suwadi.
Bahkan, tim media NA-ASS, Bunyamin Harun tetap memastikan jika pasangan dengan tagline Prof Andalan ini akan mendaftar di KPU pada 8 Januari mendatang.

Siapa Diuntungkan?

Dosen politik Unhas Dr Azwar Hasan mengemukakan bila jika Agus-TBL dapat tambahan parpol yang cukup dan NA-ASS tidak bisa maju, maka yang diuntungkan secara geopolitik adalah Punggawa-Macakka. “Tapi itu juga akan menjadi peluang NH-Aziz untuk makin kompetitif dengan Punggawa kalau dilihat dari peta survei. Sehingga siapa yang jadi pemenang akan sangat tergantung kerja-kerja paslon dan tim sukses didukung partai pendukung serta pengusung di lapangan,”ujar Azwar Hasan, Jumat (5/1).
Sementara itu, menurut dosen politik UIN Alauddin Dr Firdaus Muhammad bahwa semua yang menjadi lawan politik Bupati Bantaeng tersebut akan senang jika ia gagal maju. “Tentunya semua lawan politiknya senang karena NA memiliki kekuatan politik berdasar survei selama ini. Jika batal maju, tentu semua lawan politiknya berebut basis massa NA,”jelas Firdaus.
Akademisi Unismuh Makassar, Dr Luhur A Priyanto memberikan penilaian sedikit berbeda. Menurut Luhur, hal ini merupakan rivalitas antara Joko Widodo versus Prabowo Subianto jilid 2. “Saya kira Agus-TBL hanya perlu segera mengunci dukungan dari koalisi partai yang lain. Ini sudah pertaruhan koalisi nasional. Apakah partai-partai oposisi bisa mempecundangi koalisi pemerintah, yang berarti pula Prabowo mempecundangi Jokowi ? Kita tunggu langkah selanjutnya dari Agus-TBL dan NA-ASS.
Luhur menambahkan bila nasib NA-ASS sangat di tentukan kekuatan endorsement dari koalisi istana, yang pimpin Mentan Andi Amran Sulaiman. “Kalau gagal, berarti nasib NA-ASS sudah selesai, dan sekaligus merefleksikan kekuatan elektoral Jokowi juga sudah habis di Sulsel,” ucapnya.
Selain itu, Luhur mengungkapkan bila arah dukungan PAN, PPP dan juga Demokrat sangat menentukan. “Kalau berdasarkan pemetaan koalisi, maka partai-partai itu bukan termasuk barisan utama pendukung Pemerintah. Artinya, peluang Agus-TBL lebih terbuka merebut rekomendasi dari partai-partai tersebut. Secara geopolitik, suara selatan bisa didominasi IYL. Tetapi mesin birokrasi Pemprov juga akan mengalami fragmentasi dukungan, sebagian akan ke Agus,” tukasnya.
Pengamat politik dari Unibos Dr Arief Wicaksono melihat dinamika saat ini tidak akan mungkin Gerindra akan sendirian mengusung Agus-TBL. “Kalau rumus koalisi nasional digunakan, maka tentu Gerindra akan melakukan komunikasi dengan PAN dan PKS. Meskipun PKS telah menyerahkan form rekom B1 KWK kepada NA-ASS, tapi dinamika yang terjadi sangat cair hingga masa pendaftaran calon di KPU berakhir,” ujar Arief.
Demikian pula dengan PAN. Jika Gerindra tidak berhasil menggandeng PKS maka jumlah kursi dukungan akan tetap cukup jika PAN mengikuti. “Kalau rumus kepentingan politik lokal yang digunakan, maka kemungkinan PBB dan PKB juga bisa melengkapi dukungan parpol Agus-TBL. Mengenai siapa yang senang jika NA-ASS maju, saya tidak bisa berspekulasi lebih jauh,” terangnya.(rif)

Comments

Social Media

Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top