Metro

Perjuangan I Tolok Dipentaskan di Gedung Kesenian

MAKASSAR, BKM–Teater Studio Makassar menggelar kesenian teater dengan judul “I Tolok” di Gedung Kesenian Sociteit de Harmonie Makassar, Selasa (5/12) hingga Kamis (7/12) hari ini.
I Tolok merupakan produksi ke-12 Teater Studio Makassar yang merupakan karya dari Rahman Arge.
I Tolok Daeng Magassing sendiri adalah Salah satu nama melegenda di tengah masyarakat Sulsel pada tahun 1908. Bermarkas di Polongbangkeng, sekarang Kabupaten Takalar. Meski ia sebenarnya kelahiran Limbung, Gowa, yang mana sebelum Gowa dikuasai Belanda, I Tolok Daeng Magassing memiliki kedudukan sebagai pemimpin pasukan di Kerajaan Gowa.
Dalam pementasannya yang diiringi dengan musik sinrili, I Tolok beserta sahabat-sahabatnya adalah tokoh yang kerap melakukan aksi perampokan. Perampokan tersebut ditujukan kepada orang-orang kaya, yang kemudian harta rampokan tersebut akan dibagikan oleh I Tolok kepada masyarakat miskin.
Kisah heroik I Tolok Daeng Magassing inilah yang ditulis dalam naskah drama oleh Rahman Arge. Dipentaskan oleh Teater Studio Makassar di bawah arahan Sutradara Goenawan Monoharto. Menampilkan sejumlah aktor/aktris Makassar, diantaranya Fajar Baharuddin, Andi Naufah Patadjangi, Haeruddin, Ishakim, Ary Bayu Reksa, Andi Agung Iskandar, dan lainya. Sementara bertindak sebagai Pimpinan Produksi, Armin Mustamin Toputiri.
Sutradara teater, Goenawan Monoharto mengatakan jika dengan ditampilkannya pertunjukan ini, pertunjukkan teater di Kota Makassar bisa semakin maju. Ia juga mengatakan jika yang memerankan teater ini sekitar 60 persen adalah para pemeran baru dalam dunia teater.
“Kita tidak punya tujuan khusus ya, kita main teater saja. Sekitar 50 sampai 60 persen ini pemain baru, tapi mampu memerankan dengan baik. Kita hanya berharap pertumbuhan teater di Kota Makassar bisa semakin maju,” kata Goenawan.
Pemeran utama dalam teater ini, Fajar Baharuddin atau Bojan mengatakan jika ia sangat senang bisa memerankan I Tolok. Pria yang juga menjadi salah satu pemain film Ati Raja ini mengatakan jika I Tolok ini adalah panggung pertamanya di dunia teater. Ia mengatakan jika persiapan yang dilakukanpun hanya sekitar satu bulan. “Ini panggung pertama saya di dunia teater, setelah satu bulan latihan, Alhamdulillah hari ini bisa berjalan dengan baik,” kata Bojan.
Dalam pementasan I Tolok diceritakan, pada masa pemerintahan Gubernur A.J. Baron Quarles de Quarles (Mei 1908-Agustus 1910) dan Gubernur W.J. Coenen (Agustus 1910-Agustus 1913), I Tolok Magassing bersama pasukannya melakukan aksi perampokan secara berkala menggunakan senjata tajam. Aksi ini dianggap oleh pemerintahan kolonial Belanda sebagai bentuk pembangkangan, sehingga berulangkali dilakukan upaya penyergapan oleh kekuatan militer Belanda.
Tapi sebaliknya, jika pasukan I Tolok Daeng Magassing berhasil melakukan perampokan di wilayah pegunungan Lompobattang, garis pembatas pemerintah Makassar dan Bontahain (sekarang Kabupaten Bantaeng), masyarakat di wilayah Polongbangkeng justru menyambutnya bak pahlawan yang diangungkan dan dibangga-banggakan.
Tak lain karena sekitar 150 kali aksi perampokan dilakukan I Tolok bersama pasukannya pada periode April hingga Agustus 1915 di wilayah Afdeling Makassar, sasarannya adalah pada harta bangsawan pribumi pro kompeni, hingga pada sumber-sumber kas Distrik dan juga kas kompeni Belanda yang dipungut dari rakyat sebagai kewajiban pajak yang memberatkan. Bahkan hasil rampasan I Tolok, kembali dibagi-bagikan untuk mensejahterakan rakyat.
Itulah sebabnya sehingga I Tolok Daeng Magassing dikenal pula dengan istilah “pagora patampuloa” (kelompok perampok berjumlah 40 orang) seolah sosok “Robin Hood” versi sebagian masyarakat Sulsel, khususnya di wilayah ex Afdelling Makassar. Makanya, kisah I Tolok diabadikan dalam syair Sinrilik I Tolok Daeng Magassing yang melambangkan ketokohannya sebagai bandit yang menjadi bagian penting dari nilai-nilai pemihakan pada rakyat banyak.
Selain Sinrilik, sebuah nyanyian pengantar tidur untuk anak-anak di wilayah Polongbangkeng dan sekitarnya, memuji-muji keberanian I Tolok Daeng Magassing sebagai pahlawan pembela rakyat, berharap semoga anak-anak mereka kini, kelak mengikuti jejak I Tolok, “njari pabunduk pattuturang tau rewa” (semoga engkau anakku, juga kelak menjelma prajurit perang keturunan orang-orang pemberani).(nug/war/b)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top