Headline

Ramai-ramai Selisik Proyek Roboh

MAKASSAR, BKM — Dua institusi hukum di daerah ini ramai-ramai menyelisik proyek yang roboh di Stadion Barombong. Tim Kepolisian Daerah (Polda), Kejaksaan Tinggi dan Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Daerah (LPJKD) Sulsel mendatangi lokasi, Selasa (5/12).
Datang secara bergantian, mereka melihat langsung kondisi di lapangan. Terutama bagian tribun selatan yang roboh sesaat setelah dilakukan pengecoran, Sabtu akhir pekan lalu.
Direktur Direktorat Kriminal Khusus (Ditkrimsus) Polda Sulsel Kombes Pol Yudhiawan hadir pukul 08.30 Wita. Ia bersama Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Sulsel Kombes Pol Dicky Sondani. Ikut mendampingi Kepala Bidang Perencanaan dan Prestasi Dinas Pendidikan dan Olahraga Sulsel Muchlis Mallajareng.
Saat di lokasi, tim Polda Sulsel melihat dari dekat konstruksi bangunan pada area tribun bagian selatan yang mengalami kerusakan parah. Ditkrimsus Polda masih mendalami penyebab peristiwa robohnya proyek ini, dan akan melaporkan perkembangannya ke Mabes Polri.
”Kami sengaja turun langsung melakukan pemantauan lokasi. Mabes Polri memberi atensi atas kejadian ini, untuk segera dilakukan penyelikan bersama,” kata Kombes Yudhiawan saat di lokasi.
Menurut perwira tiga melati di pundaknya ini, dalam proses penyelidikan nantinya akan melibatkan tim ahli. Untuk saat ini, pihaknya masih melakukan pendalaman guna mengetahui penyebab pasti ambruknya bangunan yang usai dicor.
”Apakah karena konstruksinya yang bermasalah atau ada penyebab lain, itu yang sementara kita dalami,” ujarnya.
Karenanya, tambah Kombes Yudhiawan, pihaknya akan melakukan pengawasan terhadap proyek ini hingga batas waktu yang telah ditentukan.
Kabid Humas Kombes Pol Dicky Sondani menambahkan, saat ini proyek pembangunan stadion masih dalam tahap pekerjaan. Belum sampai batas waktu berdasarkan lelang.
”Informasi yang kami terima dari pihak pemprov, proyek pembangunan sudah terselesaikan sampai 70 persen. Itu laporan dari pihak perusahaan. Namun dengan ambruknya tribun stadion, kami dari kepolisian melakukan penyelidikan dengan melibatkan tim ahli. Apakah benar proyek ini sudah rampung 70 persen atau belum. Kalau memang nantinya ada indikasi penyimpangan, kita akan proses,” tandas Dicky.
Muhlis Mallajareng yang juga PPK (Pejabat Pembuat Komitmen) pada proyek Stadion Barombong, mengapresiasi kedatangan pihak kepolisian. Ia menyebut ini sebagai bagian dari pengawasan atas megaproyek yang tengah berlangsung.
Di bagian lain penjelasannya, Muhlis mengaku telah memberikan teguran ke pihak pekerja untuk berhati-hati. Juga mendorong pengawas serta pemborong agar betul-betul melakukan pengawasan dengan baik.

TP4D dan Tim LPJKD

Pada hari yang sama di tempat berbeda, Tim Pengawal Pengaman Pemerintah dan Pembangunan Daerah (TP4D) Kejati Sulsel menghadirkan pihak-pihak yang terkait proyek Stadion Barombong. Masing-masing Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Provinsi Sulsel selaku Kuasa Pengguna Anggaran (KPA), Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK), konsultan pengawas proyek dari PT Kanta Karya Utama dan rekanan PT Subur Sejahtera.
Mereka dimintai penjelasan terkait progres pelaksanaan proyek. Termasuk permasalahan yang timbul hingga berakibat pada ambruknya tribun bagian selatan.
Ketua TP4D Kejati Sulsel melalui Kepala Seksi Penerangan Hukum Salahuddin, mengutip penjelasan pelaksana proyek. Dikatakan, ambruknya tribun stadion karena faktor cuaca.
Menyikapi hal itu, TP4D meminta kepada pihak-pihak yang terlibat untuk segera memperbaiki yang sudah rusak, serta bertanggung jawab untuk menyelesaikan pengerjaan proyek.
“Kita minta agar proyek tersebut bisa selesai sesuai dengan jadwal yang tertuang dalam kontrak kerja,” tandasnya.
Usai pertemuan di Kejati, TP4D mendatangi lokasi proyek. Hampir bersamaan, datang pula Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Daerah (LPJKD) Sulsel.
Wakil Ketua LPJKD Sulsel Hasbi Ali, mengatakan setelah mengamati bangunan yang roboh, ditemukan adanya fakta kesalahan metode dalam konstruksi pengerjaan beton.
“Untuk Beton 300, secara aturan konstruksi harus jenis batu pecahan. Bukan batu kerikil licin,” terangnya.
Selain itu, ada juga ditemukan adanya kesalahan pada titik sambungan rangka beton. Seharusnya sanbungan besi beton tidak boleh disambung pada bagian tengah. Melainkan harus disambung melewati titik nol baru besinya bisa sambung. ”Bukan sebelum titik nolnya,” tandasnya.
Parahnya lagi, balok yang digunakan ternyata sudah lapuk. Kondisi ini akan mempengaruhi struktur konstruksi, serta kekuatan bangunan yang sementara dikerjakan.
”Tim LPJKD juga menemukan tidak adanya tenaga enggineering. Padahal dalam penawaran kontrak ada tenaga enggineering yang dimasukkan. Tapi ini masih peninjauan. Belum bisa kita simpulkan. Hasilnya baru bisa diketahui satu minggu setelah ini,” tandasnya. (ish-mat-nug/rus)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top